JAKARTA - Istilah neuroplastisitas saat ini terdengar semakin akrab di telinga generasi muda.
Lewat bermacam platform media sosial, konsep ini sering dikaitkan dengan kegiatan meditasi, pengisian jurnal, penerapan puasa dopamin, sampai berbagai kebiasaan harian yang diklaim bisa membantu proses penataan kembali fungsi otak.
Padahal, konsep neuroplastisitas itu sendiri ialah suatu teori ilmiah yang menjelaskan mengenai kemampuan organ otak untuk selalu beradaptasi dengan menciptakan koneksi saraf baru sebagai respons terhadap pengalaman dan kebiasaan.
Salah satu prinsip mendasar dari gagasan ini menyebutkan bahwa aktivitas yang dilakukan secara terus-menerus bakal tertanam kian kuat. "Neuron yang aktif bersama akan terhubung bersama. Artinya, semakin sering suatu pola pikir atau perilaku diulang, semakin kuat jalur saraf yang terbentuk di otak," kata neuropsikolog Donald Hebb, dikutip dari Neuro Skills.
Tingginya perhatian dari kalangan muda terhadap fenomena tersebut dinilai sebagai sesuatu yang wajar.
Di sela paparan media sosial, rasa khawatir, dan keletihan mental, banyak remaja sekarang mulai rutin bermeditasi, menjaga pola tidur, melatih teknik pernapasan, hingga tekun menulis buku harian guna mengembalikan kesehatan mental mereka.
Meski beberapa rutinitas tadi mempunyai dasar penelitian ilmiah, para ahli tetap mengingatkan bahwa proses perubahan pada organ otak tidak bisa terjadi secara instan.
Menurut laporan Times Now, mengubah pola pikir ataupun menyembuhkan respons dari trauma masa lalu tidak dapat diselesaikan cuma dengan mengandalkan program tantangan satu bulan, melainkan butuh proses yang lama, pengulangan yang konsisten, dan terkadang memerlukan pengawasan dari psikolog atau psikiater.
Seorang ahli neurologi Dr. David Perlmutter pun menegaskan bahwa kapasitas organ otak untuk bertransformasi pada hakikatnya adalah hal yang nyata. "Kemampuan neuroplastisitas memungkinkan otak terus beradaptasi terhadap pengalaman dan perubahan yang dialami seseorang sepanjang hidupnya," ungkapnya.
Namun, kemampuan natural itu tidak lantas mengindikasikan bahwa sistem otak dapat berubah haluan hanya dalam waktu semalam.
Serupa dengan ketika membangun sebuah pola hidup baru, proses penyusunan kembali fungsi otak ini selalu membutuhkan konsistensi serta berlangsung melalui tahapan yang berjenjang.