JAKARTA - Situasi pelik tengah melanda para peternak ayam petelur di sejumlah wilayah di Indonesia.
Nilai jual telur ayam di level peternak saat ini jatuh bebas hingga menyentuh angka sekitar Rp 20.000 untuk setiap kilogramnya.
Sementara itu, di pasar-pasar tradisional, harga komoditas telur yang ditawarkan kepada para konsumen masih bertengger di kisaran Rp 26.000 sampai Rp 27.000 per kg.
Kemerosotan harga tersebut disebabkan oleh stok barang yang melimpah ruah di pasar namun tidak dibarengi dengan kekuatan daya beli masyarakat.
Di samping itu, tingkat penyerapan pasar yang lesu turut memicu tumpukan persediaan telur yang kian bertambah.
Laju produksi telur ayam yang melonjak diketahui belum sejalan dengan volume permintaan pasar yang memadai.
Ketua Asosiasi Peternak Layer Nasional (PLN) Ki Musbar Mesdi menjelaskan, anjloknya harga telur ayam ras ini dipicu oleh pertambahan jumlah populasi ayam petelur yang teramat besar.
"Over supply karena populasi naik 20 persen dan stok telur menumpuk di farm akibat turunnya serapan masyarakat karena kemampuan daya beli turun," ujar Musbar saat dihubungi, Kamis (21/5/2026).
"Harga telur memang sudah terpuruk selama sebulanan di bawah harga pokok produksi terutama di Kabupaten Blitar dan sekitarnya di Propinsi Jawa Timur yang merupakan sentra peternak layer terbesar di Indonesia," tambahnya.
Berdasarkan penuturan Musbar, nilai jual telur di level produsen saat ini telah merosot tajam di bawah standar harga yang sudah digariskan pemerintah dalam Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 06 Tahun 2024.
Merespons kondisi tersebut, Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan komitmennya untuk membela nasib peternak yang tengah tertekan oleh fenomena penurunan harga ini.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda, menegaskan bahwa instansinya siap mengawal stabilitas harga telur demi kelangsungan bisnis peternakan skala rakyat.
"Arahan Bapak Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman sangat jelas, negara harus hadir menjaga peternak rakyat agar tetap mampu berusaha dan berkembang,” ujar Agung dalam keterangan resminya.
Agung mengutarakan, pihaknya sangat mengerti beban berat yang sedang dipikul para peternak akibat merosotnya harga telur di tingkat produsen.
Oleh karena itu, Kementan akan mengintensifkan sinergi bersama pemerintah daerah, himpunan peternak, kementerian terkait, hingga pelaku usaha demi mengendalikan alur pasokan serta permintaan pasar.
“Langkah ini penting agar harga di tingkat peternak dapat kembali bergerak lebih stabil,” katanya,” kata Agung.
Agung menggarisbawahi bahwa kapasitas produksi telur di dalam negeri sangat kokoh untuk menyokong kedaulatan pangan nasional.
Komoditas telur sendiri diakui sebagai salah satu produk pangan yang sukses mencapai status swasembada, bahkan telah berhasil dipasarkan ke mancanegara.
Pihak eksekutif sangat memahami andil krusial dari para produsen telur ini, sehingga perlindungan terhadap mereka perlu diwujudkan lewat perbaikan sektor perdagangan dan logistik.
“Yang perlu diperkuat adalah tata niaga, distribusi, dan hilirisasi agar manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih merata oleh peternak rakyat,” tutur Agung.