Kisah ASN Kemenag Jatim Jalani WFH: Lebih Fleksibel Urus Balita

Kisah ASN Kemenag Jatim Jalani WFH: Lebih Fleksibel Urus Balita
Ilustrasi ASN WFH (FOTO: NET)

SURABAYA - Sejak April 2026, suasana Jumat pagi bagi Evi Laili (38), seorang aparatur sipil negara (ASN) di Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Jawa Timur, terasa berbeda.

Dahulu, ia harus segera berangkat ke kantor setiap Jumat pagi usai membereskan keperluan rumah tangga bagi suami dan buah hatinya.

Akan tetapi saat ini, ia dapat melaksanakan rutinitas pekerjaannya melalui sistem work from home (WFH) atau bekerja dari rumah.

“Kebetulan posisi sebagai humas, setiap hari di rumah juga standby karena kerja juga dari handphone. Di mana-mana kami harus siap dengan penugasan untuk membuat berita, admin media sosial, edit konten atau semacamnya,” kata Evi kepada Kompas.com, Senin (11/5/2026).

Evi merupakan ASN dengan jabatan Pranata Hubungan Masyarakat (Humas) pada Kanwil Kemenag Jawa Timur.

Kebijakan WFH bagi ASN setiap hari Jumat ini mulai diimplementasikan sejak April 2026 mengikuti arahan pemerintah pusat guna menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) akibat ketidakpastian situasi global.

Walaupun bertugas dari kediamannya, Evi menyatakan tetap wajib siaga jika sewaktu-waktu dipanggil untuk melakukan peliputan atau dokumentasi agenda Kanwil Kemenag Jawa Timur.

Tiap Jumat pagi, dirinya telah siap di hadapan laptop serta ponsel yang tersusun rapi di meja kerja rumahnya.

Kadang kala, putra kecilnya yang masih balita ikut duduk di sisinya sembari memperhatikan layar laptop tersebut.

“Lebih longgar, karena tidak menempuh jarak jauh. Setelah ngurus keluarga, lanjut kerja. Sambil momong balita juga, tapi masih dikondisikan dan dibilangi anaknya,” ungkapnya.

Pada hari kerja di luar Jumat, Evi mesti menempuh perjalanan sejauh 15 kilometer dari kediamannya di Rungkut, Surabaya, menuju kantor Kanwil Kemenag Jatim di Semambung, Sidoarjo, memakai motor.

“Jarak segitu isi bensin Pertamax dalam seminggu bisa habis sekitar Rp 50.000-Rp 70.000 karena kalau PP (pulang pergi) bisa 30 kilometer,” ucapnya.

Menurut pandangan Evi, mekanisme WFH membantu mengurangi sedikit pengeluaran BBM meski belum terlalu drastis pengaruhnya.

Ketika bertugas di rumah, ia lebih intens menggunakan laptop dan ponsel yang memerlukan daya listrik serta jaringan internet stabil demi berkoordinasi dengan rekan tim humas.

Walau begitu, ia menyebutkan bahwa biaya listrik di rumahnya tidak menunjukkan lonjakan yang berarti.

“Internet sudah pakai wifi, jadi bulanannya tetap. Kalau listrik sejauh ini tidak ada peningkatan signifikan, tidak banyak yang berubah. Masih sama listriknya kisaran Rp 700.000 per bulan,” pungkasnya.

Evi menganggap sistem WFH memberikan fleksibilitas lebih karena ia bisa menyeimbangkan waktu antara tanggung jawab pekerjaan dan urusan keluarga.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index