JAKARTA – Maraknya pameran seni rupa belakangan ini ternyata belum memberikan dampak signifikan terhadap kenaikan harga karya para seniman di pasar nasional.
Frekuensi eksibisi yang tinggi di berbagai galeri saat ini lebih menonjolkan sisi publikasi dibandingkan penguatan nilai ekonomi karya.
Kurator seni independen, Agus Dermawan, berpendapat bahwa melimpahnya pameran tanpa seleksi kuratorial yang ketat justru berisiko menjenuhkan pasar kolektor.
"Pameran yang terlalu banyak dalam waktu singkat sering kali hanya menjadi ajang pamer tanpa diikuti transaksi yang kuat bagi keberlangsungan hidup seniman," ujar Agus Dermawan, saat wawancara di sebuah galeri seni pada, Selasa (28/4/2026).
Minat masyarakat untuk datang ke ruang pameran memang tercatat mengalami kenaikan sebesar 15 persen.
Namun data transaksi menunjukkan mayoritas pengunjung hanya sekadar menikmati visual tanpa niat melakukan pembelian serius.
Kondisi ini memaksa banyak pelaku kreatif untuk mencari strategi alternatif dalam meningkatkan nilai tawar mereka.
Ekosistem pasar seni rupa membutuhkan sinergi yang lebih dalam antara kolektor, galeri, dan pemerintah.
Terdapat setidaknya 20 pameran besar yang digelar dalam 1 bulan terakhir di Jakarta saja.
Keseimbangan antara kuantitas acara dan kualitas apresiasi finansial menjadi kunci utama pertumbuhan industri ini di masa depan.