Pergeseran Tren, Gen Z Fokus Capai Kemapanan Karier Sebelum Berumah Tangga

Pergeseran Tren, Gen Z Fokus Capai Kemapanan Karier Sebelum Berumah Tangga
Ilustrasi buku menikah (FOTO: NET)

JAKARTA - Momen Hari Kependudukan Dunia pada 11 Juli 2026 tidak hanya menyoroti masalah stabilitas ekonomi yang kompleks, tetapi juga mengamati tren gaya hidup generasi muda dalam menyikapi ikatan pernikahan.

Kini terjadi pergeseran mengenai usia ideal untuk membangun rumah tangga pada kelompok usia produktif di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Data terkini memperlihatkan adanya penurunan yang sangat drastis pada angka pernikahan di kelompok usia remaja.

Kondisi tersebut menandakan bahwa generasi muda saat ini jauh lebih selektif dan lebih memilih untuk mendahulukan pencapaian pribadi sebelum memutuskan untuk menikah.

"Ini juga sesuai dengan fenomena pendewasaan usia perkawinan. Anak-anak ketika sudah lulus kuliah, mereka mau kerja dulu, mau ada me time-nya dulu," ungkap Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga), Bonivasius Prasetya Ichtiarto, di Kantor Kemendukbangga, Jakarta, Rabu (8/7/2026).

Data hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 turut memperkuat adanya perubahan perilaku tersebut pada masyarakat Indonesia secara luas.

Angka pernikahan di bawah usia 19 tahun terbukti terus menurun di berbagai provinsi, sementara pernikahan justru mulai banyak dilakukan pada rentang usia 25 hingga 29 tahun.

"Sehingga, begitu naik ke usia 25-29, ada kenaikan (pernikahan) yang sangat tinggi di sana. Ini sebenarnya sudah menuju ideal yang harus kami jaga," ucap Bonivasius.

Pernikahan juga tercatat semakin sering terjadi pada rentang usia 30-34 tahun hingga kelompok usia 35-39 tahun.

Bonivasius menjelaskan bahwa keputusan untuk menunda pernikahan di usia muda ini bukan berarti bentuk penolakan massal terhadap konsep membina keluarga atau memiliki keturunan.

Generasi muda saat ini menganggap masa lajang sebagai fase penting untuk membangun kemapanan finansial secara mandiri, beradaptasi dengan dunia kerja, serta menikmati waktu untuk diri sendiri sebelum memikul tanggung jawab rumah tangga yang besar.

Di samping fokus pada pengembangan karier, perubahan gaya hidup kelompok muda ini juga sangat dipengaruhi oleh paparan media sosial.

"Mereka menghabiskan banyak waktu di media sosial. Sesuai perkiraan, ini adalah dunia baru di mana semua orang kini kecanduan gawai mereka," ujar perwakilan United Nations Population Fund (UNFPA) di Indonesia, Hassan Mohtashami.

Kedekatan yang sangat intens dengan dunia digital ini secara bertahap mengubah cara pandang mereka terhadap keintiman suatu hubungan asmara.

Kedewasaan dalam berpikir serta kesiapan materi juga turut dipengaruhi oleh konten-konten yang mereka tonton melalui media sosial.

Jika dibandingkan dengan negara tetangga, minat generasi muda Indonesia untuk membangun sebuah keluarga sebenarnya masih terhitung sangat tinggi.

"Singapura sudah kesulitan sekali bagaimana supaya generasi mudanya mau punya anak, mau berkeluarga. Kalau di negara yang lain, mindset-nya itu sudah tidak mau anak," kata Bonivasius.

Guna mengatasi merosotnya minat untuk membangun rumah tangga tersebut, pemerintah di sejumlah negara tetangga sampai menempuh berbagai strategi, termasuk menyediakan fasilitas biro jodoh secara gratis.

"Makanya ada program sampai diajari dating sama negaranya. Bahkan kalau perlu kencan pakai uang negara, makan malam dibayari, disiapkan platform dating online, tapi yang diverifikasi negara," papar Bonivasius.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index