S3 Unair IPK 4.00, Rozi Buktikan Fisik Bukan Batasan Raih Mimpi

S3 Unair IPK 4.00, Rozi Buktikan Fisik Bukan Batasan Raih Mimpi
Dona Budi Kharisma, salah satu wisudawan Unair yang lulus S3 dengan IPK 4,00.(Sumber:NET)

JAKARTA - Keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang bagi seseorang untuk terus berkembang dan meraih impian. Prinsip ini dibuktikan secara nyata oleh Rozi.

Rozi, seorang penyandang disabilitas daksa, baru saja menyelesaikan pendidikan doktornya di Universitas Airlangga (Unair). 

Ia berhasil menuntaskan studi S3 dalam waktu 3 tahun 11 bulan dengan meraih IPK sempurna 4.00.

Kisah hidup Rozi menjadi inspirasi dan pendorong semangat bagi wisudawan lainnya. Lalu, bagaimana perjalanan perjuangan Rozi hingga berhasil mencapai tingkat pendidikan tertinggi ini?

Pemuda Asal Jambi dengan Mimpi Tinggi

Rozi lahir di kawasan pedalaman Jambi, tepatnya di Desa Markanding, Sungai Bahar, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Ia merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara.

Ia mengungkapkan bahwa keluarganya hidup dalam kesederhanaan dengan mengandalkan penghasilan dari berjualan ikan eceran. Namun, situasi ekonomi tersebut justru memotivasi Rozi untuk melanjutkan pendidikan hingga ke perguruan tinggi.

"Ayah saya mungkin tidak memahami apa itu jurnal internasional atau disertasi doktoral, tetapi dia mengajarkan kerja keras, ketulusan, dan semangat untuk tidak menyerah," tuturnya dikutip dari situs resmi Unair, Kamis (28/5/2026).

Keterbatasan Fisik Bukan Halangan

Dalam perjalanan hidupnya, Rozi harus menghadapi cobaan yang berat. Kedua kakinya terpaksa diamputasi, sehingga ia kini menjadi seorang penyandang disabilitas daksa.

Awalnya, ia sempat merasa sangat terpukul oleh keadaan tersebut. Meski begitu, ia tidak ingin larut dalam kesedihan dan memilih untuk bangkit demi melanjutkan masa depannya.

"Saya belajar bahwa manusia tidak selalu diuji untuk dijatuhkan, tetapi kadang diuji untuk menemukan versi terkuat dari dirinya," ucapnya.

Beruntung, Rozi selalu mendapatkan dukungan penuh dari pihak keluarga, termasuk selama ia menjalani program doktor saat ini.

"Kadang ketika saya merasa lelah, saya ingat bahwa mungkin ada doa ibu yang tidak pernah putus menyebut nama saya," sebut Rozi.

Tempuh Kuliah Sembari Mengajar

Rozi juga merupakan seorang dosen aktif di sebuah perguruan tinggi. Kesibukan yang padat sebagai pengajar dan peneliti tidak menyurutkan langkahnya untuk menyelesaikan kuliah S3.

Hasil dari kerja kerasnya itu berbuah manis dengan terbitnya dua artikel ilmiah internasional bereputasi Scopus Q1 serta tiga artikel Scopus lainnya. Selain itu, Rozi bahkan dipercaya untuk menjadi editor di jurnal internasional bereputasi Scopus.

Ia merasa sangat bersyukur karena pencapaian besar ini dapat diraih melalui jalur pendidikan. Ia percaya bahwa semua orang, termasuk kelompok disabilitas, mempunyai hak yang setara dalam mengenyam pendidikan.

"Pendidikan adalah hak semua orang. Keterbatasan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti belajar dan bertumbuh," papar Rozi.

Bagi dirinya, tantangan belajar bagi penyandang disabilitas bukan hanya terkait fasilitas fisik, melainkan juga kenyamanan untuk dihargai dan disetarakan.

"Kadang akses paling mahal bagi penyandang disabilitas bukan lift atau ramp, tetapi rasa diterima sebagai manusia yang setara," jelasnya.

Ia pun menyampaikan pesan kepada sesama penyandang disabilitas agar tidak mudah putus asa dalam mengejar mimpi menempuh pendidikan tinggi. Ia mengajak mereka untuk terus menjaga semangat dan tidak menyerah.

"Saya percaya setiap orang punya kesempatan untuk tumbuh dan berprestasi. Kadang yang dibutuhkan hanya ruang yang menerima mereka untuk berkembang," tutupnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index