Rumah Ini Jatuh Harga dan Tak Laku Usai Tetangga Bangun Tembok Tahi

Rumah Ini Jatuh Harga dan Tak Laku Usai Tetangga Bangun Tembok Tahi
Tetangga membuat tembok kotoran setinggi 3 meter (FOTO: NET)

JAKARTA - Sebuah kisah tak biasa datang dari dunia properti Australia.

Seorang wanita mengaku tidak bisa menjual rumahnya karena kondisi lingkungan yang berubah drastis.

Tetangga barunya membangun struktur tidak lazim berupa 'tembok kotoran' setinggi sekitar 10 kaki atau hampir 3 meter di sekitar properti miliknya.

Dilansir New York Post, Jumat (5/6/2026), pemilik rumah bernama Megan Perry mengatakan kehidupannya berubah menjadi mimpi buruk sejak dua bersaudara membeli lahan luas di sekitar propertinya di Dooralong, New South Wales, Australia.

Menurut Perry, setelah lahan tersebut berpindah tangan, area di sekitar rumahnya mulai dipenuhi berbagai gangguan.

Mulai dari lalu lintas kendaraan yang mondar-mandir, kebisingan, hingga pembangunan tanggul tanah yang dicampur material kotoran ternak di sekitar pagar rumahnya.

Struktur tersebut kemudian membentuk semacam tembok setinggi sekitar 10 kaki yang mengelilingi sebagian area rumahnya. "Tumpukan yang sangat banyak," kata Perry seperti dikutip New York Post.

Ia juga mengaku kondisi tersebut membuat lingkungan rumahnya tidak lagi layak dihuni dengan nyaman.

Air kolam tidak bisa digunakan, debu menutupi rumah, hingga air keran yang berubah keruh.

Bahkan, menurutnya, kondisi tersebut membuat rumahnya tidak lagi diminati pasar. "Rumah kami sudah dianggap tidak bisa dijual," ujar Perry.

Rumah yang sebelumnya ditaksir senilai sekitar US$ 625.000 atau setara Rp 11 miliaran itu kini disebut tidak lagi memiliki daya jual akibat kondisi lingkungan yang dianggap tidak sehat dan tidak nyaman bagi calon pembeli.

Sejumlah agen properti bahkan menilai rumah tersebut sudah sangat sulit dipasarkan karena faktor psikologis dan lingkungan yang ekstrem.

Perselisihan antara pemilik rumah dan tetangga tersebut kini dilaporkan telah beberapa kali masuk ke ranah hukum, termasuk penerbitan perintah perlindungan sementara (protection order) serta pemeriksaan oleh pihak berwenang setempat.

Meski sempat ada perintah untuk membongkar struktur tersebut, pelaksanaannya tertunda karena proses perizinan dari pihak tetangga.

Perry juga mengaku tekanan psikologis yang dialaminya sangat berat.

Ia bahkan mengalami gangguan stres akibat kondisi lingkungan yang terus memburuk. "Begitu saya mendengar suara mesin, jantung saya langsung berdebar dan saya tidak bisa tidur," ujarnya.

Hingga kini, meski berbagai upaya hukum telah ditempuh, kondisi di sekitar rumah tersebut dilaporkan belum berubah signifikan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index