ISSP

ISSP Siapkan Capex Rp 400 Miliar, Tuntaskan Unit 7 dan Depo Karawang

ISSP Siapkan Capex Rp 400 Miliar, Tuntaskan Unit 7 dan Depo Karawang
ISSP Siapkan Capex Rp 400 Miliar, Tuntaskan Unit 7 dan Depo Karawang

JAKARTA - PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) menatap 2026 sebagai tahun strategis dalam ekspansi kapasitas produksi dengan menyiapkan belanja modal (capex) sebesar Rp 400 miliar. 

Fokus utama perusahaan pipa baja ini adalah menyelesaikan Unit 7 di Gresik, Jawa Timur, sekaligus memperkuat jaringan distribusi melalui pembangunan fasilitas depo baru di Karawang. Langkah ini diharapkan meningkatkan efisiensi operasional, memperluas pangsa pasar, dan mendongkrak kinerja perusahaan di tengah tantangan fluktuasi harga baja global.

ISSP mengalokasikan sekitar Rp 300 miliar dari total capex untuk menyelesaikan proyek Unit 7, sebuah fasilitas produksi modern yang dilengkapi dua mesin Electric Resistance Welded (ERW) berteknologi tinggi. 

Mesin ini mencakup diameter kecil hingga 8 inci dengan kapasitas 20.000 ton per bulan, serta diameter besar hingga 24 inci dengan kapasitas 50.000 ton per bulan. Menurut Johanes W. Edward, Chief Strategy & Business Development Officer Spindo, mesin diameter kecil sudah siap memasuki tahap pemasangan, sehingga pengoperasian Unit 7 dapat dilakukan secara bertahap sepanjang semester pertama dan kedua 2026. Dampak penuh dari operasional Unit 7 diproyeksikan baru akan terlihat pada 2027.

“Investasi Unit 7 secara keseluruhan mencapai Rp 1,3 triliun dan dibiayai dari kas internal melalui skema multi-years,” ungkap Johanes. Pada tahun lalu, capex ISSP mencapai Rp 700 miliar, sementara alokasi 2026 sebagian besar diarahkan untuk Unit 7. Tahun depan, ISSP juga masih akan menyuntikkan Rp 80 miliar untuk kelanjutan proyek serta pengembangan fasilitas lain.

Selain ekspansi kapasitas produksi, ISSP menyiapkan Depo Karawang senilai sekitar Rp 100 miliar. Fasilitas ini akan memperkuat distribusi di wilayah Jakarta dan Jawa Barat, sekaligus meningkatkan efisiensi logistik. Pembangunan depo ditargetkan rampung dan mulai beroperasi pada kuartal kedua hingga ketiga 2026. Johanes menekankan bahwa langkah ini sejalan dengan strategi perusahaan memperluas jangkauan pasar domestik dan memperkuat daya saing.

Dalam hal kinerja, ISSP membidik pertumbuhan konservatif, dengan target volume penjualan dan laba bersih naik 5%–10% dibandingkan 2025. Nilai penjualan akan sangat dipengaruhi harga jual rata-rata (Average Selling Price/ASP) yang terkait fluktuasi harga baja dunia. Johanes berharap harga baja relatif stabil, walaupun potensi fluktuasi 10%–20% tetap ada.

“Industri baja pada 2026 masih menjanjikan, namun tetap ada tantangan, terutama dari sisi harga,” kata Johanes. Meskipun begitu, sejumlah proyek potensial diproyeksikan dapat meningkatkan penjualan ISSP. Fokus perusahaan tetap pada sektor infrastruktur, konstruksi, tambang, otomotif, serta minyak dan gas.

Strategi peningkatan kinerja tahun ini akan menekankan pendekatan yang lebih intensif kepada pelanggan, meningkatkan kunjungan ke lapangan, serta memperkuat branding melalui media sosial. Dengan kombinasi ekspansi kapasitas produksi, penguatan distribusi, dan strategi pemasaran yang lebih agresif, ISSP optimistis dapat mengamankan pertumbuhan yang stabil meskipun menghadapi tantangan pasar global.

Pengoperasian Unit 7 yang modern diharapkan tidak hanya menambah kapasitas produksi, tetapi juga memberikan fleksibilitas produksi yang lebih tinggi. Mesin ERW berteknologi tinggi memungkinkan ISSP memproduksi pipa dengan diameter beragam untuk memenuhi kebutuhan proyek infrastruktur besar maupun industri skala menengah. Kapasitas produksi yang meningkat juga memberi ruang bagi perusahaan untuk menjangkau proyek-proyek baru, baik nasional maupun regional, sehingga kontribusi terhadap pertumbuhan industri pipa baja semakin nyata.

Di sisi logistik, Depo Karawang menjadi kunci untuk mempercepat distribusi produk dan mengurangi biaya operasional. Dengan fasilitas ini, ISSP mampu menjaga kualitas layanan kepada pelanggan di wilayah Jabodetabek dan sekitarnya. Hal ini sejalan dengan fokus perusahaan menjadikan pelayanan yang efisien dan andal sebagai keunggulan kompetitif di industri pipa baja.

Seiring dengan ekspansi dan penguatan distribusi, ISSP tetap memperhatikan aspek sustainability dan efisiensi operasional. Penggunaan teknologi mesin modern di Unit 7 diharapkan menurunkan limbah produksi dan meningkatkan pemakaian energi yang lebih efisien. Perusahaan juga terus memantau tren pasar dan harga baja dunia agar strategi penjualan dan produksi dapat disesuaikan secara fleksibel.

Dengan total capex Rp 400 miliar pada 2026, ISSP optimistis dapat menuntaskan Unit 7, memperkuat fasilitas depo Karawang, dan mendorong pertumbuhan volume serta laba bersih di tengah dinamika pasar. Langkah strategis ini sekaligus memperkuat posisi ISSP sebagai salah satu pemain utama industri pipa baja nasional yang siap menghadapi tantangan tahun depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index