Norwegia Lawan Prancis, Panggung Rivalitas Emas Mbappe-Haaland

Norwegia Lawan Prancis, Panggung Rivalitas Emas Mbappe-Haaland
Grafik ilustrasi pertandingan penyisihan Grup I Piala Dunia 2026 antara Norwegia melawan Prancis. (FOTO:NET)

JAKARTA - Walaupun Prancis dan Norwegia telah mengamankan tiket menuju putaran knock-out, pertandingan kedua tim di Boston Stadium, Foxborough, Massachusetts, Amerika Serikat, pada Sabtu (27/6) pukul 02.00 WIB tetap menjadi tontonan yang sangat dinantikan karena mempertemukan dua striker muda paling mematikan di dunia saat ini, Kylian Mbappe dan Erling Haaland.

Sebelum pertemuan kali ini, tim nasional Prancis tercatat sudah pernah berhadapan dengan Norwegia dalam 16 pertandingan.

Skuad Les Bleus berhasil memenangkan tujuh laga, di mana empat di antaranya dipetik dari babak kualifikasi Piala Dunia.

Di pihak lawan, tim Landslaget sukses mengoleksi lima kali kemenangan, dengan satu kemenangan diraih pada kompetisi kualifikasi Piala Dunia.

Senada dengan rekam jejak historis negaranya, baik Mbappe maupun Haaland baru kali pertama ini akan saling beradu tajam dalam putaran final turnamen Piala Dunia.

Akan tetapi pada level kompetisi antarklub, penyerang Real Madrid dan ujung tombak Manchester City tersebut tercatat sudah enam kali saling berhadapan yang seluruhnya bergulir di ajang Liga Champions.

Empat bentrokan di antaranya tersaji dalam laga sengit Real Madrid kontra Manchester City sepanjang dua musim belakangan.

Sementara dua laga sisa terselenggara sewaktu keduanya masih membela Paris Saint Germain serta Borussia Dortmund pada musim 2019/2020 lampau.

Dari total enam kali rekor pertemuan di kancah Liga Champions tersebut, Haaland unggul dengan raihan lima buah gol, sedangkan Mbappe mengemas empat buah gol.

Pada periode kompetisi musim yang baru saja lewat, kedua mesin gol tersebut sukses membuktikan diri sebagai pemain dengan produktivitas gol teratas di benua Eropa.

Di saat Mbappe tercatat sukses mengoleksi total 42 gol, Haaland berhasil menyarangkan sebanyak 38 gol ke gawang lawan.

Sangat disayangkan, lewat sumbangan pundi-pundi gol yang begitu masif tersebut, kedua penyerang ini sama-sama gagal mengantarkan klub mereka bertengger sebagai juara di Liga Spanyol ataupun Liga Inggris.

Kini, dalam gelaran putaran final Piala Dunia 2026, kedua pilar andalan tersebut sama-sama telah mengantongi koleksi empat gol.

Jumlah gol itu setara dengan pencapaian penyerang Brasil Vinicius Junior, namun masih tertinggal selisih satu gol di belakang kapten Argentina Lionel Messi yang memimpin dengan raihan lima gol.

Kelima juru gedor tersebut waktu ini tengah berkompetisi ketat untuk memperebutkan predikat sebagai pencetak gol terbanyak sekaligus membawa pulang trofi Sepatu Emas Piala Dunia 2026.

Haaland dan Mbappe memang belum dijadwalkan untuk bertarung langsung dengan Messi ataupun Vinicius, namun hasil pembagian grup Piala Dunia 2026 yang menempatkan Prancis serta Norwegia di kelompok yang sama memaksa kedua predator lini depan ini bentrok lebih dini.

Satu fakta yang terbilang unik, baik Haaland maupun Mbappe terpantau belum menyumbangkan satu pun umpan matang atau assist dari dua laga Piala Dunia 2026 yang telah dilakoni Prancis dan Norwegia.

Situasi tersebut terjadi lantaran Didier Deschamps selaku juru taktik Prancis dan Stale Solbaken yang melatih Norwegia tampaknya lebih memplot Mbappe serta Haaland sebagai algojo penuntas peluang, bukan sebagai motor pembagi assist.

Pandangan ini diperkuat oleh taktik dari kedua pelatih dalam merancang skema bermain yang tampak jelas difokuskan untuk memfasilitasi serta mengoptimalkan potensi, kelebihan, sekaligus kapabilitas kedua ujung tombak.

Diakomodasi sistem

Deschamps menyediakan ruang bagi Mbappe lewat penerapan formasi 4-2-3-1 yang konsisten ia pasang pada dua pertandingan awal Prancis di ajang Piala Dunia 2026.

Di kubu sebelah, Haaland terlihat sangat leluasa bermain dalam skema formasi 4-3-3, yang pada dasarnya mirip dengan sistem bermain Mbappe, karena diposisikan tepat di sektor tengah di antara dua penyerang sayap yang berdiri sejajar dengannya di barisan depan.

Sejauh berjalannya turnamen, kedua penyerang utama ini telah menuntaskan tugasnya dengan sangat apik, bahkan dalam beberapa indikator mampu melampaui ekspektasi serta menjadi sumber inspirasi bagi tim masing-masing.

Mbappe menjadi motor inspirasi Prancis lewat sumbangan masing-masing dua golnya ke gawang Irak serta Senegal.

Sementara itu, Haaland menginspirasi negaranya untuk menumbangkan Irak dan Senegal melalui torehan gol-golnya yang juga tercipta lebih awal sebelum pemain lain mencatatkan nama di papan skor.

Kontribusi dari kedua bomber ini bernilai sangat krusial, hingga seolah-olah terlihat melampaui kekuatan tim mereka sendiri secara kolektif.

