SHANGHAI - Dalam Festival Film Internasional Shanghai (Shanghai International Film Festival/SIFF) ke-28 yang tengah berjalan saat ini, karya-karya sinema dari Indonesia sukses memikat perhatian publik.
Sejumlah film cerita seperti "Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang" ("My Own Last Supper") dan "Yuni", hingga karya animasi seperti "Jumbo" serta "Garuda di Dadaku" turut unjuk gigi dalam festival tersebut guna memperkenalkan wajah baru dari industri perfilman tanah air.
Tercatat ada 12 film yang masuk dalam kategori kompetisi utama Golden Goblet Awards tahun ini dan semuanya merupakan penayangan perdana di dunia (world premiere), termasuk salah satunya adalah film "Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang" perwakilan dari Indonesia.
Sinema yang diarahkan oleh sutradara Ismail Basbeth ini mengisahkan seorang duda berumur 76 tahun yang mengumpulkan seluruh buah hatinya untuk menghadiri sebuah "perjamuan terakhir" di hidupnya.
Saat momen perjamuan tersebut berlangsung, beragam memori keluarga yang selama ini tersimpan rapat akhirnya mulai terkuak.
Para tim kreatif dari film ini tidak cuma memperlihatkan diri di atas karpet merah seremonial Golden Goblet Awards, melainkan juga menyelenggarakan agenda penayangan perdana selama festival, yang mana menjadi momen bagi kru untuk bersua sekaligus berinteraksi akrab dengan para awak media.
Keseluruhan kisah dalam film ini dibingkai melalui sudut pandang dari satu keluarga Indonesia keturunan Tionghoa beserta anak cucunya.
Layar lebar ini menerapkan teknik realistis demi menampilkan kembali gambaran dari kehidupan warga Tionghoa Indonesia pada periode tahun 1960, 1970, 1998, dan 2018, sembari mengulik beraneka arti dari kehidupan.
Sutradara Ismail Basbeth dalam agenda temu media pada hari Rabu (17/6) memaparkan bahwa dirinya amat berterima kasih kepada pihak SIFF atas bentuk apresiasi yang diberikan kepada film serta seluruh kru yang bertugas.
"Saya berharap melalui karya ini, terjalin hubungan yang lebih mendalam antara China dan Indonesia," kata Ismail.
Sependapat dengan apa yang diutarakan oleh sang sutradara, produser Lyza Anggraheni menyebutkan sangat gembira karena dapat membawa cerita mengenai masyarakat Tionghoa Indonesia ini kembali ke negeri China.
Dua aktor utama yang membintangi film tersebut merupakan warga negara Indonesia keturunan Tionghoa.
Jessy Davita membagikan cerita bahwa kakeknya merupakan orang yang berasal dari China.
"Saya ingin menampilkan situasi kehidupan nyata masyarakat Tionghoa-Indonesia di Indonesia," kata Olivia Irawan Chen, sebagai keturunan Tionghoa generasi ketiga itu.
Hal yang menarik adalah semenjak penjualan tiket untuk ajang SIFF tahun ini resmi dibuka pada 5 Juni kemarin, tiket untuk beberapa jadwal pemutaran film ini langsung habis terjual.
Kondisi tersebut memperlihatkan betapa tingginya rasa penasaran sekaligus minat dari para penonton di Shanghai terhadap karya-karya film asal Indonesia.
Di samping film "Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang" ("My Own Last Supper"), pada kategori Film Animasi Golden Goblet Awards dalam gelaran SIFF tahun ini turut menghadirkan karya animasi orisinal Indonesia yakni "Garuda di Dadaku" ("Garuda: Dare to Dream").
Melalui eksistensi di dua lini sekaligus, yakni kategori film cerita dan film animasi, industri perfilman Indonesia kini bertransformasi menjadi kekuatan besar dari Asia Tenggara yang tidak boleh dipandang sebelah mata dalam ajang SIFF tahun ini.