JAKARTA - Keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang tetap melanjutkan kebijakan pembekuan (freeze) bagi saham Indonesia dinilai tidak perlu ditanggapi secara berlebihan oleh para investor ritel.
Analis justru memberikan rekomendasi kepada investor untuk memanfaatkan momentum penurunan harga saham guna menerapkan strategi buy on weakness secara berkala, dengan tetap memprioritaskan emiten yang ditopang oleh fundamental kokoh serta valuasi yang masih kompetitif.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, berpandangan bahwa keputusan MSCI dalam mempertahankan langkah pembekuan atas saham-saham dari Indonesia ini memang memperpanjang sentimen overhang di pasar saham dalam negeri.
Hal tersebut terjadi lantaran MSCI masih membekukan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) serta Number of Shares (NOS), sekaligus belum memberikan ruang bagi penambahan saham Indonesia ke dalam MSCI Global Investable Market Indexes (GIMI).
Konkuensi utama dari langkah itu adalah tergerusnya potensi passive inflows atau masuknya aliran dana pasif dari para investor yang menduplikasi indeks MSCI.
Kendati demikian, ia berpendapat efeknya terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara menyeluruh bakal relatif terbatas lantaran keputusan tersebut sudah diantisipasi sebelumnya oleh para pelaku pasar. “Dampaknya terhadap IHSG secara keseluruhan cenderung terbatas karena keputusan tersebut sudah cukup diantisipasi pasar,” ujar Nafan saat dihubungi Kompas.com, Selasa malam (7/7/2026).
Laju pergerakan IHSG ke depan akan lebih didominasi oleh sentimen domestik, seperti capaian kinerja emiten pada paruh kedua tahun 2026, peluang pemangkasan suku bunga Bank Indonesia (BI), serta terjaganya stabilitas nilai tukar rupiah.
Sedangkan dari ranah eksternal, fokus perhatian para investor tertuju pada arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) dan dinamika geopolitik dunia.
Oleh sebab itu, MSCI memang memicu hambatan bagi pasar saham Indonesia, namun bukan satu-satunya aspek yang bakal mendikte arah pergerakan IHSG hingga pengujung tahun 2026.
“Faktor global seperti arah kebijakan The Fed dan perkembangan geopolitik. Artinya, MSCI menjadi faktor headwind, tetapi bukan satu-satunya penentu arah IHSG hingga akhir tahun,” paparnya.
Di tengah bergulirnya keputusan MSCI tersebut, Nafan memproyeksikan investor pasif (passive funds) masih cenderung bersikap wait and see karena peluang bagi perubahan bobot indeks belum disediakan oleh MSCI.
Sebaliknya, investor aktif (active funds) justru mulai melirik Indonesia sebagai peluang investasi apabila penilaian harga saham dalam negeri dianggap lebih memikat ketimbang negara berkembang lainnya.
Ia menambahkan bahwa investor aktif tidak semata-mata mengacu pada komposisi indeks, melainkan juga mengkalkulasi valuasi, potensi pertumbuhan keuntungan, stabilitas ekonomi makro, serta momentum pembenahan pasar modal.
Maka dari itu, jika fundamental ekonomi Indonesia mampu dipertahankan dan laba emiten memperlihatkan tren positif, valuasi yang tergolong murah berpeluang menjadi daya tarik tersendiri bagi investor jangka menengah hingga panjang.
Imbas langsung dari langkah MSCI ini akan lebih dirasakan oleh saham-saham berkapitalisasi besar yang mulanya berpeluang mendapatkan kenaikan bobot atau masuk ke dalam daftar indeks MSCI.
Melalui kelanjutan kebijakan freeze ini, saham-saham tersebut kehilangan kesempatan untuk memperoleh tambahan aliran dana pasif dalam jangka pendek.
Namun secara psikologis, keputusan dari MSCI ini turut memengaruhi sentimen pasar secara lebih luas lantaran berkaitan erat dengan pandangan investor terhadap tingkat aksesibilitas serta kualitas pasar modal domestik.
Ia memaparkan bahwa jajaran emiten yang terhitung lebih sensitif adalah saham-saham dalam kategori High Shareholding Concentration (HSC), yakni emiten berkapitalisasi besar namun porsi kepemilikan publik riilnya teramat minim sehingga fluktuasi harga sahamnya cenderung lebih tajam akibat transaksi yang memusat.
Bukan hanya itu, saham lapis kedua (second-liner) yang memiliki tingkat likuiditas rendah juga berisiko semakin kehilangan guyuran dana dari investor asing.
Di sudut lain, sektor yang dipandang relatif lebih kokoh bertahan adalah sektor perbankan dengan kapitalisasi besar atau masuk kelompok KBMI 4, sektor telekomunikasi, serta sektor komoditas, khususnya bahan baku dan energi tertentu.
Emiten-emiten pada sektor tersebut mempunyai rekam jejak keterbukaan kepemilikan publik yang lebih mumpuni sehingga relatif aman dari risiko penyesuaian metodologi data kepemilikan publik di atas 1 persen yang diterapkan oleh MSCI.
“Saham-saham di sektor ini memiliki rekam jejak transparansi kepemilikan publik yang sangat jelas, sehingga aman dari risiko perubahan metodologi penyesuaian data 1 persen oleh MSCI,” pungkas dia.
Bagi kalangan investor ritel, Nafan memberikan saran untuk menjalankan strategi buy on weakness secara bertahap (gradual accumulation) daripada sekadar menanti seluruh ketidakpastian pasar sepenuhnya mereda.
Pada implementasinya, pasar biasanya sudah mulai melaju lebih awal sebelum segala sentimen benar-benar bergeser ke arah positif.
Oleh karena itu, investor ritel sudah dapat mengawali akumulasi secara berkala pada saham-saham yang ditopang fundamental kuat serta valuasi yang memikat, dengan tetap mematuhi disiplin manajemen risiko.
Ketika memantapkan keputusan investasi, para investor juga wajib memonitor pergerakan aliran dana asing (foreign flow), stabilitas nilai tukar mata uang rupiah, arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia maupun The Fed, pertumbuhan keuntungan emiten, serta jalannya reformasi pasar modal Indonesia menjelang MSCI Index Review mendatang.
Bila mencermati kondisi fundamental emiten serta valuasi pasar yang ada saat ini, Nafan optimistis masih terdapat beberapa sektor yang sangat layak untuk diperhatikan.
Sektor perbankan berkapitalisasi besar tetap menjadi opsi utama lantaran disokong fundamental yang solid, profitabilitas yang tinggi, serta berpeluang memetik keuntungan saat siklus suku bunga bergeser ke arah yang lebih longgar.
Di samping itu, sektor telekomunikasi juga dinilai prospektif karena didukung arus kas yang kokoh, tingkat pembagian dividen yang bersaing, serta karakteristiknya yang defensif di kala volatilitas pasar sedang meningkat.
Sementara itu, sektor komoditas masih dapat dilirik secara selektif, khususnya jika harga komoditas andalan mampu bertahan pada level yang sanggup menyokong profitabilitas emiten.