Tiga Calon Manajer Kopdes Gugur, DPR Minta Perketat Tata Kelola

Tiga Calon Manajer Kopdes Gugur, DPR Minta Perketat Tata Kelola
Jenazah Novia Rahmadhani Sihotang (25), calon Manajer Program SPPI KDKMP, yang meninggal dunia saat mengikuti Latsarmil. (FOTO:NET)

JAKARTA - Sejumlah wakil rakyat di DPR melayangkan peringatan keras demi mencegah terulangnya insiden fatal yang merenggut nyawa peserta dalam program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) serta Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).

Hingga saat ini, Kementerian Pertahanan mencatat total ada tiga orang calon pengelola Koperasi Desa (Kopdes) dan Kampung Nelayan yang meninggal dunia di tengah berjalannya proses seleksi tersebut.

Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin mendesak agar dilakukan peninjauan ulang secara menyeluruh, khususnya yang berkaitan dengan aspek proteksi kesehatan para calon manajer.

"Peristiwa ini tentu menjadi perhatian serius dan diharapkan dapat dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap aspek kesehatan, keselamatan, prosedur pelaksanaan, serta pendampingan peserta agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari," kata Hasanuddin di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Politikus dari fraksi PDI-P tersebut juga menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam atas berpulangnya para calon pengurus Kopdes dan Kampung Nelayan dalam rangkaian Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil).

Hasanuddin memberikan saran agar materi di dalam kegiatan latsarmil untuk para calon pengelola Kopdes diubah supaya tidak terlalu kental dengan nuansa militeristik.

"Ya mungkin materinya sajalah, ya. Materinya saja, kemiliteran dalam konteks seperti militer, latihan menembak, kemudian baris-berbaris, panas-panasan, ya dikurangi," ucap Hasanuddin.

Berdasarkan pandangannya, esensi dari tujuan pelaksanaan Latsarmil bagi SPPI Kopdes dan Kampung Nelayan ini pada dasarnya sangat baik sehingga tidak perlu dihentikan penempatannya.

Ia hanya memberikan masukan agar programnya lebih memprioritaskan pembekalan ilmu manajemen tata kelola koperasi.

"Kalau dihentikan saya kira tujuannya baik ya, melatih mereka menjadi manajer di sebuah koperasi desa," ucap Hasanuddin.

Di samping hal itu, peninjauan kembali terhadap latsarmil ini dinilai perlu menyentuh aspek pemeriksaan kesehatan berkala hingga kesiapan fisik dari para calon peserta.

"Menurut hemat saya harus dievaluasi, terutama mereka yang mau ikut pelatihan seperti itu, ya, harus dicek kesehetannya dengan baik sehingga mereka yang masuk kegiatan itu siap untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan fisik dalam suasana yang panas sekalipun," ujar dia.

Sikap serupa ikut disuarakan oleh Anggota Komisi VI DPR Imas Aan Ubudiyah, yang mendorong adanya pembenahan sistemik dalam skema penerimaan para calon pengelola Koperasi Desa dan Kampung Nelayan tersebut.

Gugurnya tiga nyawa peserta ini wajib dijadikan sebagai cerminan dan pelajaran berharga untuk pelaksanaan ke depan.

Jangan sampai misi untuk mencetak sosok manajer koperasi yang tangguh justru berujung pada pengabaian aspek keselamatan jiwa para buruh atau peserta.

"Musibah ini hendaknya menjadi pelajaran berharga untuk memperkuat tata kelola. Retret tetap penting, tetapi standar mitigasi risiko, skrining kesehatan, pendampingan medis, dan pemetaan kemampuan fisik peserta juga harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembinaan," ujar Imas.

Legislator dari Partai Kebangkitan Bangsa ini turut memberikan rekomendasi agar pemeriksaan kesehatan wajib diselenggarakan secara independen serta profesional bagi segenap calon pengurus Kopdes Merah Putih.

Skrining kesehatan tersebut dinilai sangat vital guna mengukur kesiapan ketahanan fisik peserta dalam melakoni rangkaian agenda pembinaan setelah mereka dinyatakan lolos.

"Alangkah baiknya apabila sebelum retret dilakukan pemeriksaan kesehatan secara independen terhadap seluruh calon peserta. Ini harus diperkuat dan kalau terdapat riwayat penyakit tertentu atau kondisi fisik yang dinilai tidak memungkinkan untuk mengikuti aktivitas dengan intensitas tinggi, maka perlu diberikan alternatif pembinaan yang lebih sesuai," ujar Imas.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi I DPR Dave Laksono mengimbau seluruh pihak untuk menanti hasil dari proses investigasi serta peninjauan mendalam yang tengah berjalan terkait wafatnya tiga calon pengelola Koperasi Desa dan Kampung Nelayan Merah Putih.

