Kemasan Baru Larung Sesaji Pantai Serang Dongkrak Wisata Blitar

Kemasan Baru Larung Sesaji Pantai Serang Dongkrak Wisata Blitar
Warga melarung sesaji ke laut di Pantai Serang (FOTO: NET)

BLITAR - Agenda ritual budaya Larung Sesaji di Pantai Serang, Desa Serang, Kecamatan Panggungrejo, ke depannya bakal disajikan dengan konsep yang lebih kreatif.

Langkah ini diambil karena upacara adat yang sudah turun-temurun dijalankan selama ratusan tahun tersebut tak sekadar menjadi bentuk syukur warga lokal, namun juga diproyeksikan sebagai salah satu magnet pariwisata andalan daerah.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Blitar, Eko Susanto, menyampaikan bahwa kegiatan Larung Sesaji di Pantai Serang ini sudah tercatat secara resmi dalam kalender wisata rutin Kabupaten Blitar.

”Ini sudah menjadi agenda rutin dan bahkan masuk agenda kabupaten. Tahun genap di Pantai Serang, tahun ganjil di Pantai Tambakrejo. Tradisi ini harus kami manfaatkan dari sisi pariwisata, dampak ekonomi, sekaligus sebagai branding daerah,” ujar Eko.

Eko menambahkan, persoalan utama yang dihadapi saat ini yaitu bagaimana menyuguhkan rangkaian acara yang memikat perhatian publik secara kontinu tanpa mengikis esensi nilai sejarah adat aslinya.

Oleh sebab itu, pihak penyelenggara selalu mengupayakan adanya hal baru yang disisipkan di setiap pergelaran agar konsisten memikat animo para pelancong.

Pihak pemerintah daerah melihat ritual keagamaan yang digelar rutin tiap malam 1 Suro ini menyimpan peluang besar dalam mendongkrak angka pelancong sekaligus memutar roda perekonomian warga lokal.

”Packing-nya harus dibuat lebih menarik. Harus ada sesuatu yang baru setiap tahun sehingga sulit ditebak dan tetap menjadi daya tarik wisatawan lokal, luar daerah, bahkan mancanegara,” ungkapnya.

Di sisi lain, Kepala Desa Serang, Dwi Handoko, menjelaskan bahwa adat Larung Sesaji ini memang sudah eksis sejak berabad-abad lalu dan menjadi bagian hidup yang menyatu dengan masyarakat di kawasan pesisir selatan Blitar.

Penyelenggaraan acara tersebut rutin dilaksanakan setiap malam 1 Suro dengan merujuk pada sistem penanggalan Jawa Aboge yang dipegang teguh oleh penduduk setempat.

Hal itulah yang membuat waktu pelaksanaan ritual ini kerap kali selisih satu sampai dua hari ketimbang penanggalan umum 1 Muharam.

“Ini sudah berjalan turun-temurun selama ratusan tahun. Intinya sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki yang diberikan, baik dari sektor pertanian maupun hasil laut,” tuturnya.

Saat jalannya prosesi pelarungan, terdapat beragam ubarampe atau seserahan perlengkapan ritual yang sarat akan pesan simbolis.

Beberapa di antaranya meliputi kembang setaman yang dihanyutkan ke tengah laut, pisang raja atau pisang ayu, serta tumpeng berukuran besar yang melambangkan doa masyarakat demi mendapatkan kemakmuran serta keberkahan hidup.

”Setiap ubarampe memiliki makna tersendiri. Semua menjadi bagian dari tradisi yang terus kami jaga dan lestarikan sampai sekarang,” pungkasnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index