Terungkap! Alasan Ilmiah Mengapa Mimpi Sulit Diingat Saat Bangun

Terungkap! Alasan Ilmiah Mengapa Mimpi Sulit Diingat Saat Bangun
Orang Sedang Tidur. (Sumber: NET)

JAKARTA - Siapa di antara Anda yang sempat melewati mimpi yang indah, namun mendadak lupa mengenai rincian detail mimpinya tatkala baru terjaga?

Faktanya hal tersebut dikategorikan sebagai kondisi normal yang jamak dirasakan oleh khalayak luas.

Fenomena mimpi paling intens bergulir tatkala tubuh memasuki fase tidur rapid eye movement (REM).

Di dalam tahapan tidur ini, pergerakan aktivitas organ otak sekilas memperlihatkan kemiripan dengan kondisi otak di saat terjaga, kendati didapati sejumlah titik perbedaan.

Sebagai ilustrasi, sepanjang tidur fase REM, zona otak yang mengemban tugas mengalihkan ingatan jangka panjang, termasuk wilayah pusat penampungan ingatan jangka panjang itu sendiri sedang melambat.

Zona ingatan jangka pendek sejatinya berstatus aktif sepanjang tidur fase REM, akan tetapi zona tersebut cuma sanggup menampung memori di kisaran waktu 30 detik saja.

Aktivitas mimpi kerap kali lenyap dengan kilat lantaran pada fase REM, komponen otak yang memiliki fungsi mentransfer memori menuju ingatan jangka panjang bekerja secara kurang maksimal.

Imbasnya, visualisasi mimpi sekadar tersimpan dalam durasi temporer di bagian memori jangka pendek yang rentan pupus dalam hitungan sekon saja.

"Anda biasanya harus terbangun dari tidur REM untuk bisa mengingat mimpi," kata peneliti mimpi dari Harvard Medical School Deirdre Barrett, dikutip dari Scientific American, menambahkan apabila seseorang justru masuk ke tahap tidur berikutnya tanpa terbangun, mimpi itu tidak akan pernah masuk ke memori jangka panjang.

Terdapat sederet unsur lain yang dinilai sanggup memberikan dampak pada tingkat kecakapan seseorang dalam merekam memori mimpi.

Berdasarkan hasil komparasi meta-analisis pada tahun 2008, kaum perempuan sanggup mengingat mimpi dalam jumlah yang lebih banyak apabila dikomparasikan dengan kelompok laki-laki.

Masyarakat usia lanjut juga merekam lebih sedikit memori mimpi jika disandingkan dengan populasi usia muda.

Daya rekam mimpi merangkak naik pada kalangan anak-anak semenjak mereka memiliki kecakapan untuk mengisahkan kembali alur mimpinya, lalu menyentuh grafik tertinggi pada periode usia remaja awal hingga fase awal umur 20-an, kemudian berangsur merosot secara perlahan di sepanjang perjalanan masa dewasa.

Kendati begitu, potensi dalam mengingat visualisasi mimpi bisa memunculkan perbedaan yang signifikan bagi tiap-tiap orang.

Terdapat individu yang nyaris tidak pernah sanggup merekam ingatan mimpi, sementara di sisi lain ada pula yang lihai mengingat rentetan beberapa mimpi sekaligus di setiap malamnya.

"Orang yang lebih introvert dan fokus ke dunia batin cenderung lebih mudah mengingat mimpi, sedangkan mereka yang lebih ekstrovert dan berorientasi tindakan cenderung lebih sedikit mengingat mimpi," tandas Barrett.

Metode Menjaga Memori Mimpi

Organ otak pada dasarnya dapat diberi stimulus latihan guna merekam memori mimpi.

Konselor klinis asal British Columbia Leslie Ellis memberikan petunjuk bagi orang-orang yang berkeinginan merekam ingatan mimpi agar dapat meluangkan waktu sejenak tepat usai terbangun dari tidur, bahkan sebelum meregangkan bagian tubuh, untuk merenungkan kembali objek apa yang baru saja hadir di dalam mimpi mereka.

Gali dan ingat kembali elemen sedetail mungkin yang sanggup dijangkau.

Formula ini terbukti membantu proses pemindahan memori mimpi dari zona ingatan jangka pendek menuju ke zona ingatan jangka panjang.

"Tuliskan segera, maka mimpi itu akan tetap tersimpan. Karena bagi kebanyakan orang, mimpi akan cepat menghilang jika tidak sengaja dicatat," ujar Ellis.

 

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index