Gen Z Tinggalkan TV, Mengapa Anak Muda Pilih Streaming?

Gen Z Tinggalkan TV, Mengapa Anak Muda Pilih Streaming?
Televisi sempat menjadi platform utama yang paling diincar oleh para produser film.

Jakarta - Televisi sempat menjadi platform utama yang paling diincar oleh para produser film. Namun, kejayaan tersebut mulai goyah seiring pesatnya perkembangan internet dan media digital. Kebiasaan generasi masa kini, atau yang akrab disapa Gen Z, perlahan membuat beberapa hal mulai langka, seperti mesin fotokopi, surat kabar cetak, hingga (mungkin) televisi konvensional.

Fenomena pergeseran ini menjadi topik diskusi yang hangat dalam ajang Venice Film Festival. Salah satu sesi menyoroti bagaimana target pasar industri perfilman telah mengalami transformasi besar. Para produser mengakui bahwa anak muda zaman sekarang-yang seharusnya menjadi pasar paling potensial-sangat sulit dijangkau, terutama untuk program televisi seperti serial.

"Kami terus berupaya mencari audiens yang sudah tidak lagi menonton TV. Kami sangat mahir merangkul milenial dan generasi yang lebih tua, tetapi mendekati anak muda hari ini luar biasa menantang. Ini menjadi problem utama bagi seluruh penyedia siaran publik," ungkap Diana Tabakov, perwakilan dari Ivysilani, sebuah platform streaming asal Ceko.

Menurut analisisnya, mayoritas anak muda jauh lebih betah menghabiskan waktu di internet, baik untuk berselancar di media sosial maupun menikmati konten di sana.

"Generasi muda menganggap televisi adalah tontonan yang hanya diperuntukkan bagi orang tua," tambahnya.

Perubahan paling mencolok yang sempat memicu kebingungan audiens adalah menjamurnya platform streaming. Ingatkah Anda saat Netflix menjadi satu-satunya raja di ranah ini? Mengutip dialog dari serial Malcolm in the Middle, "Masa depan adalah sekarang, Pak Tua."

Era keemasan itu kini telah lewat. Selama puluhan tahun, studio film dilarang memiliki atau mengoperasikan bioskop sendiri akibat Dekrit Paramount-regulasi tahun 1930-an yang dibuat untuk mencegah monopoli, sebelum akhirnya dibatalkan oleh Mahkamah Agung pada tahun 2020.

Kini, hampir tiap studio raksasa meluncurkan layanan streaming mandiri yang menyajikan konten orisinal dan eksklusif. Dampaknya, total biaya langgangan dari berbagai platform ini justru membengkak dan kerap melebihi tarif langganan TV kabel konvensional.

Kondisi tersebut memaksa penyedia platform mencari strategi baru demi meraup keuntungan finansial. Memproduksi konten eksklusif demi menggaet pelanggan baru hanya efektif bagi raksasa seperti Netflix dan Prime Video. Akhirnya, banyak penyedia layanan yang mulai menyisipkan iklan di tengah program demi mendongkrak profit dan memuaskan para pemegang saham.

Tantangan terbesar dari TV konvensional adalah sifatnya yang kaku; penonton wajib menunggu jadwal tayang film atau acara favorit mereka. Kehadiran platform streaming berhasil menghapus batasan waktu tersebut.

Namun uniknya, Disney+ baru-baru ini dikabarkan tengah merancang saluran langsung (live channels) di dalam platform mereka. Saluran ini akan menayangkan film dan series secara berurutan secara otomatis. Konsep yang sejatinya bukan hal baru, karena mengadopsi cara kerja televisi konvensional.

Berdasarkan data dari BBC, tercatat hanya 48 persen anak muda yang masih menonton televisi, dengan durasi rata-rata hanya 33 menit per hari. Angka ini merosot hingga 16% dibanding tahun sebelumnya. Sebaliknya, kelompok anak muda ini menghabiskan waktu tiga kali lipat lebih lama untuk mengakses platform media digital lain seperti TikTok dan YouTube.

Kendati TV meredup, industri radio justru membawa kabar baik. Data kuartal pertama 2024 menunjukkan jumlah pendengar radio mingguan lewat berbagai gawai mencapai angka tertinggi dalam 20 tahun terakhir, yakni hampir menembus 50 juta pendengar. Durasi mendengarkan radio pun meningkat menjadi rata-rata 20,5 jam per minggu.

Kesimpulan

Pergeseran konsumsi media tidak dapat dihindari. Anak muda era Gen Z kini menjadi penggerak utama redupnya televisi konvensional karena mereka lebih memilih fleksibilitas yang ditawarkan oleh platform streaming dan media digital seperti YouTube atau Netflix. Meskipun industri televisi mencoba beradaptasi dengan menghadirkan fitur mirip TV di platform digital, minat generasi muda tetap mendominasi pasar modern, sementara radio secara mengejutkan justru mengalami kebangkitan tren yang positif.

FAQ

1. Mengapa anak muda saat ini mulai meninggalkan televisi? 
Anak muda (Gen Z) menilai televisi konvensional terlalu kaku karena harus mengikuti jadwal tayang. Mereka lebih menyukai kontrol penuh atas apa yang mereka tonton melalui internet dan perangkat digital.

2. Apa platform yang paling sering diakses anak muda sebagai pengganti TV? 
Mereka menghabiskan waktu tiga kali lipat lebih banyak di platform media digital interaktif dan visual seperti YouTube dan TikTok, serta platform streaming film.

3. Mengapa biaya langganan streaming kini terasa makin mahal? 
Karena saat ini hampir setiap studio besar memiliki platform sendiri (tidak hanya berpusat di Netflix). Untuk menonton berbagai konten eksklusif yang berbeda, pengguna terpaksa berlangganan banyak aplikasi sekaligus yang total biayanya bisa melebihi TV kabel.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index