Media Internasional Soroti Rupiah yang Anjlok ke Rp 18.000

Jumat, 05 Juni 2026 | 17:03:37 WIB
Ilustrasi Sejarah Nilai Tukar Rupiah.(Sumber:NET)

JAKARTA - Berbagai media internasional memberikan sorotan tajam terhadap nilai tukar rupiah yang semakin melemah di hadapan dollar AS.

Pada Kamis (4/6/2026), mata uang Indonesia ini jatuh hingga menyentuh angka Rp 18.000 per 1 dollar AS, yang menjadi rekor kemerosotan paling dalam sepanjang sejarah Republik Indonesia.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berpandangan bahwa penurunan nilai mata uang rupiah ini lebih banyak disebabkan oleh dinamika sentimen serta kabar burung yang beredar di pasar uang.

"Kalau kami lihat, pelemahannya satu-dua hari ini karena ada berbagai isu dan rumor di pasar. Ada yang billing saya menyuruh perbankan melakukan stress test kalau rupiah di atas Rp 18.000 per dollar AS. Padahal saya tidak pernah mengatakan hal seperti itu," kata Purbaya, dikutip dari Kompas.com, Kamis (4/6/2026).

Walau demikian, Purbaya memastikan bahwa indikator fundamental ekonomi serta postur anggaran fiskal tanah air masih dalam keadaan kokoh. Dirinya pun optimistis nilai tukar rupiah akan segera terangkat naik lagi.

"Harusnya akhir bulan sudah mulai kelihatan penguatnya. Dan nanti saya pikir begitu rumor-nya sudah mulai hilang, ini akan naik juga rupiah. Soalnya fundamentalnya bagus, enggak ada masalah ekonominya," ucap Purbaya.

Di pihak lain, Bank Indonesia (BI) menyatakan ketegasan sikapnya untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah lewat pemanfaatan berbagai instrumen kebijakan yang tersedia.

"BI akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta senantiasa hadir di pasar dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat ketahanan eksternal," tutur Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso.

Lalu, media internasional apa sajakah yang mempublikasikan anjloknya nilai mata uang Rupiah ini?

Media asal China, Xinhua Net, soroti pelemahan rupiah ke level Rp 18.000 Media komunikasi dari China, Xinhua Net, merilis artikel berita berjudul "Indonesian rupiah weakens beyond 18,000 per dollar" pada Kamis, 4 Juni 2026.

Dalam ulasan tersebut dijelaskan bahwa Rupiah Indonesia terjungkal melewati level psikologis Rp 18.000 per dolar AS pada Kamis (4/6/2026) pagi akibat dampak ketidakpastian kondisi global dan publikasi data ekonomi Amerika Serikat yang melampaui estimasi awal.

Berdasarkan data dari kantor berita nasional Antara seturut pergerakan pasar, nilai mata uang rupiah menyusut sebesar 0,27 persen ke angka Rp 18.015 per dolar AS, yang melengkapi total kemerosotan nilainya sepanjang tahun ini hingga melewati angka 7 persen.

Banyak analis menilai bahwa tingginya permintaan terhadap mata uang dolar AS disokong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah, yang dibarengi dengan kuatnya data sektor jasa serta serapan tenaga kerja di AS, sementara iklim sentimen di dalam negeri masih cenderung mandek.

"Rupiah diperkirakan akan tetap berada di bawah tekanan seiring menguatnya dolar AS," papar pengamat mata uang Lukman Leong. Dirinya memprediksi bahwa fluktuasi nilai tukar rupiah ke depan masih akan bergerak dinamis pada kisaran Rp 17.900 hingga Rp 18.050 per dolar AS.

Pihak Bank Indonesia pada Rabu (3/6/2026) menekankan bakal konsisten menjalankan langkah yang terukur guna mengendalikan stabilitas rupiah dengan mengoptimalkan seluruh kekuatan kebijakan yang dimiliki, sekaligus memastikan ketersediaan likuiditas valuta asing tetap terjaga dengan baik.

Sebelumnya, pada Rabu (20/5/2026), Bank Indonesia juga telah menaikkan tingkat suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen sebagai tindakan nyata dalam memperkuat posisi rupiah di tengah tren memburuknya situasi global.

Langkah kenaikan ini sekaligus mengakhiri tren mendatar selama delapan bulan berturut-turut di mana suku bunga acuan terus dipertahankan pada level yang sama.

Media Singapura, The Straits Times, soroti kejatuhan Rupiah terhadap Dolar Singapura hingga Rp 14.000

Media yang berpusat di Singapura, The Straits Times, mengedarkan laporan berita dengan tajuk "Rupiah crosses 14,000 per Singapore dollar for first time" pada Rabu (3/6/2026).

The Straits Times menyoroti performa pasar saham Indonesia pada Rabu (3/6/2026) yang rontok ke level paling rendah dalam jangka waktu lima tahun terakhir, bersamaan dengan posisi rupiah yang kembali menorehkan rekor kejatuhan terdalam.

Kondisi ini menggambarkan adanya kecemasan para pemodal atas tingginya harga minyak dunia yang terus menekan anggaran keuangan negara.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terpangkas sampai 5,2 persen sebelum akhirnya ditutup merosot 4,1 persen.

Lewat akumulasi pelemahan sekitar 32 persen di sepanjang tahun 2026, indeks domestik tersebut mencatatkan diri dengan kinerja paling buruk tahun ini di antara total lebih dari 90 indeks saham dunia yang dipantau oleh Bloomberg.

Sementara itu, rupiah melemah sekitar 0,5 persen terhadap dollar AS maupun dollar Singapura, menjadikannya sebagai mata uang dengan kinerja paling merosot di kawasan Asia, sejalan dengan peningkatan harga minyak mentah Brent selama tiga hari beruntun.

Pada pukul 17.24 waktu Singapura, rupiah berada di angka 14.001 per dolar Singapura, atau terkoreksi mendekati 0,3 persen dari posisi penutupan pada hari sebelumnya.

Perlu dipahami bahwa di sepanjang tahun 2026 berjalan, rupiah sudah melemah sebesar 8,6 persen di hadapan dolar Singapura.

Rupiah tercatat mengalami penurunan nilai sekitar 7 persen terhadap dolar AS sepanjang tahun 2026, menempatkannya sebagai mata uang berkinerja paling buruk di jajaran negara-negara berkembang dalam pantauan Bloomberg.

IHSG pun mencetak tren penurunan di setiap bulan sepanjang tahun 2026 dan berada pada jalur potensi kerugian tahunan paling masif sejak masa 2008.

Tingginya aksi jual oleh investor juga memicu Indonesia harus merelakan posisinya sebagai pasar saham terbesar di Asia Tenggara kepada Singapura, setelah sebelumnya sanggup mempertahankan predikat kepemimpinan tersebut selama lima tahun berturut-turut.

Data global memperlihatkan bahwa investor asing telah menarik dana keluar lebih dari 3,2 miliar dollar AS (setara dengan kisaran 4,1 billion dollar Singapura) dari bursa saham Indonesia di sepanjang tahun 2026.

Terkini