SEMARANG – Pawai Ogoh-Ogoh Semarang 2026 siap digelar pada 26 April dengan dukungan kelompok seni dari berbagai daerah guna merayakan predikat kota toleran di Indonesia.
Ibu Kota Jawa Tengah ini kembali mengukuhkan posisinya sebagai ruang inklusif melalui perayaan seni budaya yang melibatkan partisipasi masif lintas etnis dan wilayah.
“Tahun ini ada dukungan nyata dari PHDI Jepara, PHDI Kendal, hingga Kelompok Beleganjur dari Jogjakarta yang pada penyelenggaraan sebelumnya tidak ada. Selain keterlibatan kelompok musik tersebut, perbedaan besar tahun ini juga terlihat pada pementasan Sendratari Legenda Rawa Pening sebagai penutup acara di Simpang Lima,” ujarnya, sebagaimana dilangsir dari kuasakata.com, Kamis (23/4/2026).
Wali Kota Agustina Wilujeng menegaskan bahwa kehadiran berbagai elemen baru ini akan membuat suasana pawai terasa jauh lebih megah dan semarak dibanding periode sebelumnya.
Acara ini juga menjadi manifestasi dari filosofi Memayu Hayuning Bhawono yang berfokus pada terciptanya lingkungan sosial yang aman dan penuh kedamaian.
Agustina Wilujeng berpendapat bahwa keberhasilan Semarang menduduki peringkat 3 kota paling toleran versi SETARA Institute tahun 2026 merupakan buah dari keterbukaan warganya.
“Capaian dari SETARA Institute adalah bukti nyata bahwa masyarakat kita sangat terbuka. Warga bisa melihat langsung bagaimana Beleganjur dari berbagai daerah bersanding dengan rebana, angklung, kuda lumping, leak, Barongsai, sampai Warak Ngendog khas Semarang dalam satu rute yang sama sebagai simbol keindahan dalam perbedaan,” jelasnya, sebagaimana dilangsir dari kuasakata.com, Kamis (23/4/2026).
Semangat persatuan tersebut akan terlihat jelas saat berbagai alat musik tradisional dimainkan secara bersamaan di sepanjang jalur protokol kota.
Iring-iringan dijadwalkan mulai bergerak pada pukul 14.00 WIB dengan mengambil titik awal di Jalan Pemuda tepat di depan Balai Kota.
Rombongan peserta akan melintasi ikon Tugu Muda dan menyusuri Jalan Pandanaran sebelum akhirnya berkumpul di Lapangan Pancasila Simpang Lima.
Sajian budaya ini sengaja diletakkan di rute sentral agar memudahkan akses bagi seluruh lapisan masyarakat yang ingin menonton dari pinggir jalan.
“Mari kita saksikan dan rayakan bersama momentum ini sebagai pengingat untuk terus merawat harmoni yang sudah menjadi identitas Ibu Kota Jawa Tengah. Pawai ini adalah milik kita semua, tempat di mana seni budaya dari berbagai latar belakang bisa tumbuh dan diapresiasi oleh siapa saja,” pungkasnya, sebagaimana dilangsir dari kuasakata.com, Kamis (23/4/2026).