Rekam Jejak Brutal Taufik Hidayat, Hancurkan Keluarga Sendiri

Rekam Jejak Brutal Taufik Hidayat, Hancurkan Keluarga Sendiri
Petugas menggiring tersangka kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan berat Taufik Hidayat. (FOTO:NET)

BANDUNG - Proses hukum atas dugaan tindakan penganiayaan yang dilakukan oleh Taufik Hidayat (30) terhadap kekasihnya di wilayah Bandung kian membeberkan deretan fakta baru yang mengejutkan publik.

Selain memiliki rekam jejak tindak kekerasan yang sangat panjang, terungkap sebuah kenyataan pilu bahwa ibu kandung tersangka meninggal dunia akibat mengalami stres serta depresi berat yang dipicu oleh perilaku anaknya.

Rangkaian kejadian ini menyedot perhatian khalayak luas lantaran tidak hanya membicarakan soal aspek pelanggaran hukum pidana, melainkan ikut menggambarkan situasi sosial serta problem keluarga yang melingkari tabiat keji tersangka.

Kepala Desa Ciaro, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung, Kusnaedi, dalam tayangan di kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel pada Rabu (24/6/2026), mengonfirmasi bahwa ibu kandung Taufik memikul beban mental yang sangat berat akibat kelakuan anak-anaknya.

Ia menyebutkan jika sang ibu didera tekanan pikiran berkepanjangan hingga depresi sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir.

Kondisi psikologis yang terguncang tersebut bahkan sempat membuat mendiang kerap berjalan kaki keliling tanpa arah yang jelas serta menarik diri dari interaksi dengan warga sekitar.

"Ibunya stres, setahun ampleung-ampleungan (jalan kaki ke sana ke mari)," kata Kusnaedi dikutip dari TribunnewsBogor.

Berdasarkan penjelasannya, sang ibu kala itu juga sempat menolak saat hendak dibawa untuk memeriksa kondisi kesehatannya dan lebih memilih berdiam diri di dalam rumah tanpa mau berbicara.

"Istrinya gak mau dibawa diperiksa, di rumah diem, gak ngomong, lalu ada kesempatan keluar, jalan terus," ujarnya.

Kusnaedi memaparkan bahwa Taufik semenjak kecil memang sudah memperlihatkan indikasi perilaku yang menyimpang.

Ia mengungkapkan jika tersangka telah akrab dengan konsumsi obat-obatan terlarang sejak usia dini dan mempunyai watak yang agresif.

"Waktu kecil pas ngaji juga minum obat (obat-obatan terlarang). Udah gede gak ada yang mau temenan, pada takut, orangnya brutal, udah kelihatan dari kecilnya juga," katanya.

Bukan hanya itu saja, Taufik tercatat pernah terlibat dalam lingkaran kasus kriminal sebelumnya, termasuk perkara penganiayaan serta aksi penggelapan armada kendaraan roda dua.

Tersangka bahkan sempat menjalani masa penahanan di penjara selama 1,5 tahun.

"Pernah ditahan kasus penganiayaan dan penggelapan motor, saya yang ngurusin. Motor orang Garut. Pernah ditahan di Polres Rancaekek, divonis 1,5 tahun dipenjara," jelas Kusnaedi.

Berdasarkan hasil pengamatannya, salah satu faktor dominan yang membentuk karakter keras tersangka adalah pola asuh di dalam keluarga, yang mana Taufik kerap kali dibela oleh sang ayah setiap kali berkonflik dengan orang lain.

"Kalau ribut sama tetangga suka dibela ayahnya, jadi kesayangan," tambahnya.

Kusnaedi juga membeberkan fakta bahwa tabiat bermasalah tidak melulu melekat pada diri Taufik, melainkan terjadi pula pada saudara-saudaranya yang lain.

Situasi pelik ini semakin memperberat tekanan batin yang harus dipikul oleh mendiang ibunya.

Ia menjabarkan bahwa kakak laki-laki Taufik dikenal gemar memicu keributan di lingkungan sekitar, mengalami kendala dalam riwayat pekerjaan, hingga sudah beberapa kali bercerai dari istrinya.

"Yang kedua suka mabok, kerja juga dipecat. Punya istri sudah dua kali cerai, anak satu, sering ancam orang berkelahi," katanya.

Sementara itu, adik paling bungsu dari Taufik dilaporkan telah meninggal dunia akibat mengalami overdosis obat-obatan.

"Yang bungsu meninggal karena over dosis, minum obat-obatan sampai meninggal dunia," ungkapnya.

Kondisi internal keluarga yang dipenuhi berbagai masalah tersebut disinyalir menjadi faktor utama yang memicu datangnya tekanan psikologis yang sangat hebat bagi sang ibu.

Di luar kasus penganiayaan berat terhadap sang kekasih, Taufik diketahui pernah pula mengarahkan tindakan kekerasan fisik kepada ayah kandungnya sendiri.

Hal mengerikan tersebut dipaparkan secara langsung oleh sang ayah yang bernama Tata.

Ia mengisahkan bahwa bagian kepalanya sempat dipukul menggunakan kayu oleh Taufik hanya karena dipicu oleh perkara yang sangat sepele.

"Saya pernah dipukul kepala pakai kayu. Waktu itu saya lagi macul di sawah, dia di rumah lagi nganggur, mau makan gak ada apa-apa," tuturnya.

Insiden pemukulan tersebut berlangsung ketika sang ayah tengah memeras keringat bekerja di area persawahan.

Taufik sekonyong-konyong mendatanginya di sawah dan langsung melayangkan hantaman keras hingga mengakibatkan korban tersungkur.

"Dia datang ke sawah, langsung mukul, ngagebru (jatuh). Untung saya ada temen dua, mau mukul lagi dihalangin," ucapnya.

Seusai melancarkan aksi pemukulan tersebut, Taufik sempat melarikan diri dari rumah dan tidak pulang selama beberapa hari sebelum pada akhirnya kembali untuk memohon maaf.

Setelah melakukan tindakan penyekapan serta penganiayaan keji terhadap YTR dalam kurun waktu kurang lebih dua tahun, Taufik akhirnya berhasil dibekuk oleh aparat kepolisian pada Selasa (24/6/2026).

Saat ini, tersangka sedang mendekam di ruang tahanan guna menjalani rangkaian proses pemeriksaan intensif untuk mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya di hadapan hukum yang berlaku.

Kemelut perkara hukum ini terus menyedot perhatian luas dari masyarakat lantaran mempertontonkan adanya siklus tindakan kekerasan yang terus berulang, baik yang menyasar internal keluarga sendiri maupun orang lain di luar rumah.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index