Dedi Mulyadi Tawari PKL Cicadas Jadi Penyapu Jalan: Kota Bersih

Dedi Mulyadi Tawari PKL Cicadas Jadi Penyapu Jalan: Kota Bersih
Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi (KDM) melambaikan tangan kepada warga saat menaiki kuda. (Sumber: NET)

BANDUNG - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyodorkan tawaran pekerjaan sebagai petugas penyapu jalan kepada salah seorang pedagang kaki lima atau PKL di kawasan Cicadas, Kota Bandung, pascapembongkaran lapak usahanya.

Langkah penawaran kerja tersebut diserahkan kepada Hartoyo atau Abah Hartoyo, seorang pelaku usaha yang tercatat telah menjajakan kopi, rokok, aneka minuman ringan, hingga gorengan di seputaran Pasar Cicadas selama 23 tahun lamanya.

Dedi mengutarakan tawaran profesi baru itu seusai agenda sterilisasi serta penertiban PKL dilangsungkan di sepanjang trotoar area Cicadas.

Menurut penilaian Dedi, opsi profesi selaku petugas kebersihan lapangan dapat dijadikan jalan keluar atau alternatif terbaik bagi para pedagang yang tempat berjualannya telah dirobohkan.

"Kan ieu (kios) dibongkar. Bapak jadi petugas kebersihan di dieu (di sini). Si pedagang di sini berubah asalnya dagang rokok dapat Rp 40 ribu, jadi tukang sapu dapat Rp 130 ribu. Kota jadi bersih, rakyat dapat kerja," ujar Dedi Mulyadi.

Hartoyo tanpa ragu seketika menyambut positif penawaran profesi yang diberikan oleh orang nomor satu di Jawa Barat tersebut.

"Mau Pak, Siap," ujar Hartoyo.

Di samping menyodorkan alternatif lapangan pekerjaan baru, Dedi terpantau turut menggelontorkan sejumlah dana kompensasi tunai kepada Hartoyo.

Pada masa terdahulu, area fasilitas trotoar di sepanjang kawasan Cicadas dilaporkan terus-menerus disesaki oleh jajaran lapak PKL selama kurun waktu bertahun-tahun.

Tepat pada Senin (18/5/2026), puluhan bangunan kios PKL ditertibkan oleh barisan petugas gabungan dari unsur Satpol PP Jawa Barat, Satpol PP Kota Bandung, beserta jajaran aparat kewilayahan setempat.

Agenda pembersihan ruang publik tersebut dipimpin secara langsung oleh Dedi Mulyadi.

Satu hari selang operasi penindakan itu, yakni pada Rabu (19/5/2026), sejumlah pedagang kaki lima lainnya di seputaran kawasan Cicadas Market berinisiatif meruntuhkan kios dagang mereka secara mandiri.

Pasca-bergulirnya agenda penertiban tersebut, bentangan trotoar di sepanjang jalur itu kini tampak jauh lebih rapi serta telah dapat difungsikan kembali oleh para pejalan kaki.

Deretan bangunan toko permanen yang pada masa sebelumnya tertutup rapat oleh sebaran lapak PKL kini mulai terlihat kembali secara jelas dari arah jalan raya.

Keberadaan kelompok PKL di area trotoar Cicadas dilaporkan telah memadati kawasan pejalan kaki tersebut semenjak puluhan tahun silam.

Akumulasi jumlah pedagang kian melonjak drastis pasca-terjadinya hantaman krisis moneter pada periode tahun 1997.

Semenjak momentum sejarah itu, hampir seluruh ruang dari trotoar di sepanjang kawasan Cicadas berubah sesak oleh kehadiran tempat berjualan para pedagang.

Keadaan tersebut berimbas pada citra kawasan Cicadas yang senantiasa terkesan padat, kumuh, sekaligus semrawut.

Para pelaku usaha di sana menjajakan beraneka macam barang dagangan, mulai dari sektor kuliner makanan hingga produk mainan anak-anak.

Di era kepemimpinan Wali Kota Bandung Oded M Danial, kelompok PKL di kawasan tersebut sejatinya sempat difasilitasi tempat berjualan khusus yang didesain berbentuk kubus.

Fasilitas lapak semi permanen tersebut didirikan berjejer mulai dari area Gang Tekstil sampai menyentuh kawasan pertigaan Jalan Cikutra.

Akan tetapi, keberadaan dari sebaran lapak tersebut rupanya tidak serta-merta membuat tata ruang kawasan menjadi lebih teratur.

Sebaliknya, wajah wilayah Cicadas dinilai kian tertutup sekaligus terkesan kumuh lantaran keberadaan deretan toko di sepanjang jalan menjadi terhalang oleh struktur lapak PKL.

Implementasi kebijakan penataan sejenis itu berikutnya diteruskan pada periode kepemimpinan Wali Kota Bandung Yana Mulyana.

Fasilitas lapak berbentuk kubus tersebut tetap dipertahankan keberadaannya sehingga berimbas pada sejumlah toko di area Cicadas yang kian sulit dijangkau pandangan mata para calon pembeli.

Keberadaan dari struktur lapak PKL yang memblokade area depan toko pada gilirannya berimbas negatif terhadap kelancaran aktivitas bisnis sejumlah pemilik toko permanen.

Satu demi satu pelaku usaha toko di sepanjang Cicadas terpaksa gulung tikar karena tidak lagi dapat menjalankan kegiatan perniagaan secara normal.

Para pelanggan juga dikabarkan kian enggan untuk datang berbelanja dipicu oleh akses masuk serta tampilan fisik toko yang terblokir oleh lapak pedagang.

Padahal, pada masa kelampauan, wilayah Cicadas sangat kesohor sebagai pusat dari keberadaan sejumlah toko legendaris.

Beberapa di antaranya mencakup Toko Hen yang bertempat di seputaran Gang Tekstil, Toko Hajar penyedia komoditas buku di dekat Pasar Jembar, Toko King sebagai penjual alat tulis, Toko Setia Kawan selaku penyedia piranti listrik, serta Toko Timur yang berlokasi di dekat Gang Asep Berlian.

Kini, pelaksanaan sterilisasi PKL di kawasan tersebut diposisikan sebagai bagian dari misi keseriusan pemerintah dalam menata ulang prasarana trotoar agar kembali pada fungsi asalnya bagi pejalan kaki.

Dedi mengalkulasi, agenda penataan ruang ini bukan sekadar berorientasi pada penciptaan lanskap kota yang lebih bersih, melainkan turut membuka potensi serapan lapangan kerja baru bagi warga masyarakat yang terdampak.

 

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index