MASHHAD - Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei telah dimakamkan di kompleks suci Imam Reza di Mashhad, setelah rangkaian prosesi pemakaman selama sepekan yang dihadiri oleh lautan pelayat di Iran maupun Irak.
Prosesi pemakaman ini berlangsung di saat Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan pasca-gencatan senjata yang sempat berlaku sebelumnya.
Sementara itu, putra sekaligus sosok penerus Khamenei, Mojtaba Khamenei, masih belum terlihat sama sekali di hadapan publik semenjak perang tersebut dimulai.
Pada hari Kamis (9/7/2026), jenazah dari Khamenei diarak secara perlahan dengan menggunakan truk melintasi jalanan yang dipenuhi oleh massa di Mashhad menuju kompleks makam Imam Reza, yang merupakan salah satu situs paling suci untuk umat Muslim Syiah, menurut laporan dari Reuters.
Para ulama yang berjubah putih tampak berjalan di sisi kendaraan, sedangkan ribuan pelayat dengan pakaian hitam mengikuti dari arah belakang sambil mengibarkan bendera Iran, membawa foto Khamenei, serta mengusung poster yang bertuliskan slogan-slogan revolusi.
Acara pemakaman tersebut menjadi penutup dari rangkaian upacara penghormatan terakhir yang digelar selama sepekan penuh di wilayah Iran dan Irak.
Pihak kepemimpinan ulama Republik Islam mendorong masyarakat untuk menghadiri prosesi itu sebagai sebuah simbol kekuatan serta semangat ideologi negara mereka.
Saat waktu senja tiba, halaman kompleks makam dipenuhi oleh para pelayat yang meneriakkan slogan "Matilah Amerika" di tengah-tengah lantunan ratapan duka serta musik pengiring prosesi.
Sebuah helikopter setelah itu mengangkat peti jenazah Khamenei dari bagian atas truk guna menempuh bagian akhir perjalanan menuju ke lokasi pemakaman di dalam kompleks suci tersebut.
Putra sulung dari Khamenei, Mostafa Khamenei, bertindak memimpin jalannya salat jenazah.
Setelah prosesi itu selesai, peti yang diselimuti oleh bendera Iran dibawa masuk ke dalam area kompleks oleh para pelayat pria.
Rekaman video memperlihatkan ada banyak pelayat yang menyalakan lilin, mengulurkan tangan mereka ke arah peti jenazah, dan juga menangis.
Kantor berita resmi IRNA melaporkan pada hari Jumat dini hari bahwa proses pemakaman Khamenei bersama empat anggota keluarganya yang ikut meninggal dalam serangan gabungan AS dan Israel pada tanggal 28 Februari lalu telah selesai dilaksanakan.
Sebelum akhirnya dimakamkan di kota Mashhad, jenazah Khamenei terlebih dahulu diarak di kota Teheran, kota suci Qom, serta dua kota suci Syiah di wilayah Irak, yaitu Najaf dan Karbala.
Di setiap lokasi tersebut, ribuan warga tampak memadati area jalan-jalan untuk mengikuti jalannya prosesi berkabung yang diiringi oleh nyanyian ratapan khas Syiah serta slogan-slogan revolusi.
Keberadaan dari sosok Mojtaba sampai saat ini masih menjadi sebuah tanda tanya besar.
Ia sendiri telah ditetapkan sebagai pemimpin tertinggi Iran oleh pihak majelis ulama pada awal Maret, seminggu setelah wafatnya sang ayah, namun ia belum pernah tampil sama sekali di depan publik semenjak perang tersebut dimulai.
Reuters melaporkan bahwa Mojtaba mengalami luka yang serius dalam serangan pada tanggal 28 Februari, termasuk menderita cedera pada bagian wajah serta anggota tubuhnya.
Sumber-sumber senior yang berada di Teheran mengatakan, kondisi kesehatannya terus membaik, tetapi belum cukup pulih sepenuhnya untuk melakukan penampilan di hadapan publik.
Aparat keamanan dari pihak Iran juga disebut sengaja membatasi kemunculannya karena merasa khawatir akan kemungkinan adanya serangan baru dari pihak Amerika Serikat.
Prosesi pemakaman ini sekaligus menandai berakhirnya masa hampir empat dekade kepemimpinan dari Khamenei yang menjabat sebagai pemimpin tertinggi semenjak tahun 1989.
Selama masa pemerintahannya tersebut, ia memperkuat kendali di bidang politik, ekonomi, dan militer di bawah kantor pemimpin tertinggi dengan dukungan penuh dari Garda Revolusi Iran (IRGC), yang kini dinilai menjadi kekuatan paling berpengaruh di dalam politik serta strategi negara sekaligus menjadi pendukung utama bagi kepemimpinan Mojtaba Khamenei.