NEW JERSEY - Turnamen akbar Piala Dunia 2026 secara resmi menorehkan pencapaian baru dalam sejarah sepak bola sebagai kompetisi dengan jumlah kehadiran suporter paling masif sepanjang sejarah.
Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) merilis rincian data yang menunjukkan bahwa total total pasang mata yang menyaksikan langsung di stadion telah menembus angka 3.605.357 orang.
Pencapaian fantastis tersebut berhasil melampaui catatan rekor global sebelumnya yang diukir pada pesta bola Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat yang mencatatkan total hampir 3,6 juta kehadiran.
Kabar mengenai torehan sejarah ini disiarkan secara terbuka di tengah-tengah jalannya pertandingan babak penyisihan Grup E antara kesebelasan Jerman melawan Ekuador di Stadion MetLife, East Rutherford, New Jersey, pada Jumat (26/6/2026) dini hari WIB.
Pengumuman rekor mutakhir tersebut ditayangkan melalui layar lebar stadion dan langsung memanen gemuruh tepuk tangan apresiasi dari puluhan ribu suporter yang memadati tribune.
Mengutip laporan dari media BBC, akumulasi data tersebut masih berpeluang besar untuk terus bertambah dalam jumlah yang signifikan.
Tepat saat pemecahan rekor itu diumumkan, agenda Piala Dunia 2026 tercatat masih menyisakan 48 laga sisa.
Faktor inilah yang melandasi prediksi bahwa total akumulasi kehadiran penonton bakal terus merangkak naik secara tajam hingga partai final nanti.
Peluang lonjakan data tersebut dipandang kian terbuka lebar mengingat grafik keterisian kapasitas stadion di sepanjang turnamen ini berada pada level yang amat optimal.
Otoritas FIFA mencatatkan bahwa rata-rata persentase keterisian kursi penonton di dalam stadion telah melampaui angka 99 persen dari total daya tampung yang tersedia.
Lahirnya rekor luar biasa ini juga dipengaruhi oleh implementasi regulasi format baru Piala Dunia 2026 yang untuk kali pertama melibatkan partisipasi sebanyak 48 tim nasional.
Sebagai konsekuensinya, jumlah keseluruhan agenda laga melonjak drastis hingga menyentuh total 104 pertandingan.
Kuantitas jalannya laga tersebut mencatatkan perbandingan dua kali lipat lebih banyak jika disandingkan dengan pergelaran Piala Dunia 1994 yang kala itu hanya memainkan 52 pertandingan saja.
Meskipun menunjukkan tren yang sangat positif, beberapa kalangan pengamat berpendapat sebenarnya masih ada banyak fans sepak bola yang memiliki keinginan kuat untuk datang ke stadion namun terkendala situasi.
Seorang pakar ekonomi bidang olahraga dari College of the Holy Cross, Victor Matheson, menguraikan bahwa tingginya nominal harga tiket masuk menjadi salah satu faktor penahan bagi para fans.
Selain faktor biaya, kebijakan pembatasan akses perjalanan terhadap warga dari sejumlah negara tertentu yang dijalankan oleh kabinet Presiden AS Donald Trump dinilai ikut membendung arus kedatangan sebagian kelompok pendukung mancanegara.
Kendati dihantam oleh dinamika kendala tersebut, besarnya gairah dari pencinta bola sejagat tetap sanggup membuat kondisi arena stadion hampir selalu penuh sesak di sepanjang turnamen.
Seorang analis ekonomi olahraga dari University of San Francisco, Dan Rascher, memaparkan bahwa besarnya antusiasme publik Amerika Serikat dalam menyambut ajang olahraga berdimensi raksasa menjadi salah satu instrumen kunci di balik tingginya grafik kehadiran penonton di stadion.
"Orang-orang Amerika ingin menjadi bagian dari momen-momen besar," ujar Rascher, dikutip dari Reuters.