Keraton Solo Memanas, Aksi Cekcok Gusti Moeng Warnai Persiapan Upacara Adat

Senin, 06 Juli 2026 | 16:30:58 WIB
Gusti Moeng dan GRAy Devi terlibat adu mulut saat persiapan Labuhan Parangkusumo di Keraton Solo. (FOTO: NET)

SOLO - Dua kubu di internal Keraton Surakarta Hadiningrat berselisih saat salah satu pihak menyiapkan upacara adat Labuhan Parangkusumo di area keraton pada Minggu (5/7/2026).

Insiden ini melibatkan Ketua Lembaga Dewan Adat, GKR Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng, dengan KMT Ana Muji Rahayuning Tyas yang menjabat sebagai Bupati Estri PB XIV Purboyo.

Berdasarkan rekaman video yang beredar, Gusti Moeng dituding merintangi prosesi wilujengan yang digelar kubu PB XIV Purboyo.

Ia juga diduga mengacak-acak karpet serta perlengkapan upacara wilujengan hajad dalem Labuhan Parangkusumo dan melarang akses pintu Kamandungan dibuka.

Juru Bicara PB XIV Purboyo, KPA Singonagoro, mengonfirmasi terjadinya pertengkaran di lingkungan Keraton Solo tersebut.

Menurutnya, ketegangan bermula saat Bupati Estri Ana tengah merangkai sesajen di Sasana Parasdya sekitar pukul 09.30 WIB untuk meneruskan perintah PB XIV Purboyo.

“Sejatinya dari pagi itu sudah ada slenting-slentingan bahwa termasuk salah satunya Gusti Moeng itu tidak akan mau membukakan pintu Kamandungan, kayak gitu. Terus akhirnya puncaknya sekira jam 09.30 itu,” ujar Singonagoro dilansir dari Kompas.com, Minggu (5/7/2026).

Saat di Sasana Parasdya, Gusti Moeng bertemu dengan Bupati Estri Ana.

Menurut klaim Singonagoro, Gusti Moeng melontarkan kata-kata yang dianggap tidak pantas serta mengacak-acak karpet persiapan acara wilujengan.

“Di situ Mbak Ana ketemu dengan Gusti Moeng. Gusti Moeng ya sempat, sesuai dengan di video itu sempat ngata-ngatain segala macam itu. Terus sempat ngosak-asik karpet yang mau dipakai acara wilujengan di Sasana Parasdya,” imbuh Singonagoro.

Tindakan itu memicu emosi Bupati Estri Ana.

Adu mulut antara keduanya pun pecah di area persiapan upacara tersebut.

“Terus akhirnya Mbak Ana jengkelnya ya, karena selama ini kan memang dari pihak kami itu tidak pernah ngerusuhi mereka, atau mungkin apa, menghalang-halangi acara mereka," ungkap Singonagoro.

"Tiba-tiba Gusti Moeng kembali berulah dengan seperti itu, akhirnya Mbak Ana juga jengkel, sempat adu mulut berdebat di situ,” jelasnya.

Guna meredakan situasi, Bupati Estri Ana memanggil Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat, KPH Eddy Wirabhumi, agar menenangkan Gusti Moeng.

“Akhirnya, terus Gusti Moeng sama Kanjeng Wiro diajak turun itu,” ungkap Singonagoro.

Namun, situasi belum kondusif.

Singonagoro menyebut Gusti Moeng kembali terlibat cekcok dengan GRAy Devi Lelyana Dewi yang juga tengah mengurus prosesi Labuhan Parangkusumo.

Kelompok PB XIV Purboyo juga merasa terhambat karena akses pintu utama Kamandungan dikunci.

“Kami tidak dibukakan pintu Kamandungan tengah, seperti yang sudah-sudah kan kami biasanya kan memang kalau utusan dalem itu kan harus lewat tengah itu,” ujarnya.

Akibatnya, rombongan terpaksa melintas lewat jalur alternatif agar prosesi tetap terlaksana.

“Akhirnya kami lewat samping. Karena kan kami itu kan pada prinsipnya menjaga marwah keraton,” katanya.

Penutupan akses dan ketegangan tersebut menyebabkan waktu keberangkatan rombongan menuju Labuhan Parangkusumo mundur sekitar satu jam dari jadwal semula.

"Ya acaranya sempat tertunda, kurang lebih kami molor sampai satu jam dari jam yang ditentukan. Jadi kami agak siangan berangkatnya ke Pantai Parangkusumo akhirnya,” ujarnya dikutip dari TribunSolo, Minggu.

"Jadi kami tadi menyayangkan den

Terkini