Menurut analisis Dave, peristiwa memilukan ini sudah barang tentu mengundang atensi kolektif dari segenap elemen.

Ia meyakini penuh bahwa lembaga-lembaga terkait bakal mengusut kemelut ini dengan serius sekaligus profesional.

"Penting untuk memberikan ruang bagi proses penelusuran dan pendalaman fakta yang sedang berlangsung agar setiap informasi dapat dipahami secara utuh, objektif, dan berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan," ujar dia.

Dave memberikan penekanan bahwa para korban yang meninggal dunia tersebut merupakan bagian dari elemen generasi muda yang telah memantapkan pilihan untuk berkontribusi nyata dalam pembangunan bangsa.

Lewat momentum ini, ia mengimbau segenap elemen masyarakat untuk menonjolkan sikap empati, asas kehati-hatian, serta rasa tanggung jawab bersama dalam merespons insiden ini.

"Kami perlu menahan diri dari berbagai spekulasi dan memberikan kesempatan kepada proses yang sedang berjalan untuk menghasilkan gambaran yang utuh mengenai peristiwa tersebut," tutur politikus Partai Golkar itu.

Kementerian Pertahanan pada kesempatan sebelumnya telah memberikan konfirmasi resmi mengenai adanya tiga peserta yang meninggal dunia dalam rangkaian rekrutmen calon manajer Koperasi Desa dan Kampung Nelayan.

Peserta pertama bernama Anisa Muyassaroh, yang menjalani program pendidikan di Satuan Pendidikan (Satdik) Dodikjur Resimen Induk Daerah Militer (Rindam) VI/Mulawarman, Balikpapan.

Anisa dilaporkan mengalami penurunan kondisi kesehatan pada tanggal 18 Juni 2026 dan sempat memperoleh tindakan medis dari tim kesehatan internal satuan sebelum akhirnya dievakuasi ke rumah sakit.

"Berdasarkan keterangan medis, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia akibat heat stroke,” ujar Karo Infohan Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait melalui siaran pers, Selasa (23/6/2026).

Peserta kedua atas nama Yonanda Muhammad Taufiq, yang mengikuti pendidikan di Satdik Pusat Pendidikan dan Latihan Tempur (Puslatpur) Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI Angkatan Darat (Kodiklatad), Baturaja.

Taufiq diinformasikan mengalami penurunan tingkat kesehatan pada 17 Juni 2026 dan sudah mendapatkan penanganan awal dari tenaga kesehatan internal satuan sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit.

"Berdasarkan keterangan medis, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia akibat cardiac arrest (henti jantung),” tambahnya.

Peserta ketiga yang menjadi korban adalah Novia Rahmadhani Sihotang, seorang peserta dari program SPPI KNMP 2026, yang melakoni pendidikan di Satdik Pusbahasa Kodiklatau Jakarta.

Rico memaparkan, Novia terindikasi mengalami gangguan kesehatan pada 22 Juni 2026 dan seketika itu juga langsung dirawat oleh tim medis internal satuan.

Akibat kondisi fisiknya yang terus merosot, ia lantas dirujuk ke Rumah Sakit Angkatan Udara (RSAU) dr. Esnawan Antariksa guna memperoleh tindakan medis yang lebih intensif.

"Meskipun telah memperoleh perawatan intensif, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia pada 23 Juni 2026. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, kondisi kesehatan yang dialami berkaitan dengan penyakit Tuberkulosis (TB),” ujar dia.

Buntut dari kejadian kelam ini, Kementerian Pertahanan bersama dengan Panitia Seleksi Nasional serta pihak penyelenggara pendidikan kini tengah menggulirkan evaluasi total terhadap pelaksanaan program sekaligus mengintensifkan pengawasan kesehatan berkala bagi peserta.

Langkah preventif itu ditempuh demi memastikan bahwa faktor keselamatan dan kesehatan para peserta mutlak menjadi prioritas paling utama dalam pelaksanaan program pembinaan.

Kemhan kembali menegaskan bahwa variabel keselamatan serta kesehatan peserta merupakan hal yang paling utama dan tidak dapat ditawar dalam penyelenggaraan program ini.

“Setiap masukan, evaluasi, dan pembelajaran dari pelaksanaan kegiatan akan menjadi dasar penyempurnaan program ke depan agar berlangsung semakin baik, aman, profesional, dan akuntabel,” kata Rico.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index