JAKARTA – MAN 1 Pangandaran menggelar Pentas Seni siswa kelas XII sebagai perpaduan ujian praktik SBK dan peringatan Hari Kartini dengan penampilan budaya kreatif.
Halaman madrasah berubah menjadi panggung ekspresi saat ratusan siswa mengenakan pakaian adat dan menampilkan berbagai cabang seni daerah. Kegiatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan metode penilaian autentik untuk mengukur kompetensi lulusan dalam bidang seni budaya.
Kepala MAN 1 Pangandaran memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif guru pembimbing yang mampu mengemas ujian formal menjadi pertunjukan yang menghibur. Sinergi antara nilai akademis dan pelestarian budaya lokal menjadi poin utama dalam pelaksanaan agenda besar di penghujung tahun ajaran ini.
"Kegiatan ini merupakan kolaborasi yang sangat apik antara pemenuhan tugas akademik siswa yaitu ujian praktik SBK dengan peringatan hari besar nasional yaitu Hari Kartini," ungkap salah satu pihak madrasah dalam keterangannya.
Langkah ini diambil untuk memberikan pengalaman berkesan bagi siswa kelas XII sebelum mereka meninggalkan bangku madrasah menuju jenjang pendidikan tinggi. Selain aspek penilaian, mentalitas siswa saat tampil di depan publik menjadi indikator keberhasilan dalam pembentukan karakter percaya diri.
Pihak penyelenggara menegaskan bahwa esensi dari kegiatan ini adalah meneladani semangat perjuangan Kartini dalam konteks pendidikan modern yang kreatif dan inovatif. Para siswa dituntut mampu mengorganisasi sebuah pertunjukan secara mandiri mulai dari konsep hingga eksekusi di atas panggung.
"Kami berharap melalui kegiatan ini siswa tidak hanya sekadar menggugurkan kewajiban ujian praktik saja namun juga dapat mengambil nilai-nilai luhur dari perjuangan Ibu Kartini," tambah pihak penyelenggara kegiatan tersebut.
Berdasarkan data lapangan, antusiasme peserta terlihat dari keberagaman penampilan mulai dari tari tradisional, teater, hingga ansambel musik yang dipersiapkan selama beberapa pekan terakhir. Penonton yang terdiri dari adik kelas dan tenaga pendidik turut memberikan dukungan moral bagi para peserta ujian.
Integrasi kurikulum seperti ini dinilai efektif dalam mengurangi beban psikologis siswa saat menghadapi rangkaian ujian akhir yang padat. Pola evaluasi berbasis performa terbukti mampu memicu motivasi belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan ujian tertulis yang bersifat monoton.
Acara ditutup dengan sesi dokumentasi bersama yang menggambarkan kehangatan keluarga besar madrasah dalam merayakan kelulusan melalui jalur seni. Ke depan, model ujian praktik kolaboratif seperti ini direncanakan akan terus dikembangkan dengan skala yang lebih luas dan variatif.