Kendati Haaland dan Mbappe tampil begitu fenomenal, Prancis maupun Norwegia sejatinya bukan merupakan tim yang mendominasi di segala aspek permainan jika dibandingkan dengan kontestan lain.

Dalam urusan produktivitas menciptakan peluang atau skema tembakan ke gawang, Prancis dan Norwegia masing-masing hanya bertengger di peringkat ke-19 dan ke-25.

Lewat catatan masing-masing 30 dan 24 kali percobaan tembakan, torehan kedua kubu ini masih tertinggal jauh di bawah Jerman, Inggris, serta Brasil yang berturut-turut mengemas 42, 41, dan 40 kali upaya tembakan.

Akan tetapi, indikator statistik ini sama sekali tidak memberi jaminan bahwa sebuah tim akan otomatis keluar sebagai pemenang pertandingan.

Sebagai buktinya, Turki yang menempati urutan teratas dalam parameter ini dengan torehan 62 kali percobaan tembakan justru mandul dalam mencetak gol hingga harus tersingkir lebih awal sebelum memainkan laga pamungkasnya.

Sebaliknya, Argentina yang posisinya berada di bawah Prancis dan Norwegia dalam hal parameter tersebut justru mampu melaju dengan mulus menuju babak 32 besar.

Prancis, Norwegia, serta Argentina juga bukan merupakan jajaran tim yang mengantongi angka probabilitas gol atau xG di urutan teratas dibandingkan dengan negara peserta lainnya.

Posisi mereka terpantau masih berada di bawah bayang-bayang tim Jerman, Brasil, Spanyol, serta Inggris.

Norwegia dan Prancis tercatat sama-sama mengantongi nilai xG sebesar 3,91, sementara skuad Argentina mengemas angka 4,03.

Menariknya pada variabel yang sama, performa individu Haaland dan Mbappe justru tampak jauh lebih menonjol ketimbang performa tim mereka secara keseluruhan.

Haaland bahkan tercatat hanya kalah dari Vinicius dalam urusan perolehan nilai xG.

Namun dengan perolehan xG yang menyentuh angka 2,7, Haaland masih berada di atas pencapaian Messi dan Mbappe.

Mbappe sendiri posisinya terpantau berada di bawah catatan milik Jonathan David serta Cristiano Ronaldo.

Akan tetapi deretan angka statistik tersebut baru dihimpun dari hasil dua pertandingan di Piala Dunia 2026.

Data statistik tersebut dipastikan akan terus mengalami perkembangan, terlebih jika Mbappe dan Haaland mampu memproduksi banyak gol serta peluang pada jalannya laga di Boston Stadium esok hari.

Tontonan utama

Baik kubu Prancis maupun Norwegia diprediksi akan kembali menerapkan formula taktik andalan mereka, asalkan tetap memilih untuk menurunkan komposisi kekuatan penuh yang menempatkan nama Mbappe serta Haaland di dalam daftar susunan pemain utama.

Kendati demikian, tidak menutup kemungkinan pula jika kedua kesebelasan lebih memilih untuk menyimpan tenaga para pilar utama sebagai langkah persiapan menatap babak 32 besar.

Meski begitu, jika variabel mengenai calon lawan di fase 32 besar dianggap sebagai hal yang krusial bagi mereka, maka kedua tim semestinya tetap tampil habis-habisan dalam melakoni laga pamungkas di Grup I ini.

Status sebagai juara grup dapat mempermudah langkah mereka dalam mengarungi babak 32 besar lantaran "hanya" akan berhadapan dengan tim yang menyandang predikat peringkat ketiga terbaik.

Sementara jika harus menyudahi fase grup di peringkat kedua, mereka dijadwalkan akan bentrok dengan Pantai Gading yang mengunci posisi runner up di Grup E.

Di atas kertas, baik Prancis maupun Norwegia diproyeksikan tidak akan menemui kendala yang berarti saat bersua Pantai Gading atau salah satu dari delapan tim peringkat ketiga terbaik di fase gugur nanti.

Namun, begitu melangkah masuk ke babak 16 besar, Mbappe bersama Prancis dan Haaland bersama Norwegia dipastikan langsung diadang lawan-lawan tangguh yang kemungkinan besar adalah Jerman dan Brasil.

Sebelum melayangkan pandangan terlalu jauh, tentu sangat menarik untuk menyaksikan bagaimana akhir dari jalannya duel antara Prancis kontra Norwegia ini.

Sayangnya, Deschamps dipastikan absen mendampingi skuad Les Bleus secara langsung di tepi lapangan karena mesti kembali ke Prancis untuk menghadiri prosesi pemakaman ibundanya yang berpulang.

Kendali taktik Prancis untuk sementara waktu akan diambil alih oleh sang asisten pelatih, Guy Stephen.

Stephen diprediksi tetap memplot posisi Mbappe sebagai ujung tombak utama di lini depan, dengan disokong oleh pergerakan tiga gelandang serang yakni Michael Olise, Ousmane Dembele, serta Desire Doue.

Di kubu lawan, Stale Solbaken juga tampaknya tidak akan mengubah formula strategi kegemarannya.

Ia akan kembali menugaskan duet Alexander Sorloth dan Antonio Nusa untuk membentuk trisula maut bersama Haaland di lini serang, sementara Martin Odegaard tetap diplot sebagai motor penggerak permainan Norwegia.

Pertandingan ini berpotensi menjadi puncak performa kedua tim di fase penyisihan grup, namun bisa juga berakhir sebagai sebuah antiklimaks.

Satu hal yang pasti, keberadaan sosok Mbappe dan Haaland menjamin laga ini akan tetap kokoh sebagai menu tontonan utama bagi publik.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index