Tips Psikolog untuk Orang Tua demi Cegah Perilaku Menyimpang Anak

Tips Psikolog untuk Orang Tua demi Cegah Perilaku Menyimpang Anak
Ilustrasi Kebersamaan Anak dan Orang Tua. (Sumber: NET)

YOGYAKARTA - Tiap ayah dan ibu tentu mengharapkan anak mereka tumbuh memiliki kepribadian serta tingkah laku yang baik, sekaligus taat pada norma dan hukum yang berlaku.

Akan tetapi dalam kenyataan hidup, orang tua tidak dapat mengontrol penuh seluruh kegiatan anak sepanjang waktu, terutama saat mereka berada di luar rumah atau ketika mengakses internet dan media sosial.

Tak jarang, orang tua dibuat terkejut oleh perbuatan anak yang melanggar aturan, seperti mencuri, berjudi, atau tindakan lain yang bertentangan dengan hukum dan norma sosial.

Kondisi ini kerap memicu kekhawatiran, sebab perilaku keliru tersebut tidak hanya berpotensi merusak masa depan anak, tetapi juga merugikan orang-orang di sekitarnya.

Lalu, bagaimana langkah yang bisa diambil orang tua untuk memproteksi anak agar tidak terjerumus ke dalam perilaku menyimpang tersebut?

Seorang ahli psikologi dari Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta, Ratna Yunita Setiyani Subardjo, menjelaskan bahwa perilaku menyimpang atau deviant behavior sebenarnya tidak terjadi secara tiba-tiba.

“Dalam psikologi, perilaku ini tidak muncul tiba-tiba. Biasanya ada interaksi antara faktor individu, keluarga, teman sebaya, dan lingkungan,” ujar Ratna saat dihubungi Kompas.com, Jumat (5/6/2026).

Menurutnya, langkah pencegahan wajib mengutamakan kedekatan emosional, pengawasan, serta contoh nyata dari orang tua, yang mana poin-poin ini telah dibuktikan oleh berbagai penelitian.

Di bawah ini adalah empat metode yang dapat diterapkan oleh orang tua:

 1. Bangun hubungan kedekatan yang aman dan sehat

Berdasarkan teori attachment dari Bowlby dan Ainsworth, orang tua diharapkan dapat membangun secure attachment atau ikatan yang aman dengan anak.

“Anak yang memiliki hubungan aman dengan orang tua cenderung menginternalisasi nilai-nilai orang tua. Mereka merasa didengar dan diterima, sehingga lebih terbuka saat ada masalah,” jelas Ratna.

Bentuk nyata yang dapat dilakukan adalah menyediakan waktu sekitar 15–20 menit setiap hari untuk mengobrol bersama anak tanpa terganggu oleh ponsel, sekaligus menanyakan tentang keseharian mereka.

Orang tua juga disarankan untuk merespons perasaan yang dialami anak tanpa memberikan penilaian buruk.

“Kalimat seperti ‘Aku paham kamu kesal’ lebih efektif daripada ‘Sudah dibilang jangan!’,” tambahnya.

 2. Terapkan pola asuh otoritatif

Ratna menjelaskan bahwa pola asuh otoritatif merupakan kombinasi dari penerapan aturan yang tegas, pemberian penjelasan di baliknya, namun tetap memberikan kehangatan kepada anak.

"Ini paling protektif terhadap perilaku menyimpang," kata Ratna.

Ada perbedaan jelas dalam menunjukkan sikap otoritatif, otoriter, maupun permisif.

Dalam pola asuh otoritatif, orang tua akan lebih fokus memberikan penjelasan, argumen, dan jalan keluar.

Contoh nyatanya adalah sebagai berikut:

"Kamu nggak boleh merokok. Bahaya buat paru-paru dan aku khawatir. Kalau ada tekanan dari teman, kami cari cara mengatasinya".

Sebaliknya, sikap otoriter cenderung memaksa dan memberikan hukuman, seperti: “Pokoknya jangan! Kalau ketahuan nanti akan dihukum.”

Sementara sikap permisif cenderung menunjukkan ketidakpedulian pada anak, contohnya: "Perserah kamu deh".

Lebih lanjut, Ratna memaparkan bahwa riset membuktikan para remaja dengan orang tua otoritatif memiliki tingkat perilaku menyimpang, pelanggaran aturan, hingga penyalahgunaan obat-obatan yang lebih rendah dibanding remaja yang orang tuanya tidak menerapkan metode tersebut.

 3. Lakukan pengawasan dan supervisi

Berdasarkan teori Kontrol Sosial dari Hirschi, disebutkan bahwa perilaku menyimpang dapat muncul jika ikatan sosial dalam kondisi melemah.

"Orang tua dapat memperkuat ikatan itu lewat pengawasan yang wajar dan bukan memata-matai," jelas Ratna.

Metodenya adalah dengan mengetahui siapa saja teman bermain anak, aktivitasnya setelah pulang sekolah, hingga lokasi yang ia kunjungi.

Langkah lain yang bisa diambil adalah membuat kesepakatan mengenai aturan jam malam, pengelolaan uang, serta penggunaan gawai secara bijak.

4. Menjadi contoh teladan bagi anak

Berdasarkan teori Belajar Sosial dari Bandura, Ratna menerangkan bahwa anak-anak belajar lewat cara mengamati.

"Kalau orang tua suka ngomong kasar, melanggar aturan, atau merokok, pesan untuk tidak boleh melakukan hal serupa menjadi tidak kuat," kata Ratna.

Lebih jauh, ia menambahkan bahwa anak dapat melihat konsekuensi dari tindakan orang tua mereka lalu menirunya.

Kendati demikian, tidak ada jaminan yang pasti.

Ratna menegaskan bahwa tidak ada jaminan 100 persen anak tidak akan pernah melakukan tindakan menyimpang.

“Masa remaja adalah fase eksplorasi identitas,” ujarnya.

Meskipun begitu, ada beberapa indikator yang menunjukkan tingkat risiko yang lebih rendah, antara lain:

Memiliki kedekatan emosional dengan keluarga: Anak mau menceritakan masalah yang dihadapi tanpa takut dimarahi, serta masih menikmati waktu berkumpul bersama keluarga.

Mempunyai kontrol diri yang baik: Anak mampu menahan diri untuk tidak membeli barang mahal yang tidak penting, serta tetap fokus menyelesaikan tugas sekolah meski ada godaan bermain gim atau aktivitas hiburan lainnya.

Internalisasi nilai kebaikan: Anak menolak ajakan berbuat negatif karena tahu hal itu salah, bukan hanya karena takut ketahuan atau dihukum.

Hubungan yang positif dengan teman sebaya: Anak berada dalam lingkaran pertemanan dengan gaya hidup positif, prestasi belajar yang baik, serta tidak terlibat dalam aksi berbahaya.

Terlibat dalam organisasi atau lingkungan positif: Anak aktif mengikuti kepengurusan atau kegiatan ekstrakurikuler, serta memiliki sosok pembimbing atau mentor di luar keluarga.

"Kalau aspek di atas kuat, anak punya buffer saat ada tekanan dari lingkungan. Tapi ingat, remaja juga butuh ruang buat salah dan belajar. Tujuan pencegahan bukan membuat anak takut salah, tapi membuat mereka merasa aman untuk kembali kalau salah," jelas Ratna.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index