SOLO - Ritual Kirab Pusaka Malam 1 Suro diawali pada kisaran pukul 23.35 WIB yang ditandai lewat keluarnya 14 pusaka milik Keraton Solo atas titah Pakubuwono (PB) XIV Mangkubumi pada Selasa (16/6/2026).
Empat belas pusaka pusaka tersebut terdiri atas sebuah keris serta 13 buah tombak.
Berdasarkan pengamatan di lokasi, barisan pembawa pusaka tersebut diarak oleh segenap utusan dalem serta abdi dalem yang mengemban tugas mengawal benda pusaka itu keluar dari area Panengrat Ler.
Sewaktu ritual keluarnya benda pusaka berlangsung, PB XIV Purbaya terlihat duduk di area Sasana Parasdya tanpa mengeluarkan pusaka dalem miliknya.
Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA) KPH Eddy Wirabhumi memaparkan, dikeluarkannya 14 pusaka itu berlandaskan pada kabar yang ia peroleh bahwa pihak PB XIV Purbaya memang tidak berniat mengeluarkan pusaka dalem.
Kabar tersebut didapatkan olehnya pasca kedua kubu di internal Keraton Solo melangsungkan rapat bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Solo pada Senin (15/6/2026).
“(Yang mengeluarkan pusaka dari Sinuhun?) iya. Karena kemarin di dalam rapat teman-teman juga sudah mendengar memang yang di sana tidak mengeluarkan, ya sudah kami yang mengeluarkan,” kata Eddy ditemui usai pemberangkatan kirab 1 Suro, Rabu (17/6/2026).
Kendati begitu, pihaknya mengonfirmasi tetap bersiap andai kata pihak PB XIV Purbaya pada awalnya berniat bersama-sama untuk mengeluarkan pusaka dalem.
“Walaupun kami tadinya juga siap kalau mau sama-sama ya mangga (silakan) seperti itu,” katanya lagi.
Eddy menilai bahwa jalannya prosesi kirab 1 Suro berlangsung secara damai.
Ia mengimbau kepada seluruh lapisan warga untuk memanjatkan doa pada momen malam 1 Suro.
“Ya, seperti yang tadi disaksikan bersama-sama ya. Alhamdulillah ini berjalan dengan baik, mudah-mudahan hikmat. Dan saya pesankan kepada semua untuk kami senantiasa berdoa ya untuk diri kami sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara,” terangnya.
Ia menaruh harapan agar momentum Tahun Baru Islam atau Malam 1 Muharram (Suro) ini mampu mendatangkan kebaikan bagi lingkungan Keraton Solo.
“Mudah-mudahan kebaikan itu juga memantul ke kraton juga gitu. Suasananya yang bagus ini mudah-mudahan kami bisa pertahankan sehingga saya belum tahu sampai titik di mana nanti akhirnya akan bagus semua. Mudah-mudahan, bismillah,” kata dia.
Pada kesempatan lain, Pelaksana, Pelestarian, Pengembangan, dan Pemanfaatan Kawasan Cagar Budaya Keraton Solo, KGPH Panembahan Agung Tedjowulan, menegaskan bahwa ritual kirab 1 Suro malam ini berjalan aman sampai selesai.
“Sudah, sudah, sudah selesai semuanya, sudah. Aman. Sudah baik, baik, baik, wes (sudah). Kami doakan saja semuanya jadi sesuai dengan rencana kami, nggih (ya),” kata Tedjowulan, Rabu (17/6/2026).
Ketika dimintai keterangan mengenai resolusi di Tahun Baru Islam atau Malam 1 Muharram (Suro), Tedjowulan berujar bahwa harapannya tidak berubah.
Ia menganggap atmosfer di Keraton Solo berjalan layaknya tahun-tahun yang lalu.
Bagi dia, dinamika Keraton Solo yang bergulir saat ini dipicu oleh andil media sosial yang kerap memproduksi opini tertentu.
“Depannya ya sama-sama saja, orang sudah ini kan sudah dijalankan bertahun-tahun kok hal seperti ini. Hanya akhir-akhir ini saja di media sosial se-karep-karepe dewe (semaunya sendiri) menceritakan. Iya, toh?” pungkasnya.
Sementara itu, Pangageng Paran Para Karsa Keraton Solo, KPH Dany Nur Adiningrat menyebutkan bahwa keputusan untuk tidak memunculkan pusaka itu berakar dari dhawuh dalem atau titah PB XIV Purbaya.
Pertimbangannya ialah demi mendahulukan faktor keamanan dari benda-benda pusaka tersebut.
“With pertimbangan berbagai macam hal, termasuk prioritas keselamatan pusaka dan lain hal, maka Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Pakubuwono XIV memutuskan untuk tidak miyoskan (mengeluarkan) pusaka malam hari ini," kata dia.
“Dan bisa lihat, posisi Ndalem Ageng dalam posisi tertutup. Walaupun di dalamnya juga upacara adat dilaksanakan, akan tetapi pusaka tidak dimiyoskan atau tidak dikeluarkan. Seperti itu,” ujar Dany kepada awak media, Rabu (16/6/2026).
Dany memaparkan perihal keputusan terkait pusaka yang dimiyoskan (dikeluarkan) merupakan hak absolut dari PB XIV Purbaya yang telah memperoleh wisik atau petunjuk gaib.
“Iya, sekali lagi gini. Semua hal terkait pusaka miyos dan tidak adalah otoritas penuh dari Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun. Jadi, raja mendapatkan petunjuk bahwa pusaka keselamatan pusaka diutamakan, makanya pusaka tidak dimiyoskan,” tandasnya.
Iring-iringan peserta kirab 1 Suro dilepas dari area Keraton Solo pada kisaran pukul 23.35 WIB.
Tiga ekor kerbau (kebo) bule (albino) bertindak selaku cucuk lampah atau pemandu di barisan terdepan.
Jalur kirab 1 Suro Keraton Solo berawal dari Jalan Supit Urang - Jalan Pakubuwono - Jalan Jenderal Sudirman - Jalan Mayor Kusmanto - Jalan Kapten Mulyadi - Jalan Veteran - Jalan Yos Sudarso - Jalan Slamet Riyadi - Jalan Pakubuwono - Jalan Supit Urang dan berakhir kembali ke area Keraton Solo melewati Alun-alun Kidul.