PURWOREJO - Matahari belum terlalu tinggi ketika suara mesin pompa mulai terdengar dari tepian sungai di Desa Kaliwungulor, Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo.
Air yang awalnya mengalir tenang di dasar sungai secara perlahan terdorong naik masuk ke saluran irigasi, kemudian menyebar ke petak-petak sawah.
Di samping bangunan sederhana yang menaungi pompa tersebut, berdiri 36 modul panel surya.
Dari tempat inilah energi untuk menggerakkan pompa air berasal.
Paryanto, perangkat desa yang sekaligus menjadi salah satu pengelola sistem pompa air tenaga surya (PATS) menyebutkan, hampir seluruh bentang wilayahnya didominasi oleh lahan pertanian.
Dari sekitar 76 hektar sawah yang dimiliki desa, sebagian besar dimanfaatkan untuk bertani padi.
Saat air tersedia, sawah menjadi produktif dan panen berjalan dengan baik.
Sebaliknya, ketika kemarau panjang datang, ancaman gagal panen selalu membayangi.
Dahulu, para petani di Kaliwungulor mengandalkan perpaduan bendung dan pompa berbahan bakar minyak guna mencukupi kebutuhan air.
Sistem tersebut memang berfungsi, namun biaya operasional yang dikeluarkan cukup besar.
Tiap musim kemarau, petani harus menghidupkan tiga pompa besar selama berjam-jam setiap hari yang menghabiskan 200-250 liter BBM dalam sehari.
Bila musim kemarau berlangsung antara 60 sampai 90 hari, total konsumsi bahan bakar dapat mencapai belasan ribu hingga puluhan ribu liter setiap satu kali musim tanam.
"Karena desa kami memang penghasil padi, air harus tersedia. Mau tidak mau pompa harus jalan terus saat kemarau," ujar Paryanto, Rabu (24/6/2026).
Perubahan mulai terjadi pada akhir tahun 2020.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah membangun proyek Pompa Air Tenaga Surya di Kaliwungulor dengan nilai investasi menyentuh Rp 514 juta.
Sistem itu dipasang oleh PT Ekoterra Dinamika dari Bandung dengan kapasitas berkisar 11 kilowatt peak (kWp).
Instalasi ini menjadi salah satu proyek percontohan pertama di Jawa Tengah yang mengoptimalkan energi matahari untuk keperluan irigasi pertanian.
Sekitar 20 hektar sawah terletak di atas sungai yang saat ini memperoleh pasokan air dari pompa tenaga surya tersebut.
"Kalau cuaca cerah, penghematan biaya operasional bisa sekitar 40 persen karena kami menggunakan tiga pompa, lebih hemat dibandingkan ketika masih sepenuhnya menggunakan bahan bakar minyak," kata Paryanto.
Faktor paling penting yang menjaga proyek ini tetap berjalan sampai hari ini adalah sistem sosial yang telah mengakar di desa.
Warga setempat mengenalnya dengan sebutan Pon Kerja.
Tradisi gotong royong tersebut sudah ada jauh sebelum panel surya dipasang.
Ia memaparkan, setiap petani yang menggarap lahan seluas kurang lebih seperenam hektar diwajibkan memberikan kontribusi tahunan berupa 20 kilogram gabah basah.
Pembayaran dapat diserahkan dalam bentuk gabah ataupun uang tunai yang disesuaikan dengan harga pasar.
Mekanisme ini disepakati melalui musyawarah desa dan disetujui bersama oleh para petani.
Hasil dari iuran tersebut tidak masuk ke rekening pribadi siapa pun.
Seluruh dana dikelola sepenuhnya untuk keperluan pertanian.
Mulai dari perbaikan saluran irigasi, perawatan pompa, pembersihan jaringan air, hingga kebutuhan operasional lain yang berkaitan dengan sawah, terutama untuk operasional pompa dan perawatannya.
"Ini memang sudah menjadi tradisi turun-temurun. Hasilnya digunakan kembali untuk pertanian," kata Paryanto.
Dengan jumlah petani mencapai sekitar 200 dari sekitar 251 kepala keluarga, desa bisa mengumpulkan sekitar 8 hingga 9 ton gabah tiap musim.
Bila harga gabah basah berada pada kisaran Rp 6.500 per kilogram, nilai yang terkumpul mencapai sekitar Rp 30 juta hingga Rp 50 juta per tahun.
Dana tersebut menjadi semacam "tabungan kolektif" desa guna menjaga keberlanjutan sistem pertanian mereka.
"Ya kalau selama ini besarannya tergantung musyawarah desa dan para petani, kebetulan tahun ini yang disepakati sebanyak 20 kg gabah basah," katanya.
"Kalau di desa yang kami punya hanya gotong-royong, jadi kuncinya pada pengelolaan," katanya.
Menjelang siang, matahari di atas Kaliwungulor terasa semakin terik.
Panel-panel surya tersebut beroperasi pada kapasitas terbaiknya.
Air terus mengalir membasahi petak-petak sawah yang menghijau.
Kepala Seksi Energi Cabang Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Wilayah Serayu Selatan, M. Sukron Malik menyampaikan, Purworejo mempunyai sumber energi surya yang melimpah karena intensitas penyinaran matahari yang cukup tinggi serta curah hujan yang tidak terlalu ekstrem bila dibandingkan dengan wilayah pegunungan.
"Kalau untuk sumber energi surya di Kabupaten Purworejo ini dari segi letak geografisnya melimpah. Karena berada di dataran rendah dan sinar mataharinya sepanjang tahun relatif kontinu," kata Sukron.
Meski demikian, sampai sekarang belum tersedia kajian spesifik yang memetakan potensi radiasi matahari secara perinci di tingkat Kabupaten Purworejo.
Data yang tersedia saat ini masih mengacu pada pemetaan energi yang dilakukan di tingkat provinsi dan lembaga terkait.
Menurut Sukron, hingga saat ini terdapat dua unit PATS bantuan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang telah beroperasi di Purworejo.
"Selama ini kalau di Kabupaten Purworejo PATS ada dua, yakni di Kaliwungulor dan di Desa Krandegan. Alhamdulillah semua bermanfaat," ujarnya.