Kisah Hj Siti Srimulati Bangun Jalan dan Rumah Singgah di Kebumen

Selasa, 07 Juli 2026 | 17:49:01 WIB
Hj Siti Sudar. (FOTO:NET)

KEBUMEN - Wujud kepedulian Hj Siti Srimulati kepada kesejahteraan publik tidak cuma berhenti pada pembangunan Jalan Siti Sudar sepanjang kurang lebih 2,5 kilometer serta dua jembatan di Dukuh Grigak, Desa Plumbon, Kecamatan Karangsambung, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Pada bagian ujung jalan baru itu, wanita lanjut usia tersebut turut memfasilitasi sebuah bangunan rumah singgah yang dapat dipergunakan secara cuma-cuma oleh masyarakat maupun pelancong yang tengah lewat.

Bahkan, kaum petani yang melintas sehabis letih bekerja diperbolehkan bebas melepas lelah di dalam bangunan tersebut.

Rumah singgah itu sengaja didirikan sebagai sarana sederhana guna beristirahat bagi siapa pun sehabis menempuh perjalanan menuju area pertanian ataupun kawasan perbukitan.

Keberadaan sarana ini menyempurnakan pembangunan infrastruktur jalan tembusan hutan yang sebelumnya telah berhasil diwujudkan memakai dana pribadi dari keluarga besar H Sudar tersebut.

Ketika dijumpai di lokasi, Siti Srimulati menerangkan bahwa bangunan tersebut bukan merupakan sebuah rumah hunian yang mewah seperti yang jamak disangka oleh khalayak.

Pada mulanya, lokasi tempat berdirinya bangunan itu ialah area perkebunan biasa yang ia beli beberapa tahun yang lalu.

Sesudah dibeli, ia sempat mempergunakan lahan itu guna memelihara beberapa ekor kambing.

Namun, hewan ternak kepunyaannya kelak terserang wabah penyakit sehingga sebagian di antaranya mati dan sisanya terpaksa langsung dilego.

"Ini bukan rumah ya. Jadi saya tidak bikin rumah ceritanya. Ini dulu saya beli bukan rumah, kebun. Terus taruh tempat itu tadi apa? Kambing. Kambing, tapi ternyata kambingnya tidak cocok di sini dan terlalu jauh juga. Dulu kan jalan kaki. Terlalu jauh ya di sini ditinggal. Kira-kira biar aman kan tidak ada yang ambil gitu ya," ujarnya.

Ia mengisahkan, awal mulanya lahan itu memang dikhususkan bagi sektor peternakan.

Akan tetapi, berhubung akses transportasi menuju ke lokasi pada saat itu masih teramat sulit dan cuma dapat dilewati dengan berjalan kaki, lini usaha tersebut akhirnya tidak dapat bergulir sesuai dengan ekspektasi.

"Ternyata ya Tuhan tidak menghendaki itu ya. Kami jual sebelum mati semua," katanya.

Sesudah seluruh rangkaian proyek pembangunan Jalan Siti Sudar selesai digarap, bangunan yang berdiri di atas lahan perkebunan itu lantas diubah fungsinya serta ditata dengan rapi sebagai tempat beristirahat yang nyaman untuk warga.

Berdasarkan penuturan Siti Srimulati, rumah singgah itu sama sekali tidak didirikan guna keperluan eksklusif pribadi ataupun internal keluarga besarnya sendiri, melainkan murni dijadikan sarana umum yang bebas didatangi oleh siapa saja tanpa membedakan.

"Ya buat apa ya, buat berteduh aja. Rumah singgah ya, rumah singgah. Kalau ada yang pengen tahu ke sini, duduk di itu kan. Ya bisa salat, numpang di sini ya. Ada airnya kan," ujarnya.

Ia menekankan, siapa saja diperkenankan guna memanfaatkan segenap sarana di dalam rumah singgah itu secara gratis tanpa ditarik biaya sepeser pun.

"Ya rumah keluarga ya, nggak. Rumah umum ya, iya. Wong di sini pe-ibaratnya kan sedesa keluarga semuanya," katanya.

Tatkala kembali dikonfirmasi apakah warga umum yang berasal dari luar daerah sungguh-sungguh diizinkan untuk mampir, wanita yang menginjak usia 72 tahun ini memberikan respons yang amat hangat.

"Boleh. Bolehlah, bisa salat dan sudah kami sediakan air di luar sini," kata Hj Siti Srimulati sembari menunjukkan pipa aliran air bersih yang mengalir lancar.

Keberadaan rumah singgah itu diharapkan mampu menjadi tempat melepas lelah yang layak bagi kaum petani yang menggarap lahan di wilayah sekitar, maupun bagi para tamu yang datang dari jauh demi sekadar menyaksikan keindahan pembangunan Jalan Siti Sudar.

Sebelumnya dikabarkan, keluarga besar H Sudar membangun Jalan Siti Sudar sepanjang kisaran 2.500 meter komplet dengan dua buah jembatan permanen memakai dana dari tabungan pribadi.

Fasilitas jalan tembus area perbukitan itu bahkan telah diresmikan secara simbolis oleh Bupati Kebumen, Lilis Nuryani, pada Sabtu (4/7/2026).

Pembangunan akses infrastruktur anyar itu terbukti berhasil mengakhiri ketertinggalan kawasan pertanian desa yang selama belasan tahun belakangan ini amat sulit dicapai oleh kendaraan bermotor.

Penduduk yang sebelumnya wajib berjalan kaki melintasi medan terjal ataupun memutari rute yang relatif jauh, kini dapat menjangkau lahan pertanian mereka secara jauh lebih ringkas dan aman.

Menurut Siti Srimulati, segenap ikhtiar serta pengorbanan materi yang telah ia kucurkan tersebut murni didasari atas keinginan tulus supaya masyarakat kecil dapat memperoleh kemudahan dalam memutar roda ekonomi sehari-hari.

"Semoga diberikan kemudahan kelancaran bagi semua orang yang ke sini. Saya ingin membantu mereka bahwa naik ke sini maka meningkatlah pendapatan ya. Karena ini sudah tidak kayak dulu lagi. Jalan mesti susah-susah sekali. Sekarang 10 menit juga sudah nyampe. Bisa bawa hasil bumi," katanya.

Di samping berhasil membuka akses urat nadi perekonomian warga lewat pembangunan jalan, kehadiran bangunan rumah singgah gratis ini menjadi cerminan kepedulian nyata lainnya yang hendak ia persembahkan bagi tanah kelahiran sang suami.

Melalui ketersediaan tempat guna bernaung, menunaikan ibadah shalat, serta sekadar melepas penat, ia berharap siapa saja yang berkunjung ke wilayah perbukitan Grigak dapat merasa semakin nyaman dan terbantu.

Terkini