Dedi Mulyadi Tawari PKL Cicadas Jadi Petugas Penyapu Jalan

Rabu, 20 Mei 2026 | 05:03:01 WIB
Pedagang membongkar lapak berjualannya di Jalan Cicadas, Kota Bandung.(Sumber:NET)

BANDUNG- Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan tawaran pekerjaan sebagai penyapu jalan kepada salah satu pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Cicadas, Kota Bandung, setelah tempat berjualannya ditertibkan. 

Tawaran ini disampaikan kepada Hartoyo atau Abah Hartoyo, seorang pedagang yang sudah memisahkan diri di kawasan Pasar Cicadas selama 23 tahun untuk menjual kopi, rokok, minuman ringan, hingga gorengan.

Dedi memberikan tawaran tersebut pascapenertiban PKL di trotoar kawasan Cicadas. Menurut Dedi, profesi sebagai petugas kebersihan bisa menjadi pilihan alternatif bagi para pedagang yang lapaknya telah dibongkar.

"Kan ieu (kios) dibongkar. Bapak jadi petugas kebersihan di dieu (di sini). Si pedagang di sini berubah asalnya dagang rokok dapat Rp 40 ribu, jadi tukang sapu dapat Rp 130 ribu. Kota jadi bersih, rakyat dapat kerja," ujar Dedi Mulyadi.

Hartoyo langsung menyetujui tawaran tersebut. "Mau Pak, Siap," ujar Hartoyo. Di samping memberikan tawaran kerja, Dedi juga menyerahkan uang kompensasi kepada Hartoyo.

Trotoar Cicadas kini bersih

Sebelum ditertibkan, area trotoar di kawasan Cicadas selama bertahun-tahun dipadati oleh lapak-lapak PKL.

Pada Senin (18/5/2026), puluhan tempat jualan PKL ditertibkan oleh tim gabungan yang terdiri dari Satpol PP Jawa Barat, Satpol PP Kota Bandung, serta aparat kewilayahan. Proses penertiban ini dipimpin secara langsung oleh Dedi Mulyadi.

Sehari setelahnya, pada Selasa (19/5/2026), beberapa PKL lainnya di kawasan Cicadas Market mulai membongkar tempat jualan mereka secara mandiri.

Setelah proses penertiban selesai, trotoar di kawasan itu terlihat lebih bersih dan kembali dapat dimanfaatkan oleh para pejalan kaki. Barisan toko yang mulanya tertutup oleh lapak para PKL kini sudah kembali terlihat jelas dari arah jalan.

PKL sudah berjualan sejak krisis moneter

Keberadaan PKL di trotoar kawasan Cicadas diketahui sudah berlangsung sejak puluhan tahun silam. 

Jumlah pedagang semakin melonjak setelah terjadinya krisis moneter pada tahun 1997. Sejak periode tersebut, hampir seluruh area trotoar di Cicadas dipenuhi oleh lapak dagangan, yang menyebabkan kawasan ini tampak padat, kumuh, sekaligus semrawut. Para pedagang di sana menjual berbagai macam barang, dari makanan hingga mainan anak-anak.

Lapak khusus sempat dibuat

Pada periode kepemimpinan Wali Kota Bandung Oded M Danial, para PKL sebenarnya sempat disediakan tempat khusus yang berbentuk kubus. Tempat jualan tersebut dibangun berjejer mulai dari kawasan Gang Tekstil hingga ke pertigaan Jalan Cikutra.

Akan tetapi, penyediaan lapak tersebut tidak kunjung membuat kawasan menjadi lebih rapi. Sebaliknya, area Cicadas dinilai semakin tertutup dan kumuh lantaran deretan toko di sepanjang jalan terhalang oleh bangunan lapak PKL.

Kebijakan mengenai lapak ini tetap diteruskan pada masa kepemimpinan Wali Kota Bandung Yana Mulyana. Lapak berbentuk kubus tersebut dipertahankan, sehingga membuat beberapa toko di kawasan Cicadas kian sulit terlihat oleh para calon pembeli.

Toko-toko lama terdampak

Kondisi lapak PKL yang menutupi area depan toko pada akhirnya mengganggu kelangsungan usaha dari para pemilik toko. 

Satu demi satu toko di kawasan Cicadas mulai tutup karena tidak bisa lagi menjalankan aktivitas dagang secara normal. Konsumen pun dinilai semakin malas berbelanja lantaran akses dan pemandangan ke arah toko terhalang oleh lapak.

Padahal, wilayah Cicadas pada masa lalu tersohor memiliki banyak toko yang legendaris. Beberapa di antaranya adalah Toko Hen yang berada di dekat Gang Tekstil, Toko Hajar yang menjual buku di dekat Pasar Jembar, Toko King selaku penjual alat tulis, Toko Setia Kawan yang menjual alat-alat listrik, serta Toko Timur yang terletak di dekat Gang Asep Berlian.

Saat ini, langkah penertiban PKL di wilayah tersebut menjadi bagian dari program pemerintah untuk menata kembali fungsi trotoar agar sepenuhnya kembali kepada pejalan kaki.

Dedi berpandangan bahwa penataan ini tidak sekadar membersihkan kota, melainkan juga mampu menciptakan lapangan kerja baru bagi warga yang terdampak.

Terkini