MARATUA - Pemerintah mengubah cara pandang pembangunan area perbatasan dari yang mulanya hanya area penjaga kedaulatan kini menjadi beranda depan penghubung masyarakat pelosok dengan dunia luar.
Guna menyokong transformasi ini, Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengakselerasi pembangunan jaringan digital di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
Direktur Utama BAKTI Komdigi, Fadilah Mathar, menyebutkan bahwa penyediaan infrastruktur telekomunikasi di area perbatasan saat ini tidak cuma menyasar penjagaan batas negara, melainkan juga memicu peluang ekonomi serta menaikkan taraf kesejahteraan warga.
"Dari titik kedaulatan, beranjak menjadi kedaulatan dan ekonomi serta kesejahteraan. Wilayah terluar atau perbatasan bukan lagi sekadar garis kedaulatan melainkan beranda depan bangsa yang menghubungkan ekonomi lokal ke kawasan nasional atau internasional," ujar Fadilah saat memberikan paparan kepada sejumlah jurnalis dalam kunjungan media ke Berau, Kalimantan Timur, Selasa (10/6) malam.
Menurut Fadilah, pada mulanya area perbatasan dipandang menyerupai halaman belakang.
Di kisaran tahun 2016, Fadilah masih mendengarkan penuturan masyarakat di perbatasan seperti Nunukan atau Atambua yang mengaku memperoleh sinyal roaming lebih bagus dari Malaysia atau Timor Leste, ketimbang sinyal dari Indonesia sendiri.
"Karena pada saat itu, orientasi kami hanya menjaga kedaulatan secara fisik di lokasi-lokasi terluar dan perbatasan Indonesia. Kemudian itu berubah, sekarang kami sudah masuk ke paradigma baru yang menjadikan perbatasan sekaligus sebagai beranda ekonomi," lanjutnya.
Fadilah memaparkan, BAKTI mengemban tugas khusus untuk mendirikan akses telekomunikasi serta internet di area yang dinilai belum bernilai komersial bagi operator swasta.
Oleh sebab itu, titik berat pembangunan dipusatkan ke wilayah 3T yang selama ini kerap terbentur kendala geografis dan minimnya infrastruktur pendukung.
Sampai dengan saat ini, BAKTI sudah mengoperasikan lebih dari 31 ribu titik jaringan internet di bermacam penjuru Indonesia, mulai dari sekolah, puskesmas, kantor desa, hingga pusat layanan publik lainnya.
Di samping itu, ribuan BTS 4G juga sudah didirikan demi merambah daerah-daerah yang belum tersentuh layanan telekomunikasi secara layak.
Satu di antara capaian penting dalam pemerataan jaringan tersebut ialah penggunaan Satelit Republik Indonesia (SATRIA-1).
Pengoperasian satelit multifungsi ini membuat layanan internet mampu menjangkau wilayah-wilayah terpencil yang sukar ditembus oleh jaringan terestrial.