Pencarian Remaja Hilang di Gunung Bismo, Sang Ayah Turun Langsung ke Hutan

Pencarian Remaja Hilang di Gunung Bismo, Sang Ayah Turun Langsung ke Hutan
Ratusan petugas gabungan lintas Kabupaten saat apel pagi sebelum kembali melakukan pencarian remaja hilang di Gunung Bismo (FOTO: NET)

WONOSOBO - Keluarga masih terus memelihara harapan agar Yufaidin (15), remaja asal Dusun Krinjing, Kabupaten Wonosobo, segera ditemukan.

Setelah operasi pencarian memasuki hari ketujuh, ayah kandung Idin memutuskan untuk terjun langsung bersama tim SAR gabungan menyusuri hutan Gunung Bismo guna mencari putranya.

Saat ini, Solihin, ayah Idin, tidak berada di kediamannya karena masih menetap di posko pencarian bersama para sukarelawan.

Di rumahnya, hanya ada sejumlah kerabat yang menanti perkembangan kabar terbaru dari lapangan.

Paman Idin, Sarko, menjelaskan bahwa keponakannya itu terakhir kali terlihat di rumah pada Selasa (30/6/2026).

Idin pergi tanpa memberikan informasi tujuan kepada keluarganya.

"Yang kami sayangkan enggak ada pamitan, enggak tahu ke mana juga," ujarnya saat ditemui Kompas.com, Rabu (8/7/2026).

Kecemasan pihak keluarga memuncak saat Idin tidak kunjung pulang ketika waktu Magrib tiba.

Situasi tersebut membuat keluarga melakukan pencarian mandiri di tempat-tempat yang sering dikunjungi Idin.

"Sampai waktu Magrib kan belum pulang. Sempat kami cari ke arah sana ke arah Idin biasa bermain, sampai besoknya juga belum pulang," katanya.

Pencarian mandiri tersebut menemukan titik terang setelah seorang warga mengaku melihat Idin berjalan bersama temannya, Arifin Nurohmat (Apin), menuju Gunung Bismo.

Informasi tersebut menjadi dasar bagi tim SAR untuk memfokuskan pencarian di kawasan gunung.

Meskipun keluarga dan warga telah menyisir jalur yang diduga dilalui keduanya, Idin belum juga ditemukan hingga esok harinya.

Operasi kemudian diperluas dengan melibatkan warga desa dan akhirnya diambil alih oleh tim SAR gabungan.

Sarko menyebutkan bahwa Idin dan Apin adalah teman dekat yang selalu beraktivitas bersama.

Keluarga tidak merasa curiga saat mengetahui keduanya pergi bersama.

"Memang sering bermain bersama berdua. Sering akrab banget. Kalau ke mana-mana selalu bareng mereka itu," katanya.

Idin dikenal sebagai remaja yang pendiam dan jarang bepergian jauh dari rumah.

"Pendiam, sangat baik. Enggak pernah ke mana-mana, selalu di rumah," ujar Sarko.

Biasanya, Idin hanya keluar rumah untuk bermain bola atau menonton hiburan rakyat.

Ia, yang akan naik ke kelas IX SMP, diketahui baru pernah mendaki Gunung Bismo sebanyak satu kali sebelumnya.

"Ya pernah mungkin satu kali. Ini mungkin yang kedua kali," ucap Sarko.

Keluarga semakin khawatir karena Idin tidak membawa perbekalan yang cukup untuk mendaki.

"Bawa sedikit paling kerupuk sama roti, cuma sedikit. Mungkin buat dimakan satu kali pun sudah habis," katanya dengan nada khawatir.

Selain itu, pakaian yang dikenakan Idin dianggap tidak memadai untuk menembus hawa dingin pegunungan.

"Enggak bawa perlengkapan apa-apa. Kayaknya pakai celana pendek, pakai kaos pendek," ujarnya.

Keluarga menduga Idin awalnya hanya ingin bermain di lereng bawah, bukan melakukan pendakian serius.

"Mungkin ya mau main lah. Cuman mungkin tersesat atau gimana, kami enggak tahu," tutur Sarko.

Keluarga tidak memiliki firasat buruk sampai akhirnya Idin tidak pulang saat hari mulai gelap.

"Masih enggak ada firasat apa-apa. Setelah Magrib belum pulang, baru kami punya firasat buruk," katanya.

Hingga kini, Solihin tetap gigih ikut menyisir lereng curam Gunung Bismo.

Sarko menyatakan bahwa keputusan tersebut murni dorongan insting seorang ayah untuk menyelamatkan anaknya.

"Ya mungkin karena bapaknya ke sana jadi ketemu kan. Kami juga enggak tahu," ujarnya berharap.

Keluarga terus berdoa dan menjaga asa agar Idin segera ditemukan dalam keadaan selamat.

"Semoga cepat ketemu. Harapannya tetap pulang utuh seperti pas keluarnya," kata Sarko.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index