Dukungan Keluarga Jadi Kunci Pemulihan Pasien Stroke di Rumah

Dukungan Keluarga Jadi Kunci Pemulihan Pasien Stroke di Rumah
Cerita pasien tentang gejala awal stroke (Sumber: NET)

YOGYAKARTA - Sampai saat ini, gangguan kesehatan stroke masih menjadi salah satu problem medis dengan tingkat beban yang amat masif lantaran berisiko mendatangkan kecacatan permanen hingga memicu kematian.

Kasus ini dilaporkan menjadi faktor pemicu utama kecacatan urutan kedua di skala global serta memberikan sumbangsih pada angka kematian hingga menembus 6,5 juta jiwa.

Persoalan yang dirasakan oleh penderita maupun pihak keluarga setelah datangnya serangan stroke tidak cuma bertumpu pada tindakan medis semata, melainkan juga menyangkut rasa keraguan dalam proses pemulihan ke depannya.

Situasi ketidakpastian itu berpeluang kian meruncing jika penderita atau pihak keluarga mempunyai wawasan yang sangat dangkal seputar stroke, kurang mendapat sokongan dalam perawatan, mendapati jalur komunikasi yang tersumbat dengan tim medis, serta dirasa belum siap secara mandiri untuk merawat penderita saat dipulangkan ke rumah.

“ACP mampu berkontribusi dalam menurunkan ketidakpastian, stres, kecemasan, dan depresi pada pasien; memperkuat keterlibatan pasien dalam pengambilan keputusan; menurunkan konflik keluarga; serta memperbaiki kualitas perawatan akhir kehidupan pasien,” ujar Margareta dalam ujian terbuka promosi doktor di kampus FK-KMK.

Penelitian ilmiah tersebut diselenggarakan dalam dua tahap utama untuk memetakan kebutuhan mendasar seputar pemulihan jangka panjang sekaligus menguji coba eksekusi program ACP khusus stroke.

Tindakan pada tahap kedua direalisasikan melalui pengaplikasian program ACP stroke dengan menyalurkan intervensi ACP langsung kepada penderita stroke serta mengikutsertakan pihak keluarga secara aktif dalam tiap urutan prosesnya.

Agenda penelitian ini bergulir di kawasan RSUP dr. Sardjito, RS PON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono, serta Rumah Sakit Panti Rapih dalam rentang waktu tahun 2024 sampai 2025.

Ada sebanyak 33 orang partisipan yang turut terlibat dalam penelitian ini, dengan komposisi yang meliputi para penderita stroke, pihak keluarga, hingga para praktisi medis.

Margareta menjelaskan bahwa data yang terkumpul lewat sesi wawancara terstruktur serta diskusi kelompok terarah (FGD) berhasil memilah empat tema utama.

Tiga tema pertama menggambarkan realitas yang dihadapi langsung oleh penderita stroke dan keluarga, yakni rintangan fisik serta psikologis penderita stroke, pemenuhan kebutuhan informasi dan edukasi bagi penderita dan keluarga, serta krusialnya pasokan penguatan moral.

Sementara itu, untuk tema yang keempat menitikberatkan pada pemenuhan kebutuhan perencanaan pola pemulihan jangka panjang bagi penderita, pihak keluarga, dan juga para praktisi kesehatan.

Merujuk pada hasil kesepakatan para ahli melalui penerapan metode Delphi, penelitian ini berhasil menyusun 48 butir pernyataan valid yang tersebar ke dalam 19 bidang pembahasan serta tiga kelompok besar.

Formulasi akhir inilah yang selanjutnya dipergunakan sebagai landasan utama dalam menyusun buku pedoman ACP stroke yang ditargetkan bagi para praktisi kesehatan, penderita, maupun pihak keluarga.

Buku pedoman ACP stroke khusus untuk kelompok praktisi kesehatan berisi tentang pemahaman dasar ACP, metode komunikasi dalam ACP, beserta petunjuk teknis pelaksanaan ACP pada penderita stroke.

Di sisi lain, buku pedoman ACP stroke yang disediakan bagi penderita dan pihak keluarga memuat wawasan dasar ACP, ulasan edukasi seputar komplikasi stroke, teknis pemeliharaan stroke di dalam rumah, pola konsumsi sehat bagi penderita stroke, panduan aktivitas fisik untuk penderita stroke, sampai petunjuk penggunaan obat-obatan.

Langkah intervensi ini terbukti sanggup memperkaya pengetahuan pihak keluarga dalam mengelola pemulihan stroke, memupuk rasa percaya diri keluarga saat mengambil keputusan penting, sekaligus mematangkan kesiapan psikis keluarga untuk mendampingi perawatan mandiri di rumah.

Berdasarkan paparan Margareta, formula ACP dapat membantu setiap individu dalam mempertegas seluruh keinginan serta skala prioritas tindakan pemulihan saat dihadapkan pada keadaan yang tidak menentu di masa depan.

Peran nyata dari para praktisi kesehatan yang datang dari bermacam rumpun keilmuan pun membuka ruang diskusi bagi penderita bersama keluarga untuk saling bertukar pikiran secara jauh lebih aktif serta komprehensif.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index