Brebes Siapkan Lahan Pengolahan Magot untuk Sampah MBG

Brebes Siapkan Lahan Pengolahan Magot untuk Sampah MBG
Korwil BGN Brebes, Arya Dewa Nugroho. (Sumber: NET)

BREBES - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah tidak hanya berfokus pada pemenuhan nutrisi anak, tetapi juga menginisiasi solusi kreatif dalam manajemen limbah.

Forum Mitra Ketahanan Gizi Brebes akan memaksimalkan peran magot (larva lalat Black Soldier Fly) untuk mengurai ribuan kilogram sampah organik sisa program tersebut.

Lahan seluas sekitar 11.000 meter persegi disiapkan untuk memfasilitasi aktivitas daur ulang ini.

Langkah visioner tersebut diambil guna membantu Pemerintah Kabupaten Brebes yang saat ini tengah menghadapi masalah serius terkait pengelolaan sampah.

Berdasarkan data dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Brebes, produksi sampah di wilayah ini mencapai 1.300 ton per hari.

Sekitar 538 ton dari total volume tersebut belum bisa ditangani secara optimal.

Ketua Forum Mitra Ketahanan Gizi Brebes, Muhaemin, menjelaskan bahwa pihaknya akan menyediakan lahan mandiri seluas 11.000 meter persegi di kawasan Kecamatan Losari sebagai pusat pembuangan dan pengolahan sampah sisa MBG.

Asosiasi ini menghimpun para pengelola dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

"Kami akan menggunakan magot untuk mengolah sampah organik seperti sisa nasi dan lauk-pauk. Sementara untuk sisa sayur dan buah, akan kami alokasikan sebagai pakan kambing," ujar Muhaemin, Minggu (7/6/2026).

Aksi ini didasari oleh kekhawatiran para anggota yang merasa bertanggung jawab terhadap dampak lingkungan dari sisa proses memasak.

Saat ini, baru ada 10 dapur SPPG di wilayah Kecamatan Losari yang bergabung dalam gerakan ramah lingkungan ini.

Meski begitu, dari jumlah dapur tersebut saja, volume sampah organik dan non-organik yang dihasilkan telah mencapai 2 ton setiap harinya.

Untuk mengurai sampah organik dalam jumlah besar tersebut, Muhaemin memaparkan bahwa pihaknya menyediakan 525 kilogram magot yang didistribusikan ke 35 titik wadah pengolahan.

Fasilitas khusus untuk budidaya dan dekomposisi ini juga telah disiapkan.

Menariknya, program ini tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan tetapi juga mendatangkan nilai ekonomi yang menjanjikan.

"Magot yang dihasilkan tentu memiliki nilai ekonomis. Kami sudah menjalin komunikasi dengan mitra yang siap menampung hasil panen magot dengan harga jual Rp 65 ribu per kilogram," ungkapnya.

Kendati saat ini baru diterapkan oleh 10 dapur, Muhaemin memastikan akan segera menyosialisasikan langkah positif ini ke seluruh dapur SPPG di wilayah Kabupaten Brebes.

Inisiatif peduli lingkungan ini mendapat apresiasi tinggi dari Koordinator Wilayah (Korwil) Badan Gizi Nasional (BGN) Brebes, Arya Dewa Nugroho.

Pihaknya sangat menghargai langkah cepat yang diambil oleh para pengelola dapur di Kecamatan Losari tersebut.

"Kami sangat mengapresiasi inovasi ini. Semoga ke depan, tidak hanya pengolahan sampah yang dilakukan secara mandiri, tetapi juga bisa mendorong ketahanan pangan lokal, misalnya dengan menanam buah-buahan sendiri, karena saat ini pasokan buah kami masih cukup bergantung pada impor," pungkas Arya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index