Tips Pakar: Jangan Asal Simpan Daging Kurban Idul Adha

Kamis, 28 Mei 2026 | 13:10:18 WIB
Pembagian Daging Hewan Kurban. (Sumber: NET)

SURABAYA - Melimpahnya stok daging kurban sewaktu Idul Adha menjadi berkah tersendiri untuk masyarakat.

Sayangnya, tidak setiap orang mengerti cara memperlakukan daging tersebut secara tepat.

Padahal, pengelolaan yang salah dapat berakibat fatal pada mutu serta keamanan konsumsi.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, Mustofa Helmi Effendi, mengingatkan bahwa risiko pencemaran terhadap daging kurban sudah dapat berlangsung sejak ritual penyembelihan berjalan sampai daging selesai diolah.

Ia memaparkan bahwa metode penyembelihan hewan kurban di Tanah Air mayoritas masih bertumpu pada cara tradisional, sehingga rawan terhadap penularan bakteri jika standar kebersihan serta pengelolaannya dikesampingkan.

Lebih jauh, Mustofa mewanti-wanti bahwa daging dan jeroan wajib disekat secara jelas untuk menjauhkan kontaminasi silang.

Ia juga mewanti-wanti supaya daging jangan dibiarkan menempel langsung dengan area tanah.

Persoalan lain yang ikut menjadi perhatian ialah minimnya wawasan teknis pada kelompok warga yang berkontribusi dalam aktivitas pemotongan hewan.

Menurutnya, banyak agenda penyembelihan berjalan di luar Rumah Potong Hewan (RPH) resmi.

“Sehingga banyak orang yang tidak mengerti teknik pemotongan, teknik pencacahan, dan teknik pengulitan, ikut ambil bagian (dalam pemotongan hewan kurban),” ujar Mustofa, Rabu (27/5/2026).

Melihat dari sudut distribusi, ia memandang pembagian daging bagi warga juga masih memiliki celah higienitas.

Pemanfaatan kantong plastik hasil daur ulang, contohnya plastik hitam, dinilai berisiko merusak kualitas daging.

Ia menganjurkan supaya distribusi memakai pembungkus berbahan food grade yang minim cemaran.

Guna penyimpanan, pakar kesehatan masyarakat veteriner ini memberi saran agar daging diiris dalam porsi kecil terlebih dahulu sebelum disimpan ke dalam lemari es maupun freezer, untuk memelihara kualitasnya lebih awet.

Secara garis besar, Mustofa menegaskan bahwa tolok ukur keamanan pangan daging kurban di Indonesia mesti bertumpu pada empat pondasi, yaitu aman, sehat, utuh, dan halal.

Dengan poin kehalalan sebagai landasan primer yang tidak dapat diabaikan.

"Dalam konteks ibadah kurban, kehalalan adalah hal yang harus diprioritaskan sebelum berbicara soal aspek keamanan pangan lainnya," tegasnya.

Ia juga mengimbau pelibatan petugas dokter hewan pada tiap tingkatan pengecekan, baik sebelum ataupun sesudah penyembelihan, sebagai tindakan menggaransi daging yang dibagikan betul-betul layak serta aman dimakan.

Jika seluruh tahapan ini dijalankan dengan disiplin, daging kurban yang diperoleh dipercaya bakal melengkapi seluruh standar aman, sehat, utuh, dan halal.

Terkini