JAKARTA - Peningkatan banderol harga chip memori akibat ledakan kebutuhan kecerdasan buatan (AI) mulai mengguncangkan sektor elektronik dunia.
Tidak sekadar mendesak Apple dan Microsoft menaikkan harga jual produk-produknya, persoalan ini pun mengancam kelangsungan operasional bisnis produsen perangkat elektronik berskala kecil.
Disampaikan dari sumbernya, Minggu (28/6/2026), eskalasi harga komponen memori mengakibatkan ongkos produksi beragam perangkat elektronik meningkat tajam.
Sementara korporasi besar tetap mempunyai daya tawar kuat terhadap pemasok, produsen yang lebih kecil justru kesusahan memperoleh pasokan memori yang kian sulit didapat.
"Ini benar-benar menjadi krisis eksistensial bagi perusahaan kecil," tutur analis IDC, Nabila Popal.
Menurut sosok tersebut, banyak pemasok memori saat ini memprioritaskan pelanggan berskala besar sehingga produsen kecil sukar memperoleh komponen yang diperlukan.
"Mereka bahkan tidak akan bisa mendapatkan memori karena pemasok hanya melayani pemain-pemain besar," ujar Popal.
Kenaikan harga memori dipicu meningkatnya permintaan chip AI di seluruh penjuru bumi.
Produsen semikonduktor seperti Nvidia menyerap makin banyak chip memori guna mendukung prosesor AI serta sistem komputasi canggih, sehingga ketersediaan untuk industri elektronik konsumen menjadi semakin terbatas.
Konsekuensinya, harga bermacam jenis Dynamic Random Access Memory (DRAM)—tipe memori utama yang dipakai pada komputer, ponsel, server, hingga perangkat elektronik lain—melonjak drastis.
Kondisi demikian dialami langsung oleh Mono Technologies, perusahaan rintisan yang memproduksi perangkat pengembangan router internet.
Pendiri sekaligus CEO Mono Technologies, Tomaž Zaman, mengatakan harga modul DRAM 8 GB buatan Micron yang dipakai perusahaannya melonjak dari 35 dollar AS menjadi 300 dollar AS selama proses pengembangan produk.
Lonjakan itu membuat perusahaan beranggotakan tiga orang tersebut menghadapi dilema besar.
Mereka harus memutuskan antara meningkatkan harga produknya lebih dari sepertiga atau meluncurkan model anyar dengan kapasitas memori 75 persen lebih kecil.
"Bahkan router di kelas kami akan menjadi produk dengan nilai yang buruk jika dijual seharga 900 hingga 1.000 dollar AS. Namun kami harus melakukannya atau memangkas spesifikasinya seminimal mungkin," kata Zaman.
Pasalnya, Mono sebelumnya sudah mengirim hampir 1.000 unit produk utamanya yang dijual sekitar 600 dollar AS.
Saat ini, perusahaan pun telah menerima uang muka sebesar 100 dollar AS dari sekitar 1.300 calon pelanggan buat produksi berikutnya.
Akan tetapi, Zaman mengaku belum yakin apakah produksi gelombang kedua bisa dilanjutkan.
Korporasi teknologi besar pun mulai merasakan dampaknya.
Sehari setelah Micron mengumumkan laporan keuangan kuartalan yang sangat kuat, Apple meningkatkan harga bermacam model iPad dan Mac.
Dalam pernyataannya, Apple menyebut perusahaan "belum pernah melihat kenaikan harga komponen sebesar ini dalam waktu secepat ini."
Pekan sebelumnya, CEO Apple Tim Cook juga sudah memperingatkan bahwa kenaikan harga produk bakal terjadi.
Dalam wawancara dengan Wall Street Journal, ia menggambarkan kondisi pasar memori saat ini sebagai "banjir yang hanya terjadi sekali dalam seratus tahun."
Beberapa jam pasca pengumuman Apple, Microsoft juga meningkatkan harga konsol Xbox Series S sebesar 100 dollar AS menjadi sekitar 500 dollar AS.
