Pasca Gempa Venezuela: Penjarahan Merajalela dan Tuduhan Oknum Aparat

Pasca Gempa Venezuela: Penjarahan Merajalela dan Tuduhan Oknum Aparat
Pemandangan sebuah bangunan yang runtuh susulan gempa bumi di Caracas (FOTO: NET)

VENEZUELA - Di tengah suasana berduka setelah lindu dahsyat menghantam Venezuela, gelombang pencurian serta penjarahan segera muncul di area yang paling terdampak bencana.

Pihak otoritas mencatat sedikitnya 1.450 jiwa meninggal dunia dan puluhan ribu orang masih hilang akibat musibah pada Rabu (24/6/2026) lalu.

Kondisi paling memprihatinkan tampak di pesisir negara bagian La Guaira, yang bersebelahan dengan ibu kota Caracas.

Kawasan tersebut kini berubah menjadi hamparan puing-puing bangunan, sebagaimana dilansir AFP, Minggu (28/6/2026).

Di tengah duka, beredar rekaman video di media sosial yang memperlihatkan sekumpulan orang sedang mengoper kotak berisi peralatan rumah tangga dari toko yang runtuh.

Rekaman lain pun memperlihatkan barang-barang jarahan dibawa menggunakan atap mobil hingga sepeda motor.

Tindakan kriminal ini memantik kemarahan warga yang selamat, lantaran bantuan pemerintah dianggap sangat lamban dan minim.

Terlebih lagi, beberapa penjarah dilaporkan kehilangan nurani demi menguras barang di tengah kepanikan warga.

Maria Esther Bernal (71), seorang warga yang menyewakan toko kepada pedagang asal China, meratapi kondisi ketika seluruh tokonya habis dijarah tanpa sisa. "Apakah adil jika rakyat kami saling memangsa satu sama lain?Mereka bahkan mengambil kabel-kabelnya," ratap Maria Esther Bernal.

Bernal mengisahkan kejadian tragis mengenai seorang pria warga China yang tewas di dalam supermarket di sebelah tokonya.

Saat penjarahan terjadi, orang-orang tampaknya tidak peduli lagi dengan keberadaan jenazah tersebut. "Mereka melangkahi mayatnya untuk menjarah. Itu adalah sebuah supermarket," kata Bernal menambahkan.

Keluhan serupa disampaikan Zulay de Carvajal (72).

Ia mengungkapkan bagaimana keluarganya kehilangan seluruh harta benda, bukan hanya karena bangunan runtuh, melainkan karena ulah penjarah yang memanfaatkan situasi darurat. "Tidak ada apa-apa lagi di sini. Mereka mencuri semuanya: pakaian, sepatu, peralatan kami, panci, cangkir, mangkuk, hingga gelas kami," tutur Zulay de Carvajal kepada AFP.

Putranya, Gregory Carvajal (37), juga menyaksikan langsung kekacauan mengerikan tersebut saat berupaya mengevakuasi korban gempa. "Kami menemukan bencana. Kami sedang memindahkan mayat-mayat, dan pada saat itu juga, mereka sedang menjarah. Orang-orang menjadi gila, menjarah, mengambil segalanya," kata Gregory Carvajal.

Selain menyasar toko kelontong, aksi penjarahan massal ini turut menghantam jaringan apotek besar seperti Farmatodo, serta berbagai supermarket dan bisnis lokal lain.

Beberapa pengamat menilai situasi karut-marut ini terjadi karena oportunisme bencana.

Namun, sebagian pihak menekankan bahwa kelaparan serta kemiskinan ekstrem memaksa warga yang telah kehilangan segalanya mengambil langkah nekat, terutama di negara yang memang sudah mengalami krisis kronis sebelum gempa terjadi.

Situasi keamanan kian memburuk dengan munculnya berbagai modus kejahatan baru di lingkungan lain di La Guaira.

Beberapa orang kedapatan menyedot bahan bakar dari mobil-mobil warga, sementara yang lain nekat menyamar sebagai petugas pemadam kebakaran untuk mengambil keuntungan dari situasi bencana.

Tidak hanya itu, tuduhan miring di jagat maya kini mengarah kepada aparat kepolisian dan personel militer.

Kritik publik menuduh oknum aparat ikut mencuri dari rumah warga yang ditinggalkan, bahkan dari jasad para korban tewas.

Dalam sebuah video yang beredar luas di media sosial, seorang warga terekam mengusir tentara dan petugas resmi lainnya dari rumahnya setelah memergoki mereka sedang mengais-ngais barang. "Mereka terus mengambil barang, saya tidak bisa menahannya lagi," protes pria yang merekam kejadian tersebut menggunakan ponselnya.

Petugas resmi yang berada di sana berdalih bahwa mereka hanya sedang memeriksa apakah ada orang yang terjebak di dalam rumah.

Guna meredam situasi yang kian tidak terkendali, pemerintah Venezuela kini telah memiliterisasi negara bagian La Guaira.

Akses masuk ke wilayah tersebut dibatasi ketat dan hanya diperuntukkan bagi mereka yang memiliki surat izin khusus yang diterbitkan langsung oleh pihak militer di Caracas.

Saat ini, warga menuntut agar pemerintah tidak hanya fokus pada upaya penyelamatan, melainkan juga meningkatkan keamanan serta segera menyalurkan bantuan logistik berupa makanan, air bersih, dan obat-obatan.

Mantan koordinator LSM hak asasi manusia Provea, Marino Alvarado, menilai fenomena kriminalitas di tengah bencana ini bukan hal baru bagi La Guaira.

Wilayah pesisir ini sebelumnya pernah hancur lebur pada 1999 akibat bencana hujan lebat dan tanah longsor besar yang menyapu seluruh lingkungan serta menewaskan lebih dari 10.000 jiwa.

Menurut Alvarado, gelombang kriminalitas serupa juga meletus pada masa silam. "Tidak mengherankan jika kami dapat menemukan tiga situasi yang juga terjadi selama bencana tanah longsor dahulu," jelas Marino Alvarado. "Kriminalitas. Kedua, penyalahgunaan wewenang oleh polisi, yang sekarang mulai dilaporkan. Dan ketiga, petugas kepolisian atau militer yang juga ikut serta dalam aksi penjarahan," lanjutnya.

Kendati situasi masih diselimuti ketidakpastian dan trauma, secercah harapan mulai muncul dari aksi gotong royong masyarakat.

Setelah salah satu cabang jaringan apotek Farmatodo dijarah habis di La Guaira, pihak perusahaan bersama dengan komunitas lokal bergotong royong membersihkan sisa-sisa kerusakan.

Tempat yang sempat luluh lantak itu kini dialihfungsikan menjadi sebuah klinik perawatan primer guna melayani kebutuhan medis darurat bagi para korban selamat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index