Pasar Saham Sedang Bergejolak, Investor Pemula Perlu Lirik Saham Dividen

Pasar Saham Sedang Bergejolak, Investor Pemula Perlu Lirik Saham Dividen
Ilustrasi investor memantau pergerakan saham (FOTO: NET)

JAKARTA - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang naik turun beberapa waktu belakangan kembali menunjukkan bahwa pasar saham berjalan dalam siklus yang tidak selalu gampang diprediksi.

Direktur Retail Markets & Technology BNI Sekuritas Teddy Wishadi mengutarakan, di tengah kondisi pasar yang bergejolak, saham dividen dapat menjadi salah satu cara yang lebih ramah bagi investor baru.

“Dividen adalah bagian laba perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham. Jadi investor tidak hanya bergantung pada kenaikan harga saham, tetapi juga mendapatkan penghasilan tunai secara berkala,” ujar Teddy dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (3/7/2026).

Ia menambahkan, beberapa saham dividen mampu menawarkan dividen yield di kisaran 3–6 persen per tahun, sehingga investor tetap dapat memperoleh imbal hasil meski pergerakan harga saham tidak terlalu besar.

Dengan demikian, saham dividen lebih gampang dipahami karena tidak cuma bergantung pada pergerakan harga, sekaligus membantu mengurangi tekanan psikologis investor saat pasar sedang fluktuatif.

Namun, Teddy menegaskan bahwa karakter saham dividen tidaklah seragam.

“Ada emiten yang memiliki pembagian dividen relatif stabil karena rekam jejak bisnis yang solid serta arus kas yang sehat. Contohnya seperti BBNI, BBCA, BMRI, dan BBRI di sektor perbankan, serta Indofood CBP Sukses Makmur di sektor konsumsi,” jelas dia.

Sementara itu, sektor komoditas seperti Bukit Asam (PTBA) dan Indo Tambangraya Megah (ITMG) cenderung memiliki pola dividen yang lebih berubah-ubah karena dipengaruhi siklus harga komoditas.

Telkom Indonesia (TLKM) berada di posisi relatif seimbang dengan catatan pembagian dividen yang cukup konsisten serta potensi pertumbuhan bisnis jangka panjang.

Teddy turut mengingatkan investor pemula untuk memahami mekanisme pembagian dividen, yaitu cum date, ex-date, recording date, dan payment date.

Cum date adalah hari terakhir investor bisa membeli saham dan tetap berhak atas dividen yang akan dibagikan.

Setelah memasuki ex-date, investor yang baru membeli saham tidak lagi berhak mendapatkan dividen tersebut.

Recording date adalah tanggal pencatatan pemegang saham yang berhak menerima dividen, sedangkan payment date merupakan tanggal pembayaran dividen kepada investor yang berhak.

Ia menambahkan, musim dividen di pasar saham Indonesia biasanya berlangsung setelah pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang banyak diadakan pada periode Maret hingga Juni.

April hingga Juli biasanya menjadi periode di mana banyak emiten mengumumkan dan membagikan dividen.

Dalam praktiknya, Teddy mengatakan, investor umumnya memakai dua strategi sederhana saat berinvestasi pada saham dividen, yakni buy and hold pada saham berfundamental baik, serta melakukan reinvestasi dividen guna menambah kepemilikan saham secara bertahap.

“Pendekatan ini membuat investor tidak terlalu bergantung pada pergerakan jangka pendek IHSG, sehingga lebih fokus pada kepemilikan jangka panjang,” ujar Teddy.

Menurut Teddy, saham dividen tidak menghilangkan risiko investasi, tetapi bisa membantu investor membangun portofolio yang lebih seimbang melalui kombinasi potensi capital gain dan arus kas dari dividen.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index