Dalam unggahan di blog resminya, Microsoft menjelaskan bahwa harga memori dan media penyimpanan untuk konsol telah meningkat lebih dari 2,5 kali lipat dan diprediksi kembali berlipat ganda sebelum musim gugur 2027.
"Harga penyimpanan dan memori untuk konsol telah meningkat lebih dari 2,5 kali lipat dan kami memperkirakan akan kembali naik dua kali lipat pada musim gugur 2027. Seluruh industri elektronik konsumen sedang menghadapi krisis komponen saat ini, tetapi dampaknya sangat berat bagi bisnis konsol," tulis Microsoft.
Meskipun demikian, Apple dan Microsoft masih mempunyai cadangan kas besar, hubungan yang kuat dengan pemasok, serta basis pelanggan yang sangat luas sehingga sanggup meneruskan sebagian kenaikan biaya kepada konsumen.
Sebaliknya, banyak produsen elektronik lainnya mempunyai margin keuntungan yang jauh lebih tipis sehingga sulit menaikkan harga di tengah tekanan inflasi.
Di sisi lain, krisis pasokan justru menjadi keuntungan bagi produsen chip memori.
Micron melaporkan pendapatan kuartalan perusahaan meningkat lebih dari empat kali lipat dibandingkan periode yang sama setahun lalu.
Margin laba kotor perusahaan pun meningkat menjadi hampir 85 persen dari sebelumnya 39 persen.
Harga saham Micron pun melesat 16 persen pasca laporan keuangan tersebut dirilis dan sudah naik sekitar 800 persen dalam setahun terakhir.
Eskalasi serupa pun terjadi pada pesaingnya, SK Hynix dan Samsung.
Micron mengungkapkan harga jual rata-rata DRAM pada kuartal ketiga meningkat lebih dari 260 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Chief Business Officer Micron, Sumit Sadana, mengatakan perusahaan telah menjalin kontrak pasokan jangka panjang dengan sejumlah produsen ponsel pintar dan komputer.
"Kami menghabiskan banyak waktu memikirkan bagaimana mengelola bisnis, pasokan, dan alokasi volume yang terbatas kepada pelanggan, segmen, pasar, dan wilayah secara bertanggung jawab serta adil," ujar Sadana.
Tekanan harga memori mulai dirasakan di berbagai sektor, mulai dari telekomunikasi, perangkat medis, hingga industri ritel.
Produsen kamera aksi GoPro bahkan memperingatkan investor bahwa perusahaan berpotensi menghentikan operasinya setelah harga memori naik antara 80 persen hingga 115 persen pada akhir kuartal pertama.
Perusahaan mengaku sudah menerima pemberitahuan dari pemasok memori mengenai rencana pengurangan produksi komponen yang dipakai pada produknya sehingga volume penjualan diprediksi ikut menyusut.
Sementara itu, harga saham produsen speaker Sonos sudah turun sekitar 23 persen sepanjang tahun ini karena kenaikan biaya memori menekan margin keuntungan perusahaan.
Masalah serupa pun dialami W5 Technologies yang memproduksi peralatan komunikasi bagi kontraktor pertahanan.
Salah satu pendiri W5 Technologies, Elaine Ferguson, mengatakan harga server yang dibeli perusahaannya meningkat dari 5.373 dollar AS pada 2020 menjadi 8.839 dollar AS pada awal tahun ini.
Kini, harga server yang sama kembali melonjak hingga hampir 15.000 dollar AS.
"Kami baru saja memesan satu unit lagi untuk proyek berikutnya. Sekarang harganya hampir 15.000 dollar AS dan waktu pengirimannya tidak pasti. Kalau akhirnya kami mendapatkannya saja sudah beruntung," kata Ferguson.
Server yang semula dijadwalkan tiba pada Mei kini diprediksi baru akan diterima pada Agustus.
Di tengah situasi tersebut, Mono Technologies masih melanjutkan pengembangan produk generasi berikutnya sambil mencari investor baru buat mendanai produksi dalam skala lebih besar.
"Memproduksi perangkat keras memang sangat mahal," ujar Zaman.