Pertamax Rp 21.000, Sopir Bentor Pulau Tidung Merugi

Pertamax Rp 21.000, Sopir Bentor Pulau Tidung Merugi
Para sopir bentor menunggu di dermaga Pulau Tidung, Kepulauan Seribu.(FOTO:NET)

JAKARTA - Lonjakan harga bahan bakar minyak non-subsidi jenis Pertamax pada hari Rabu (10/6/2026) membawa dampak nyata bagi pendapatan operasional warga di wilayah Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, Jakarta.

Sejumlah masyarakat yang bekerja menarik becak motor di kawasan pulau itu mengeluhkan nilai jual Pertamax yang melonjak ke angka Rp 21.000 per liter, dari yang sebelumnya hanya berkisar antara Rp 16.000 sampai Rp 17.000.

Tarif eceran baru tersebut sangat memberatkan para pengemudi becak motor lantaran nominalnya sudah hampir menyamai ongkos sekali jalan yang biasa ditarifkan sebesar Rp 20.000 hingga Rp 25.000.

Salah seorang pengemudi becak motor di Pulau Tidung bernama Muhammad Said (63) menyatakan dirinya sangat terkejut sewaktu mengetahui besarnya kelonjakan harga BBM jenis Pertamax tersebut.

"Dulu mah kalau naik ya paling cuma Rp 500 atau Rp1.000 gitu. Sekarang tiba-tiba tinggi," ucap dia saat ditemui Kompas.com, Jumat (12/6/2026).

Muhammad Said sebetulnya memaklumi bahwa nilai jual bahan bakar di daerah kepulauan pastinya lebih tinggi ketimbang di kawasan daratan Jakarta.

Kendati demikian, pengemudi tersebut tetap mengeluh karena nominal yang kini menyentuh Rp 21.000 dirasa sudah melewati batas kewajaran.

"Ya kalau itu kami juga tahu enggak mungkin (harga sama), soalnya juga kan bensin ke sini perlu dua kali transport mereka. Mobil di sana terus juga ferry yang bawa ke sini," kata dia.

Sebelum terjadinya lonjakan nilai jual yang begitu drastis belakangan ini, Muhammad Said menganggap harga Pertamax eceran yang beredar di pulau itu masih dalam kategori terjangkau.

Namun akibat penyesuaian harga terbaru ini, Muhammad Said memaparkan bahwa pendapatan yang dikumpulkan para pengemudi sudah tidak sanggup lagi menutup ongkos pembelian bahan bakar.

"Kalau dari dulu sih, saya rasa eggak (mahal). Masih Rp 16.000 sampai Rp 17.000. Artinya kami tarikan Rp 20.000 itu masih ada lebih lah ya. Kalau sekarang kan nombok ini," ujar Said.

Di sisi lain, pengemudi bernama Sahib turut memaparkan bahwa melesatnya harga bahan bakar di Pulau Tidung memaksa para penarik bentor mengeluarkan uang pribadi demi menutupi pengeluaran operasional.

"Kalau narik ukuran sejalan Rp 20.000 bensin, sedangkan seliter Rp 21.000, itu malahan kami nombokin. Nombokin Rp 1.000 kalau bensinnya Rp 21.000," ujar dia saat ditemui Kompas.com, Jumat.

Kondisi tersebut kian dipersulit lantaran Sahib membeberkan bahwa para pengemudi becak motor tidak memiliki opsi untuk beralih menggunakan BBM bersubsidi seperti Pertalite.

Berdasarkan penuturan Sahib, pasokan BBM jenis Pertalite sudah menjadi barang langka dan sulit diperoleh di area pulau sejak menghilang kurang lebih satu tahun belakangan.

"Udah, setengah tahun mah lebih lah. Memang udah hilang hitungannya," ujar Sahib.

Kondisi ini membuat Sahib pada akhirnya memilih untuk mengoperasikan kendaraannya hanya saat memperoleh pesanan khusus atau ketika masa libur akhir pekan tiba.

Langkah itu diambil karena Sahib mengalkulasikan biaya operasional harian yang dikeluarkan jika terus memaksakan jalan sering kali tidak sebanding dengan hasil yang didapatkan.

"Habis percuma, ngomong bohongnya kami mangkal di sana nih. Disangka bini mah 'Oh bapak narik', enggak tahunya mah bukan narik, kami mengadu tembakau, mengadu kopi, mengadu rokok, gitu," ungkap Sahib.

Sahib juga menceritakan bahwa tingkat kunjungan pelancong yang berlibur ke Pulau Tidung pada hari-hari biasa kini sudah tidak sepadat periode sebelumnya.

Situasi tersebut menyebabkan para pemilik becak motor sangat menggantungkan pemasukan dari wisatawan yang berkunjung sewaktu momen libur akhir pekan yang panjang.

"Sabtu atau Minggu kadang ada, ada juga kadang ndak. Nah kalau long weekend, ya lumayan," ungkap dia.

Demi menyiasati keadaan, para sopir becak motor pun berupaya mencari penghasilan tambahan dengan menyediakan jasa pengangkutan barang dari dermaga kapal menuju toko atau warung milik penduduk lokal.

Meski begitu, peluang mencari penghasilan alternatif tersebut tidak bisa didapatkan oleh seluruh pengemudi bentor yang ada.

Sahib menyebutkan bahwa kesempatan mengangkut muatan barang hanya bisa dijalankan oleh para penarik bentor yang telah memiliki pelanggan tetap saja.

"Tapi ada yang menutupi, ada yang meringankan gitu. Kan ada angkut barang ke warung. Itu bagi yang punya langganan. Kalau enggak punya langganan ya susah," tutur dia.

Walaupun harga pasar Pertamax mengalami kenaikan, Sahib menegaskan dirinya enggan menaikkan tarif sewa perjalanan bagi para pelancong.

Sahib justru menaruh harapan besar agar stabilitas harga bahan bakar bisa segera pulih kembali supaya dirinya tidak terpaksa menaikkan ongkos bentornya.

"Kagak bisa mah (menaikan tarif bentor), bensin mah jangan naik kalau bisa mah," tambah dia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index