I Rate Naik 5,50 Persen, Saham Emiten Bank Langsung Melesat

Kamis, 11 Juni 2026 | 16:17:44 WIB
Ilustrasi IHSG (Sumber: NET)

JAKARTA - Emiten di sektor perbankan mengalami lonjakan harga saham usai Bank Indonesia (BI) mempublikasikan kebijakan penaikan suku bunga acuan (BI Rate) sebanyak 25 basis poin hingga menyentuh level 5,50 persen pada Selasa (9/6/2026).

Akan tetapi, laju penguatan tersebut dinilai belum memadai guna mengindikasikan selesainya tekanan pada industri perbankan.

Seorang analis yang juga menjabat Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama mengutarakan, lompatan harga saham perbankan merefleksikan tanggapan positif pelaku pasar atas kebijakan BI dalam mengendalikan stabilitas kurs rupiah serta menekan laju arus modal keluar (capital outflow).

"Namun menurut saya masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa tekanan pada saham perbankan sudah benar-benar selesai," kata Elandry kepada Kompas.com, Rabu (10/6/2026).

Menilik data milik RTI Business saat penutupan sesi perdagangan Rabu kemarin, jajaran saham bank papan atas serempak menguat.

Nilai saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) meroket sebesar 9,71 persen menuju level 5.650.

Di waktu yang sama, saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) terdongkrak 5,50 persen ke angka 3.450.

Tren positif juga dialami oleh saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang terapresiasi 4,16 persen ke posisi 4.260 serta saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang merambat naik 3,23 persen menuju level 2.880.

Walau begitu, Elandry memandang market masih dihadapkan pada beberapa agenda krusial yang berpeluang menyetir arah pergerakan saham perbankan dalam periode dekat.

Berdasar penuturannya, fokus para pemodal kini tertuju pada keputusan rapat Komite Pasar Terbuka Federal Reserve (FOMC) Amerika Serikat pada 16-17 Juni nanti yang bakal menetapkan proyeksi suku bunga global sekaligus pergerakan modal asing.

Bukan itu saja, pasar keuangan juga bakal melewati masa penataan ulang (rebalancing) indeks global MSCI pada akhir Juni yang kerap kali memicu rotasi modal asing secara teknikal, baik berupa aliran masuk maupun keluar dari market dalam negeri sehingga memicu potensi naiknya volatilitas pasar.

"Jadi pandangan saya belum banyak berubah. Penguatan saat ini lebih mencerminkan perbaikan market sentiment dan relief rally setelah koreksi yang cukup dalam," ucapnya.

Menurut Elandry, kans bagi kelanjutan tren penguatan masih terbuka lebar dengan catatan mata uang rupiah konsisten stabil, aliran modal luar negeri kembali mengalir ke pasar saham tanah air, serta konklusi sidang The Fed tidak memancarkan sinyal kebijakan yang terlampau agresif (hawkish).

"Jika rupiah terus stabil, foreign flow mulai kembali masuk, dan hasil FOMC tidak terlalu hawkish, maka peluang rebound berlanjut akan semakin besar," ujarnya.

Kendati demikian, untuk kurun waktu beberapa pekan ke depan dia memproyeksikan saham-saham perbankan masih akan melaju dalam pola mendatar (sideways) diiringi fluktuasi yang lumayan tinggi.

Sebelumnya, Elandry pun mengimbau bahwa potensi berlanjutnya tekanan pada saham perbankan masih ada selama pemodal asing getol melangsungkan aksi jual bersih (net sell), pergerakan rupiah labil, serta sentimen investor terhadap keadaan fiskal dalam negeri belum membaik.

Dipaparkannya, pelemahan harga yang terjadi belakangan ini lebih dominan dipengaruhi faktor sentimen pasar serta arus modal ketimbang penurunan pada kinerja fundamental perbankan itu sendiri.

"Jadi ketika sentimen mulai stabil positif dan dana asing kembali masuk, biasanya saham-saham bank juga jadi salah satu sektor yang paling cepat pulih," tuturnya.

Sebagai informasi tambahan, otoritas BI mengerek suku bunga acuan (BI rate) sebesar 25 basis poin ke level 5,50 persen di luar jadwal RDG Bulanan BI.

Oleh karena itu, suku bunga deposit facility ikut naik 25 basis poin menjadi 4,50 persen dan suku bunga lending facility juga terkerek 25 basis poin hingga menyentuh 6,25 persen.

Gubernur BI Perry Warjiyo memaparkan, langkah penaikan BI rate ini ditempuh guna menstabilkan nilai tukar rupiah yang sedang terdepresiasi akibat guncangan global dari eskalasi konflik di Timur Tengah.

"RDG Mingguan Bank Indonesia pada hari ini, tanggal 9 Juni 2026 memutuskan untuk kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (9/6/2026).

Terkini