Jelang Piala Dunia 2026: Harga Tiket Hingga Isu Geopolitik Jadi Sorotan

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:30:02 WIB
Pemandangan umum eksterior Lincoln Financial Field, tempat penyelenggaraan Piala Dunia FIFA 2026.

AMERIKA SERIKAT - Menjelang Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat pada 11 Juni hingga 19 Juli, suasana persiapan turnamen justru diwarnai berbagai kontroversi.

Bukan hanya soal antusiasme, sejumlah isu mulai dari harga tiket hingga hak siar menjadi perbincangan hangat di kalangan penggemar sepak bola.

Kritik juga muncul terhadap penyelenggaraan yang dinilai semakin komersial dan kurang ramah suporter.

Di sisi lain, faktor politik global turut memengaruhi dinamika jelang turnamen terbesar dunia ini.

Dikutip dari berbagai sumber, berikut adalah lima topik utama yang saat ini menjadi sorotan menjelang kick-off Piala Dunia 2026:

Salah satu sorotan terbesar datang dari harga tiket pertandingan yang dinilai terlalu mahal.

Sistem dynamic pricing dan pasar resale yang tidak terkontrol di Amerika Serikat bahkan membuat sebagian tiket final disebut-sebut mencapai harga hingga 2 juta dollar AS.

Kondisi ini memicu kritik tajam dari fans, politisi, hingga pengamat sepak bola.

Sebagai respons, sejumlah kota tuan rumah menghadirkan alternatif berupa fan festival gratis.

Di kota seperti Toronto, New York City, Atlanta, hingga Vancouver, suporter bisa menonton pertandingan bersama di ruang publik dengan suasana meriah, tanpa harus membeli tiket stadion yang mahal.

CNN pada Senin (11/5/2026) melaporkan, antusiasme terhadap festival ini tinggi.

Di Toronto, gelombang pertama tiket gratis dilaporkan habis dalam waktu empat jam.

Di luar urusan sepak bola, tensi geopolitik juga ikut memengaruhi persiapan turnamen.

Konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran menimbulkan pertanyaan soal keamanan dan partisipasi tim Iran di turnamen ini.

Meski sempat muncul kekhawatiran Iran akan ditolak, Presiden FIFA Gianni Infantino memastikan bahwa tim nasional Iran tetap akan tampil di Piala Dunia 2026.

Namun, pemerintah Iran meminta jaminan dan klarifikasi terkait keamanan serta sikap negara tuan rumah.

Kritik juga mengarah pada dugaan komersialisasi berlebihan oleh FIFA.

Salah satunya adalah peluncuran kaus edisi terbatas kota tuan rumah seharga sekitar 375 dollar AS per item, dengan jumlah terbatas hanya 999 unit per kota.

Dikutip dari Al Jazeera, banyak fans menilai langkah ini menunjukkan bahwa pengalaman suporter semakin “dikomersialisasi”, bukan lagi berfokus pada aksesibilitas dan kenyamanan penonton.

Di media sosial, sebagian penggemar bahkan menyindir bahwa merchandise tersebut lebih terasa seperti barang koleksi mahal daripada simbol perayaan sepak bola.

Isu lain yang juga menjadi perhatian adalah hak siar.

Hingga kini, belum ada kesepakatan resmi mengenai penyiaran Piala Dunia di dua pasar terbesar dunia, yakni India dan China.

Padahal, pada Piala Dunia 2022, China tercatat menyumbang hampir separuh total waktu tontonan digital global.

Ketidakpastian ini membuat jutaan penggemar di kedua negara berpotensi kesulitan mengakses siaran resmi.

FIFA sendiri mengeklaim telah menjalin kerja sama penyiaran di lebih dari 175 wilayah, namun absennya kesepakatan di dua negara besar tersebut masih menjadi tanda tanya besar.

Piala Dunia 2026 juga mencatat sejarah baru dengan menggelar tiga upacara pembukaan terpisah di masing-masing negara tuan rumah, sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Meksiko akan membuka turnamen dengan pertunjukan musik dan pertandingan perdana, disusul Amerika Serikat dan Kanada yang juga akan menghadirkan artis internasional seperti Katy Perry, Alanis Morissette, Michael Bublé, hingga bintang K-pop Lisa.

Sementara itu, penyanyi Shakira juga dipastikan merilis lagu resmi turnamen, meski tidak tampil di panggung pembukaan.

Jelang satu bulan lagi menuju kick-off, Piala Dunia 2026 tampaknya masih akan terus menjadi bahan perdebatan.

Di satu sisi, turnamen ini menjanjikan skala terbesar dalam sejarah dengan 48 negara peserta.

Namun di sisi lain, berbagai isu mulai dari harga tiket, politik global, hingga akses siaran membuat euforia sepak bola dunia belum benar-benar terasa merata.

Terkini