BATAM - Wali Kota Batam Amsakar Achmad menyoroti data pertumbuhan ekonomi Batam pada triwulan I 2026 yang tercatat sebesar nol persen.
Menurutnya, angka tersebut perlu ditelaah lebih lanjut karena sejumlah indikator ekonomi di Batam menunjukkan tren positif.
Amsakar menyebutkan, beberapa indikator yang mencerminkan kondisi ekonomi Batam masih cukup baik, antara lain meningkatnya kunjungan wisatawan, pertumbuhan investasi yang signifikan, serta stabilitas dunia usaha dan ketenagakerjaan.
“Kami tidak memiliki kepentingan untuk mengubah data. Yang kami perlukan adalah data yang objektif dan akurat. Saya selalu menegaskan bahwa bekerja tanpa data ibarat orang berjalan dalam gelap tanpa arah,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (22/6/2026).
Hal itu disampaikan Amsakar saat menghadiri High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Batam 2026 yang dirangkaikan dengan pencanangan Sensus Ekonomi 2026.
Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Raja Haji Fisabilillah, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Jumat (19/6/2026).
“Sulit menentukan kebijakan yang tepat jika data yang digunakan tidak menggambarkan kondisi sebenarnya,” ucap Amsakar. Untuk menelaah lebih lanjut kondisi tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Batam akan menggelar rapat koordinasi bersama Badan Pengusahaan (BP) Batam, Bank Indonesia (BI), Badan Pusat Statistik (BPS), dan Bea Cukai.
Rapat tersebut akan difokuskan pada pendalaman data secara komprehensif agar kebijakan pembangunan ekonomi daerah dapat disusun berdasarkan gambaran yang akurat.
Selain menyoroti data pertumbuhan ekonomi, Amsakar juga menaruh perhatian pada tingkat inflasi Kota Batam yang saat ini tercatat sebesar 3,99 persen.
Angka tersebut berada di atas target inflasi nasional yang ditetapkan pemerintah, yakni pada kisaran 1,5 persen hingga 3,5 persen.
Merespons kondisi itu, Amsakar meminta seluruh pemangku kepentingan memberikan perhatian serius terhadap komoditas yang menjadi penyumbang utama inflasi di Batam.
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam pertemuan tersebut, sejumlah komoditas yang berkontribusi terhadap inflasi antara lain emas perhiasan, tarif angkutan udara, beras, daging ayam ras, serta makanan jadi.
“Tiga hal utama ini harus menjadi perhatian bersama. Apa yang bisa kami lakukan di tingkat daerah harus segera diikhtiarkan,” ujar Amsakar.
Di sisi lain, ia berharap ada pertimbangan khusus dari pemerintah pusat untuk Batam, terutama terhadap biaya yang berkaitan dengan kebijakan nasional, seperti tarif angkutan udara.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Perwakilan BI Provinsi Kepulauan Riau Rony Wijidarto menjelaskan, stabilitas inflasi merupakan salah satu faktor penting yang diperhatikan investor dalam mengambil keputusan investasi.
Menurutnya, tingginya daya beli masyarakat Batam yang didukung pertumbuhan sektor industri turut mendorong arus barang dari luar daerah.
Namun, kondisi tersebut juga menjadi tantangan tersendiri karena Batam masih bergantung pada pasokan pangan dari daerah lain akibat keterbatasan lahan pertanian produktif.
“Inflasi diukur dari perubahan harga, bukan semata-mata tingkat harga. Karena itu, menjaga stabilitas harga, terutama di pasar tradisional, menjadi sangat penting mengingat fluktuasinya cukup tinggi,” jelas Amsakar.
Rony juga mengungkapkan, emas perhiasan masih menjadi penyumbang inflasi terbesar di Batam selama tiga tahun terakhir.
Menurutnya, fenomena tersebut sekaligus mencerminkan tingginya daya beli masyarakat.
Selain emas perhiasan, kelompok makanan jadi, seperti nasi campur dan nasi goreng, juga menunjukkan tren kenaikan harga yang konsisten dan masuk dalam daftar lima besar penyumbang inflasi di Kota Batam.
Dalam kegiatan tersebut, Amsakar didampingi Sekretaris Daerah Kota Batam Firmansyah, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Batam Suhar, serta sejumlah kepala organisasi perangkat daerah terkait.
Pertemuan itu juga dihadiri Kepala BPS Kota Batam, General Manager Garuda Indonesia, perwakilan Bulog, dan unsur TPID Kota Batam lainnya.
Melalui forum tersebut, sinergi antarlembaga diharapkan semakin kuat dalam menjaga stabilitas harga, meningkatkan kualitas data statistik, serta mendorong pertumbuhan ekonomi Batam yang berkelanjutan.