Pasar Saham Tengah Tidak Stabil, Saham Dividen Pilihan Tepat Bagi Pemula

Jumat, 03 Juli 2026 | 10:36:55 WIB
Ilustrasi pergerakan saham (FOTO: NET)

JAKARTA - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang fluktuatif belakangan ini kembali membuktikan bahwa pasar saham bergerak dalam siklus yang sulit ditebak.

Direktur Retail Markets & Technology BNI Sekuritas, Teddy Wishadi, menyatakan bahwa di tengah pasar yang bergejolak, saham dividen dapat menjadi pilihan yang lebih bersahabat bagi investor pemula.

“Dividen adalah bagian laba perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham. Jadi investor tidak hanya bergantung pada kenaikan harga saham, tetapi juga mendapatkan penghasilan tunai secara berkala,” ujar Teddy dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (3/7/2026).

Ia menambahkan, sejumlah saham dividen mampu memberikan imbal hasil di kisaran 3–6 persen per tahun, sehingga investor tetap bisa mendapat keuntungan meski pergerakan harga saham stagnan.

Dengan demikian, saham dividen cenderung lebih mudah dimengerti karena tidak semata-mata bergantung pada pergerakan harga, sekaligus membantu mengurangi beban mental investor saat pasar sedang fluktuatif.

Namun, Teddy menegaskan bahwa sifat saham dividen tidaklah sama di semua perusahaan.

“Ada emiten yang memiliki pembagian dividen relatif stabil karena rekam jejak bisnis yang solid serta arus kas yang sehat. Contohnya seperti BBNI, BBCA, BMRI, dan BBRI di sektor perbankan, serta Indofood CBP Sukses Makmur di sektor konsumsi,” jelas dia.

Sementara itu, perusahaan sektor komoditas seperti Bukit Asam (PTBA) dan Indo Tambangraya Megah (ITMG) cenderung memiliki riwayat pembagian dividen yang fluktuatif karena terpengaruh siklus harga komoditas.

Telkom Indonesia (TLKM) berada di posisi cukup seimbang dengan catatan pembagian dividen yang konsisten serta memiliki potensi pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang.

Teddy juga mengingatkan investor pemula untuk memahami alur mekanisme pembagian dividen, yakni cum date, ex-date, recording date, dan payment date.

Cum date merupakan hari terakhir bagi investor untuk membeli saham agar tetap berhak menerima dividen yang akan dibagikan.

Setelah masuk masa ex-date, investor yang baru melakukan pembelian saham tidak lagi berhak memperoleh dividen tersebut.

Recording date adalah tanggal pencatatan pemegang saham yang berhak, sementara payment date merupakan tanggal pembagian dividen kepada investor yang berhak menerima.

Ia menambahkan, musim dividen di pasar modal Indonesia umumnya terjadi setelah Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang banyak diselenggarakan antara bulan Maret hingga Juni.

Periode April sampai Juli biasanya menjadi waktu di mana banyak emiten mengumumkan serta mendistribusikan dividen kepada pemegang saham.

Dalam praktiknya, Teddy menyebutkan bahwa investor umumnya menerapkan dua strategi sederhana dalam investasi saham dividen, yaitu buy and hold pada saham dengan fundamental baik, serta melakukan reinvestasi dividen untuk menambah kepemilikan saham secara bertahap.

“Pendekatan ini membuat investor tidak terlalu bergantung pada pergerakan jangka pendek IHSG, sehingga lebih fokus pada kepemilikan jangka panjang,” ujar Teddy.

Menurut Teddy, saham dividen tidak menghilangkan risiko investasi, tetapi dapat membantu investor dalam menyusun portofolio yang lebih seimbang melalui kombinasi potensi capital gain serta arus kas dari dividen.

Terkini