JAKARTA - Di antara puluhan ribu artefak kuno yang dirawat di berbagai museum dunia, terdapat sebuah patung mini yang masih menyelimuti diri dengan misteri.
Objek ini hanya memiliki tinggi 17 sentimeter, dipahat dari bahan marmer putih susu, serta tidak dibekali bagian mulut.
Kendati demikian, bagian kepalanya mendongak ke arah atas, dan matanya yang berwujud titik kecil seakan tengah menatap ke langit luas.
Artefak tersebut dinamai The Stargazer, sang penatap bintang.
Dan sampai detik ini, belum ada satu orang pun yang mengerti secara pasti apa makna di baliknya.
The Stargazer merupakan sebuah figurin marmer yang tercipta sekitar tahun 3000 SM, dikerjakan oleh suatu peradaban yang pernah menetap di wilayah Anatolia barat, daerah yang saat ini menjadi bagian dari negara Turki.
Masyarakat dari kebudayaan ini sama sekali tidak mewariskan catatan tertulis apa pun mengenai arti dari karya-karya buatan mereka.
Hingga saat ini, cuma ada kisaran 30 figurin sejenis yang sukses dijumpai di seluruh penjuru dunia, di mana seluruhnya berasal dari era yang seragam.
Namun, mayoritas dari patung tersebut ditemukan dalam keadaan rusak lantaran sengaja dipatahkan pada area leher sebelum dipendam di dalam tanah ribuan tahun silam.
Hal itulah yang menjadikan figurin yang kini disimpan di Cleveland Museum of Art (CMA) ini teramat istimewa.
Objek tersebut menjadi salah satu contoh yang paling utuh sekaligus paling sempurna dari jenisnya yang pernah ditemukan oleh manusia.
Patung ini mempunyai ukuran tinggi berkisar 17,2 sentimeter dengan bobot menembus angka 454 gram.
Wujudnya secara gamblang merepresentasikan bentuk tubuh manusia, walau disajikan secara sangat abstrak serta minimalis.
Bagian kepala ovalnya yang berukuran besar mendongak ke arah belakang.
Sepasang mata yang berwujud titik kecil tampak memandang ke arah atas.
Sama sekali tidak terdapat guratan mulut yang dipahat pada bagian wajahnya.
Pada area di bawah pinggang, terdapat guratan garis halus yang membentuk segitiga kemaluan, mengindikasikan bahwa figur ini sengaja ditampilkan sebagai sosok perempuan.
Ada satu rincian penting lainnya bahwa The Stargazer tidak dirancang untuk dapat berdiri secara mandiri.
Hal ini memberikan petunjuk bahwa objek tersebut diproduksi untuk digenggam oleh tangan atau diletakkan dengan posisi merebah.
"Sengaja digambarkan sebagai perempuan, ia mungkin diasosiasikan dengan kesuburan dan kelimpahan," tulis sejarawan seni Amanda Mikolic.
Oleh karena peradaban yang memproduksinya tidak meninggalkan sistem bahasa tertulis apa pun, esensi sejati dari The Stargazer tetap terkunci sebagai teka-teki.
Sejumlah dugaan awal telah dikemukakan oleh para ahli.
Objek ini kemungkinan menjadi sarana pemujaan yang berkaitan dengan tingkat kesuburan wanita serta roda kehidupan, selaras dengan tren figurin perempuan minimalis yang turut ditemukan di beragam area Mediterania, termasuk figurin Cycladic yang tersohor dari kepulauan Yunani.
Ada pula kemungkinan lain, sebagaimana yang dicatat oleh Arielle Kozloff selaku mantan kurator seni kuno di CMA, bahwa objek tersebut merupakan sebuah "objek devosional penting bagi kebudayaan yang kini telah lenyap."
Namun, apa alasan yang membuat kepalanya mendongak ke arah atas?
Apa sebab matanya terus memandang ke arah langit?
Apakah objek ini sedang memuja gugusan bintang, berkomunikasi dengan dewa, atau tengah memantau sesuatu yang tidak dapat kami bayangkan lagi pada masa sekarang?
Rentetan pertanyaan tersebut masih belum menemukan titik terang.
Berdasarkan laporan Live Science, jejak perjalanan panjang dari figurin ini sendiri telah menjadi sebuah narasi yang sangat memikat.
Sebelum resmi menjadi bagian dari koleksi CMA, The Stargazer sempat berada di bawah kepemilikan Nelson Rockefeller, seorang tokoh filantropi dari dinasti industri paling kaya di Amerika sekaligus mantan Wakil Presiden Amerika Serikat pada masa pemerintahan Gerald Ford.
Dari genggaman sosok yang memiliki segala kemewahan, patung mini tanpa mulut ini kemudian berpindah tempat menuju museum, lokasi di mana ia sekarang memikat pandangan dari ribuan pengunjung di setiap tahunnya.
Dampak yang dihadirkan oleh The Stargazer beserta figurin perempuan abstrak sejenis rupanya meluas hingga ke luar ranah arkeologi.
Kozloff mengemukakan bahwa figurin-figurin abstrak seperti ini terbukti telah memberikan inspirasi bagi para maestro aliran kubisme di awal abad ke-20, yang mempopulerkan sudut pandang baru dalam melihat wujud manusia yang disederhanakan serta didekonstruksi.
Rantai pengaruh yang mempertemukan sang pemahat anonim di wilayah Anatolia pada 5.000 tahun silam dengan sosok Picasso serta para seniman kubis di Paris menjadi salah satu migrasi gagasan yang paling mencengangkan dalam lini sejarah seni.
"Ia memberi kami rasa keabadian, mendorong pemirsa untuk merenungkan tempat dan peran umat manusia dalam kosmos yang lebih luas," tulis Mikolic.