Mengenal Erlangga Alumnus Unair yang Kuliah di 3 Negara dan Kerja PBB

Mengenal Erlangga Alumnus Unair yang Kuliah di 3 Negara dan Kerja PBB
Erlangga Agustino Landiyanto, SE MA MSc MPA PhD alumnus S1 Ekonomi Pembangunan FEB UNAIR (FOTO: NET)

JAKARTA - Berbagai lembaga tingkat nasional maupun internasional telah menjadi tempat Erlangga Agustino Landiyanto, S.E., MA., M.Sc, MPA, PhD membuktikan kinerjanya.

Bahkan beberapa di antaranya merupakan lembaga di bawah naungan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

Ia berkontribusi mendorong perumusan kebijakan berbasis riset dan pembangunan yang berkelanjutan.

Lulusan S1 Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB Unair) ini mula-mula bergabung dengan sebuah lembaga internasional di Surabaya.

Erlangga lantas sempat mengurusi pemulihan pascabencana Tsunami Aceh sekitar tahun 2006.

Langkah profesional Erlangga terus melenggang maju.

Ia mendapatkan kepercayaan untuk bekerja sama dengan berbagai institusi strategis global hingga turut aktif sebagai anggota di berbagai asosiasi profesional.

Erlangga pernah menjalankan berbagai peran strategis di lembaga-lembaga bergengsi seperti CARE International, UNORC, Bank Dunia, UNICEF di Papua, Mahkota dan Sekretariat ASEAN.

Kariernya kini berlabuh di Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jakarta.

“Pekerjaan pertama saya di PBB waktu itu di UNORC di Aceh. Lembaga PBB tersebut yang mendapat mandat untuk mengoordinasikan lembaga-lembaga internasional dalam dukungan pasca-tsunami di Aceh dan Nias,” ungkap Erlangga, dilansir situs Unair, Jumat (3/7/2026).

Menurutnya ilmu selama studi tingkat sarjana sangat menunjang pekerjaan di berbagai posisi penting dalam pekerjaannya.

Materi seperti ekonomi makro, mikro, hingga ekonometrika yang dulu ditemui di perkuliahan menjadi fondasi kuat dan sangat berguna dalam mengawal proyek pembangunan ekonomi.

Selain karier yang moncer, Erlangga melanjutkan studi pascasarjana di tiga negara.

Pengalamannya belajar di Thailand, Belgia, hingga meraih gelar Doktor di Inggris menurutnya membuat pola pikirnya lebih kritis.

Dari kacamata Erlangga, pendidikan di luar negeri tidak hanya menuntut mahasiswa untuk menghafal teori.

Peserta didik mendapat kesempatan berlatih dengan logika penyelesaian masalah.

"Kelebihan di sisi pendidikan di kampusnya itu adalah critical thinking-nya yang dibangun,” ungkapnya.

Cerdas membagi waktu menjadi saran yang dibagikan Erlangga kepada mahasiswa untuk menembus ketatnya persaingan karier internasional.

Menurut Erlangga pada semester awal mahasiswa cocok untuk fokus mengikuti kegiatan organisasi.

Kemudian pada tingkat akhir perkuliahan bisa mencari pengalaman kerja lewat magang.

Selain itu, Erlangga menyebut kemampuan komunikasi bahasa asing dan kesiapan mental menjadi hal paling penting dimiliki oleh individu masa kini.

“Pertama yang paling perlu itu adalah bahasa, dan berani keluar dari zona nyaman,” pesan dia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index