JAKARTA - Merawat kesehatan gigi pada anak sering kali dinilai masyarakat sebatas langkah untuk menghindari risiko gigi berlubang ataupun keluhan sakit gigi.
Padahal, sebuah hasil riset terkini membuktikan bahwa kondisi kesehatan mulut nyatanya mempunyai hubungan yang amat dekat dengan kondisi mental serta kesejahteraan emosional seorang anak.
Temuan ilmiah yang dirilis oleh C.S. Mott Children's Hospital National Poll on Children's Health membeberkan fakta bahwa lebih dari sepertiga populasi anak mengalami kendala pada giginya.
Sejumlah pakar mengemukakan bahwa problem medis tersebut berpotensi mengikis rasa percaya diri, menghambat kecakapan dalam bersosialisasi, hingga mengganggu kestabilan emosi mereka.
Kesehatan gigi anak bisa memengaruhi kesehatan mentalnya
Masalah gigi masih dialami oleh satu dari tiga anak
Mengutip pemberitaan dari Parents pada Selasa (2/6/2026), sebuah penelitian yang melibatkan sebanyak 1.801 orang tua yang memiliki anak di rentang usia 4 hingga 17 tahun mendapati data bahwa lebih dari 36 persen anak mengalami kendala kesehatan gigi dalam kurun waktu dua tahun belakangan.
Kendala yang paling kerap dijumpai di lapangan mencakup kasus gigi berlubang atau kerusakan struktur gigi, terjadinya perubahan warna pada gigi, munculnya rasa linu atau gigi sensitif, hingga gangguan pada area gusi.
Fenomena ini menjadi sebuah indikator nyata bahwa urusan menjaga kesehatan mulut masih bertransformasi menjadi sebuah tantangan yang relatif besar bagi mayoritas keluarga.
Para peneliti pun turut menemukan indikasi bahwa anak-anak yang tergolong jarang menerapkan habituasi menjaga kebersihan gigi cenderung memikul risiko yang jauh lebih tinggi untuk mengidap gangguan kesehatan mulut dibandingkan dengan kelompok anak yang rutin melakukan perawatan gigi setiap hari.
Kebiasaan menyikat gigi yang kurang dapat memicu berbagai masalah kesehatan
Hasil pengumpulan data survei memperlihatkan bahwa hanya berkisar tiga dari lima orang tua yang mengklaim anak-anak mereka sudah disiplin menyikat gigi sebanyak dua kali dalam sehari.
Bukan hanya itu saja, kelompok anak laki-laki dilaporkan memiliki frekuensi yang lebih rendah dalam aktivitas menyikat gigi serta membersihkan sela gigi menggunakan benang (flossing) jika dikomparasikan dengan anak perempuan.
Berdasarkan pemaparan dari seorang dokter gigi yang juga bertindak selaku founder dari sistem perawatan mulut Supermouth, drg. Kami Hoss, problematika yang paling jamak muncul sebagai imbas negatif dari buruknya higienitas mulut adalah kasus gigi berlubang.
"Gigi berlubang menjadi masalah nomor satu, diikuti gingivitis, erosi enamel, dan ketidakseimbangan mikrobioma mulut yang dapat menyebabkan bau mulut kronis, gigi berlubang berulang, serta penyakit gusi dini," jelas Hoss.
Keadaan medis tersebut dinilai tidak sekadar memicu rasa tidak nyaman pada tubuh, melainkan berpotensi besar mengacaukan rutinitas harian anak, termasuk di dalamnya kelancaran proses belajar serta dinamika berinteraksi dengan teman-teman sebayanya.
Kesehatan gigi yang buruk dapat memengaruhi mental anak
Dampak nyata dari buruknya kebersihan mulut rupanya tidak melulu berhenti pada ranah gangguan fisik saja, melainkan sanggup merembet ke ranah psikis anak.
Sebuah riset ilmiah yang dipublikasikan secara resmi di dalam American Journal of Orthodontics menguak fakta bahwa bagian gigi bertransformasi menjadi salah satu aspek karakteristik fisik luar yang paling sering dijadikan sebagai objek tindakan perundungan atau bullying pada anak-anak usia sekolah.
Anak-anak yang menjadi korban ejekan akibat kondisi giginya dilaporkan memiliki grafik tingkat kepercayaan diri yang jauh lebih rendah serta memperlihatkan kecenderungan untuk tidak menyukai atmosfer lingkungan sekolah mereka.
Dalam proyeksi jangka panjang, akumulasi dari pengalaman buruk tersebut dapat meningkatkan eskalasi risiko terjadinya isolasi sosial hingga memicu gangguan depresi.
Persoalan ini dirasa kian relevan untuk dicermati di era gempuran media sosial seperti sekarang, di mana anak-anak dituntut menjadi jauh lebih sensitif dan sadar terhadap tampilan visual fisik mereka sejak usia yang masih sangat dini.
Mereka pun kedapatan sering kali membanding-bandingkan citra diri mereka dengan pajangan foto-foto digital yang sejatinya telah melewati proses penyuntingan ataupun polesan filter aplikasi.
Nyeri gigi juga dapat memengaruhi kondisi emosional anak
Di samping memberikan pengaruh pada aspek penampilan luar, problem gigi yang diabaikan tanpa penanganan medis yang tepat juga sanggup mendatangkan sensasi rasa sakit yang konstan dan berkepanjangan sehingga berimbas buruk pada kesehatan emosional.
"Anak yang memiliki gigi berlubang tetapi tidak diobati mungkin hidup dengan rasa sakit ringan setiap hari. Mereka sulit berkonsentrasi dan menjadi lebih mudah marah," kata Hoss.
Ia bahkan turut membeberkan temuan bahwa ada beberapa anak yang sempat dicap memiliki indikasi masalah penyimpangan perilaku, padahal faktor pemicu utamanya bersumber dari rasa nyeri gigi yang tidak pernah mendapatkan penanganan medis secara benar.
Menurut pandangan Hoss, jalinan korelasi antara kesehatan mental dengan kesehatan mulut sejatinya bergulir secara dua arah atau timbal balik.
Adanya gangguan pada gigi sanggup merusak kondisi psikis anak, sementara di sudut lain tingkat stres serta gangguan emosional yang dialami juga bisa memicu anak untuk semakin bersikap apatis dan mengabaikan kebersihan mulutnya sendiri.
Oleh sebab itu, para praktisi kesehatan memberikan penekanan yang mendalam mengenai krusialnya melatih kebiasaan menyikat gigi serta membersihkan area sela-sela gigi sejak usia dini.
Langkah preventif yang terbilang sederhana tersebut dipastikan tidak sekadar efektif dalam merawat kesehatan gigi saja, melainkan ikut andil dalam menyokong rasa percaya diri, rasa nyaman, serta stabilitas kesehatan mental anak dalam jangka panjang.