Menjaga Marwah Kearifan Lokal melalui Naik Dango Ke-39 Pontianak

Rabu, 22 April 2026 | 18:50:07 WIB
Ilustrasi naik dango

JAKARTA – Perayaan Naik Dango Ke-39 di Pontianak menjadi momentum krusial untuk melestarikan nilai kearifan lokal sekaligus memperkuat daya tarik pariwisata daerah.

Kawasan Rumah Radakng yang terletak di Jalan Sutan Syahrir tampak dipenuhi oleh masyarakat yang antusias menyaksikan ritual adat tahunan. Suasana hangat menyelimuti lokasi acara ketika genderang musik tradisional mulai bertalu, menandai dibukanya gelaran yang penuh makna spiritual ini. Kegiatan ini merupakan simbolisasi rasa terima kasih kepada Sang Pencipta atas keberhasilan panen yang didapat oleh petani.

Penjabat Wali Kota Pontianak, Ani Sofian, hadir langsung untuk memberikan apresiasi atas terjaganya tradisi ini di wilayahnya. Beliau memandang bahwa kekayaan budaya adalah aset yang tidak ternilai harganya bagi pembangunan karakter masyarakat urban. Dengan tetap memegang teguh adat istiadat, identitas sebuah bangsa akan tetap kokoh meskipun zaman terus mengalami perubahan yang cepat.

Pemerintah daerah berharap agar perhelatan ini dapat terus berkelanjutan dan masuk dalam daftar kunjung wisatawan mancanegara maupun domestik. Peningkatan fasilitas di lokasi sejarah dan budaya menjadi salah satu fokus pemerintah untuk memberikan kenyamanan bagi para pengunjung. Selain itu, keterlibatan aktif generasi muda sangat ditekankan agar estafet kepemimpinan adat tidak terputus begitu saja.

Dalam pidato resminya, Ani Sofian menekankan betapa pentingnya peran masyarakat dalam mendukung agenda besar pemerintah kota di sektor pariwisata. Keberhasilan acara ini tidak lepas dari kerja keras seluruh panitia dan lembaga adat yang konsisten bergerak di jalur pelestarian. Dukungan moral dan materiil terus diupayakan agar kualitas penyelenggaraan setiap tahunnya bisa terus meningkat secara signifikan.

"Kami sangat mengapresiasi penyelenggaraan Naik Dango ini. Selain sebagai wujud syukur atas panen, kegiatan ini juga memperkaya khazanah budaya di Kota Pontianak dan menjadi daya tarik wisata yang potensial," ujar Ani Sofian saat memberikan sambutan resmi di lokasi acara.

Rangkaian acara yang disusun tahun ini memang tampak lebih variatif dan menyentuh berbagai lapisan kepentingan publik. Dari prosesi spiritual yang bersifat tertutup hingga festival rakyat yang bisa dinikmati oleh siapa saja tanpa memandang latar belakang etnis. Hal ini membuktikan bahwa budaya mampu menjadi jembatan perdamaian dan kerukunan antarwarga yang menetap di Kota Pontianak.

Beberapa agenda utama yang dilaksanakan pada perayaan Naik Dango kali ini meliputi jadwal sebagai berikut:

Prosesi adat Nyangahatn untuk memanjatkan doa syukur di area lumbung padi.

Pameran kuliner tradisional yang menghadirkan panganan khas dari berbagai daerah.

Pertunjukan seni tari tradisional Dayak yang melibatkan ratusan penari muda.

Diskusi budaya mengenai filosofi pengelolaan pangan berbasis kearifan lokal.

Panitia pelaksana memastikan bahwa setiap tahapan ritual dijalankan sesuai dengan pakem yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh para tetua adat. Meskipun dikemas dengan sedikit sentuhan modern agar menarik bagi wisatawan, namun esensi kesakralan tetap dijaga ketat. Komitmen ini menjadi kunci utama mengapa Naik Dango tetap memiliki jiwa yang kuat di mata masyarakat luas.

"Tujuannya adalah untuk melestarikan adat istiadat dan memperkenalkan kekayaan budaya kita kepada generasi muda serta wisatawan," kata ketua panitia dalam laporan singkatnya di depan para pejabat dan tamu undangan.

Masa depan pariwisata Pontianak sangat bergantung pada bagaimana pemerintah dan masyarakat mengelola keunikan lokal yang dimiliki. Melalui event tahunan ini, diharapkan terjadi perputaran ekonomi yang positif bagi para pelaku usaha kecil di sekitar Rumah Radakng. Dampak ekonomi yang merata akan membuat warga semakin bersemangat dalam menjaga keberlangsungan warisan nenek moyang mereka.

Semangat kebersamaan yang terpancar selama perayaan ini menjadi bukti bahwa tradisi masih memiliki ruang yang luas di hati masyarakat. Perjalanan panjang Naik Dango hingga mencapai edisi ke-39 menunjukkan ketangguhan budaya lokal dalam menghadapi tantangan globalisasi. Dengan sinergi yang baik, Kota Pontianak akan terus dikenal sebagai rumah bagi keberagaman yang harmonis dan penuh dengan daya pikat tradisional.

Terkini