EastFood Expo 2026: 30 UMKM Jatim Siap Tembus Pasar Ekspor

EastFood Expo 2026: 30 UMKM Jatim Siap Tembus Pasar Ekspor
CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim (FOTO: NET)

SURABAYA - Gelaran EastFood Indonesia Expo 2026 resmi dibuka di Grand City Convention Hall Surabaya dan berlangsung pada 18–21 Juni 2026 dengan menggandeng 30 pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dari keseluruhan 180 eksibitor.

Ajang pameran industri makanan dan minuman internasional ini ditujukan sebagai wadah memperlebar jangkauan pasar, memperkokoh kemitraan usaha, sekaligus membuka akses ekspor bagi produk-produk unggulan tanah air.

Eksibisi yang digelar selama empat hari ini mendatangkan para pelaku industri dari bermacam sektor dan negara.

Partisipasi mereka diproyeksikan dapat membangun ekosistem bisnis yang memacu pertumbuhan industri makanan-minuman sekaligus mendongkrak daya saing UMKM domestik.

Event EastFood Indonesia Expo 2026 menjadi peluang emas bagi para pelaku UMKM dalam memperkenalkan produk mereka ke segmen pasar yang lebih luas.

Dari keseluruhan 180 stan yang berpartisipasi, terdapat 30 lapak yang diisi oleh pelaku UMKM yang diberikan fasilitas untuk memperkuat jaringan bisnis serta mendongkrak kapasitas usaha mereka.

Chief Executive Officer (CEO) Krista Exhibitions Daud D. Salim memaparkan bahwa pameran ini disiapkan sebagai langkah strategis bagi para pelaku industri untuk memperlebar sayap pasar sekaligus mengakselerasi pertumbuhan sektor makanan dan minuman di tanah air.

"Dari 180 peserta sebanyak 30 di antara merupakan pelaku UMKM," kata Daud D. Salim.

Berdasarkan penjelasannya, pameran ini menyuguhkan ekosistem industri yang menyeluruh dari sektor hulu hingga ke hilir.

Di samping itu, pemilihan kota Surabaya sebagai lokasi acara semakin mengukuhkan peran kota ini sebagai pusat perdagangan utama dan barometer industri makanan-minuman terbesar di wilayah Indonesia timur.

Daud D. Salim berharap keterlibatan UMKM dalam pameran ini tidak sekadar untuk meramaikan kebutuhan konsumsi selama acara berlangsung.

Lebih dari itu, para pelaku UMKM diharapkan dapat menembus rantai pasok industri yang lebih luas serta berkelanjutan.

Pemerintah daerah pun terus menggenjot berbagai program pelatihan demi mendongkrak kualitas serta daya saing produk-produk UMKM.

Program pembinaan tersebut mengikutsertakan Dinas Koperasi dan instansi terkait lain yang berfokus pada penciptaan produk dengan nilai tambah yang tinggi.

Merujuk pada penjelasan Endy, salah satu program yang gencar didorong saat ini adalah hilirisasi komoditas perikanan.

Komoditas ikan yang mulanya dipasarkan dalam kondisi mentah kini diarahkan untuk diolah menjadi bentuk filet atau pangan siap saji yang mempunyai nilai ekonomis lebih tinggi.

"Dari Dinas Koperasi maupun dinas terkait lainnya, kami menyediakan berbagai pelatihan bagi pelaku usaha tentang bagaimana menciptakan produk bernilai tambah tinggi."

Strategi ini dipandang krusial lantaran karakteristik pasar modern saat ini kian selektif dalam memilih produk yang punya kualitas, kemasan, serta standar produksi yang mumpuni.

Melalui proses pengolahan yang tepat, para pelaku UMKM memiliki kans besar untuk meraup margin keuntungan yang jauh lebih tinggi.

Program pelatihan ini juga menjadi modal berharga bagi para pelaku usaha untuk melengkapi berbagai regulasi pasar modern maupun pasar global yang kian kompetitif.

Walaupun populasi UMKM di wilayah Jawa Timur terbilang sangat masif, pelaku usaha yang telah mampu menembus pasar ekspor jumlahnya masih relatif minim.

Merujuk pada data resmi Badan Pusat Statistik (BPS), total unit UMKM di wilayah Jawa Timur saat ini sudah menembus angka kisaran 4,5 juta unit usaha.

Endy membenarkan bahwa hambatan utama yang saat ini membayangi para pelaku UMKM terletak pada sektor perizinan serta standarisasi.

Salah satu dokumen wajib yang kerap kali menjadi pengganjal langkah mereka adalah sertifikasi Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP) yang menjadi syarat mutlak untuk menembus pasar internasional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index