BEM UTM Kritik Rektor Soal Rencana Kelola Dapur Makan Bergizi Gratis

BEM UTM Kritik Rektor Soal Rencana Kelola Dapur Makan Bergizi Gratis
BEM UTM. (Sumber: NET)

BANGKALAN - Kesiapan Universitas Trunojoyo Madura (UTM) untuk mengelola dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) menuai kritik dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) kampus tersebut.

Presiden Mahasiswa UTM Mahrus Ali menilai pernyataan Rektor UTM Prof Safi’ terkait kesiapan kampus mengelola dapur MBG menimbulkan kontroversi di kalangan mahasiswa.

“Secara fundamental, kampus sebagai institusi pendidikan harus mampu menjadi ruang lahirnya ilmu pengetahuan, pusat pembentukan karakter, serta benteng moral dan intelektual bagi lahirnya generasi yang kritis, progresif, dan berintegritas,” kata Mahrus, Selasa (12/5/2026).

Menurut dia, dalam kerangka Tridharma perguruan tinggi, penguatan fasilitas pendidikan dan pelayanan akademik seharusnya menjadi prioritas utama kampus.

Namun, ia menilai masih banyak persoalan mendasar di lingkungan UTM yang dirasakan langsung oleh mahasiswa.

“Tapi faktanya saat ini di UTM masih banyak persoalan mendasar berkaitan dengan pelayanan yang dirasakan langsung oleh mahasiswa, sehingga hal ini menjadi kontradiktif dengan pernyataan kesiapan UTM dalam mengelola dapur MBG,” ungkapnya.

Mahrus menilai pengelolaan program MBG membutuhkan tata kelola yang matang, pengawasan ketat, serta integritas kelembagaan yang kuat.

Menurut dia, ketika kampus menyatakan siap terlibat dalam program tersebut, maka kepercayaan publik terhadap dunia akademik juga ikut dipertaruhkan.

“Jika pengelolaan program lebih dominan pada aspek administratif dan politis daripada akademik dan pemberdayaan, maka nilai pengabdian berisiko kehilangan makna filosofisnya,” tuturnya.

Ia juga menyoroti penggunaan anggaran besar dalam program MBG yang dinilai perlu diawasi secara ketat agar tidak bergeser menjadi instrumen politik berbasis popularitas.

“Jadi, negara sedang membangun sistem kesejahteraan, atau sedang membangun instrumen politik berbasis popularitas,” katanya.

Menurut Mahrus, setiap penggunaan uang publik harus mengedepankan prinsip good governance, seperti efektivitas, efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas.

Mahrus mengatakan kampus seharusnya lebih fokus membenahi fasilitas dan pelayanan mahasiswa sebagai tanggung jawab utama institusi pendidikan.

“Dengan banyaknya persoalan itu, kampus seharusnya fokus terhadap pembenahan fasilitas dan pelayanan terhadap mahasiswa yang merupakan tanggung jawab besar sebagai institusi pendidikan,” ujarnya.

“Jika persoalan yang ada dalam internal kampus saja masih belum diselesaikan, bagaimana kampus bisa menjamin kredibilitas dan akuntabilitas dalam pengelolaan program MBG,” tambahnya.

Sebelumnya, Rektor UTM Prof Safi’ menyatakan siap mengelola dapur MBG apabila diberi tugas oleh Badan Gizi Nasional (BGN).

Menurut dia, pelibatan kampus dalam program tersebut penting agar pelaksanaan MBG tepat sasaran.

“Saya kira memang penting untuk melibatkan kampus dalam pengelolaan dan pengawalan program MBG,” kata Safi’.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index