JAKARTA - Langkah tim nasional Amerika Serikat baru saja terhenti setelah ditundangkan oleh Belgia pada fase 16 besar Piala Dunia 2026.
Penjaga gawang utama tim AS, Matt Freese, mendadak jadi sorotan khalayak akibat blunder fatal yang dilakukannya.
Pemain New York City FC bernama lengkap Matthew Freese ini sekarang telah menginjak usia 27 tahun.
Mempunyai postur tinggi tegap di atas 1,9 meter, ia sebenarnya tampil apik dengan catatan delapan kali penyelamatan krusial sepanjang kompetisi.
Namun di luar performanya di lapangan hijau, sang kiper memunyai riwayat akademis mentereng sebagai lulusan kampus elite Ivy League.
Bakat sepak bolanya sendiri mulai ditempa saat bergabung dengan akademi Philadelphia Union pada awal kariernya.
Kendati fokus meniti karier sebagai pesepak bola, ia tidak mengabaikan pendidikan dengan mengambil jurusan ekonomi di Universitas Harvard.
Selama berstatus mahasiswa, ia juga aktif memperkuat tim sepak bola universitasnya dalam berbagai ajang kompetisi antarkampus.
Perjalanan profesionalnya dimulai pada tahun 2019 saat resmi direkrut oleh tim MLS, Philadelphia Union.
Walau sudah berkarier secara profesional, ia tetap berkomitmen merampungkan kuliahnya hingga berhasil menggondol gelar sarjana dari Harvard pada tahun 2022.
Keberhasilan akademis ini membuat Freese tercatat dalam sejarah situs resmi FIFA sebagai lulusan Harvard pertama yang berlaga di turnamen resmi Piala Dunia.
Silsilah keluarganya pun dipenuhi sosok genius, dimulai dari sang ayah, Andrew Freese, yang merupakan ahli bedah saraf ternama sekaligus pionir terapi gen.
Andrew pernah dipercaya mengemban jabatan sebagai direktur medis bidang neurologi di Rumah Sakit Brandywine.
Ayah Matt tersebut meraih gelar doktor (PhD) di bidang neurobiologi dari Massachusetts Institute of Technology (MIT).
Semasa studinya, Andrew dibimbing langsung oleh penemu vaksin Moderna dan terlibat dalam penelitian awal teknologi mRNA, jauh sebelum sistem itu diadaptasi untuk vaksin COVID-19.
Sang ayah wafat pada tahun 2021 di usia 61 tahun lantaran komplikasi dari penyakit gagal ginjal.
Sementara ibunda Matt, Marcia Geary Wolicki, merupakan lulusan magister (MBA) di bidang manajemen pelayanan kesehatan.
Marcia berjuang membesarkan keempat anaknya seorang diri setelah bercerai dengan Andrew sejak Matt masih berumur delapan tahun.
Berdasarkan pemberitaan Town and Country, Marcia adalah sosok ibu tangguh yang rela mengantar Matt ke sekolah demi bisa mengikuti latihan pagi serta laga tandang.
Kakek dan nenek Matt dari garis ayah, Ernst dan Elisabeth Freese, merupakan ilmuwan asal Jerman yang bermigrasi ke AS setelah Perang Dunia II untuk berkarier di National Institutes of Health.
Ernst diakui sebagai pakar biologi molekuler terpandang yang meneliti mutasi DNA, dampak zat kimia pemicu kanker, hingga asal-usul penyakit Parkinson dan Alzheimer.
"Dia menemukan bagaimana mutasi gen bekerja," kata Katherine Freese, bibi Matt Freese, kepada NBC News, dikutip Selasa (7/7/2026).
Katherine juga memilih jalan hidup sebagai ilmuwan dengan berprofesi sebagai astrofisikawan di Universitas Texas dan menjadi salah satu pakar yang meneliti materi gelap (dark matter).
Sedangkan dari garis keturunan ibu, bakat olahraga Matt mengalir dari sang kakek, Jack Geary, yang pernah dipilih oleh tim NFL New York Bulldogs pada tahun 1949, meski klub tersebut hanya bertahan sewaktu satu musim.
Sayangnya, cedera bahu parah membuat karier pramusim Geary harus menyudahi perjalanannya lebih awal.
Sebagai bentuk penghormatan bagi sang kakek, Matt memilih untuk memakai nomor punggung 49 bersama klubnya, NYC FC.
Jack Geary juga diketahui memiliki riwayat karier sebagai seorang penerbang di Angkatan Udara.
Dalam keluarganya, Matt Freese lahir sebagai anak bungsu dari empat bersaudara.
Semua anak di keluarga Freese lahir dalam waktu yang berdekatan dengan rentang jarak hanya enam tahun.
Kakak tertua Matt, Jack, pernah aktif sebagai anggota tim olahraga dayung kelas berat di Universitas Harvard.
Lalu Tim, kakak keduanya yang berusia tiga tahun lebih tua, juga meraih gelar sarjana di Harvard sebelum meneruskan studi magister ke Universitas Cambridge.
Kakak perempuannya, Lyssa, sukses meraih gelar doktor (PhD) dari MIT mirip seperti mendiang ayah mereka.
Kini Lyssa mendedikasikan dirinya sebagai asisten profesor bidang ilmu sistem bumi di Universitas California.
Ilmu yang didapatkan Matt selama di bangku kuliah pun diterapkan secara maksimal dalam profesinya.
Saat mahasiswa, ia sempat menulis riset ilmiah mendalam yang mengulas tentang eksekusi sepakan penalti.
Ketika terjun ke dunia sepak bola profesional, kelebihan utamanya sebagai kiper justru terletak pada pola pikir analitis dan metodologi realistis layaknya pendekatan ilmiah.
"I think people usually, mistakenly, think that it's a position where you're a shot-stopper," kata Freese, dikutip dari NBC News. "What you're trying to do is prevent goals. Whether that's proactively, good positioning, good communication, understanding of the game, reading the game," lanjutnya.
Menurut pandangannya, seorang kiper harus jeli membaca situasi lapangan, mengalkulasi arah datangnya bahaya, serta menempatkan diri pada posisi terbaik.
"A lot of goalkeeping is maximizing the surface area of the goal that you can cover at any given point," jelasnya.
Gaya berpikir analitis yang dipraktikkan Matt diturunkan dari mendiang ayahnya yang piawai memecahkan masalah rumit.
"It's a logical, analytical mind," kata Katherine. "It's a way of looking at the world. Putting things together, seeing things that other people don't see," imbuhnya.
Hal ini menandakan bahwa seseorang dituntut untuk tetap kreatif dalam cakupan ilmu matematika dan fisika.
Walau ada banyak rumus matematika yang tersedia, seseorang tidak boleh kaku dan terpaku pada formula baku yang sudah ada.
Dalam matematika, berpikir kreatif dan mengandalkan logika sangat diperlukan, seperti bagaimana bila kami mengombinasikan unsur A dengan unsur B, serta dampak apa yang bakal dihasilkan.
"Anda menyatukan berbagai hal dengan cara yang belum pernah dilihat orang sebelumnya. Kami memiliki kemampuan itu. Kami bisa melihat berbagai hal," terang Katherine.