PEKALONGAN - Suara mesin jahit terdengar saling menyahut dari sebuah rumah produksi yang bersahaja di wilayah Desa Paesan Utara, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.
Di area dalam rumah tersebut, tumpukan bahan kain kanvas memenuhi tiap sudut meja kerja.
Puluhan pasang tangan bergerak dengan cekatan, merangkai lembar demi lembar potongan bahan menjadi produk celana yang siap untuk dikenakan.
Di tengah kesibukan para pekerja jahit itu, Iswandi (57) terlihat menjadi sosok yang paling bersungguh-sungguh.
Melalui keterampilan yang telah terasah selama kurun waktu bertahun-tahun, dirinya merapikan lembaran bahan sebelum berlanjut ke tahapan penjahitan berikutnya.
Sesekali dirinya menengadah untuk memastikan kualitas hasil jahitannya senantiasa presisi sebelum diserahkan menuju ke bagian penyelesaian akhir atau finishing.
Bagi sosok Iswandi, tempat tersebut bukan sekadar area untuk mencari nafkah.
Rumah produksi milik Hanafi yang mengusung merk fesyen "Al Cloth" ini telah menjelma sebagai tumpuan hidup untuk dirinya beserta banyak perajin jahit lokal lainnya.
“Kalau usaha ini ramai, kami juga ikut merasakan,” ujar Iswandi singkat sambil tetap fokus bekerja.
Iswandi merupakan satu potret dari sekira 25 tenaga jahit mitra lokal yang saat ini menggantungkan hidup pada dinamika bisnis Al Cloth.
Usaha ini berawal dari jalinan kisah panjang seorang pelaku dagang kecil bernama Hanafi (40), warga Jalan Sepuran No. 139, Sopaten, Kedungwuni Barat.
Di balik geliat pertumbuhan bisnis celana kanvas tersebut, Hanafi melewati fase pasang surut yang tidak sebentar.
Proses yang dirinya lalui sangat jauh dari kesan instan.
Sebelum namanya masyhur sebagai pengusaha UMKM yang gemilang, Hanafi mengawali roda kehidupannya sebagai pedagang yang menjajakan busana batik menuju ke bermacam wilayah seperti Semarang, Solo, sampai Yogyakarta.
Dirinya sempat mencicipi getirnya menawarkan barang dagangan dari satu pasar ke pasar lainnya, mencari relasi pembeli, hingga menanti datangnya konsumen yang tidak menentu.
“Awalnya saya dipercaya orang untuk memasarkan produk batik. Keuntungan itu kemudian saya kembangkan untuk jualan online,” katanya.
Dirinya masih mengingat dengan jelas momen awal mula berkecimpung di dalam dunia niaga tatkala berada di lingkungan Pasar Banjarsari.
Dari lokasi itulah, dirinya bersua dengan rekan bisnis asal area Buaran, Kabupaten Pekalongan, yang selanjutnya menawarkan kerja sama untuk memasarkan komoditas kain batik.
Sistem perdagangan pada masa itu masih sepenuhnya mengandalkan pola konvensional.
Hanafi bergerak keliling memobilisasi barang dagangan, berpindah dari satu daerah menuju daerah berikutnya.
Akan tetapi lambat laun dirinya mulai membaca adanya pergeseran perilaku dari para konsumen.
Publik mulai familier dengan jaringan internet serta platform media sosial, sementara pola transaksi belanja mulai beralih menuju ke ranah platform digital.
Walaupun masih konsisten berniaga secara luring sepanjang tahun 2015 hingga 2016, Hanafi mulai mengadu peruntungan baru di ruang daring.
Pada tahun 2017, salah seorang sejawatnya mengajak dirinya untuk memasarkan komoditas dagangan via Facebook.
“Semula saya diajak teman jualan online di Facebook. Waktu itu saya belum begitu berpikir. Tapi setelah melihat perkembangan minat konsumen ternyata bagus,” ujarnya.
Semenjak momen itulah cara pandangnya mulai terbuka lebar.
Dirinya menyadari bahwa ceruk pasar tidak lagi tersekat pada keberadaan toko fisik ataupun wilayah domestik saja.
Ranah digital menyuguhkan kans yang jauh lebih masif.
Hanafi kemudian mulai memikirkan formula agar produk buatannya bisa terus tumbuh dan memikat hati para konsumen.
Opsi tersebut pada akhirnya menjelma menjadi fase krusial di dalam perjalanan bisnisnya.
Momentum Pandemi COVID-19 Tatkala badai pandemi COVID-19 menghantam Indonesia, banyak gerai luring mengalami penurunan omzet penjualan yang drastis akibat adanya pembatasan aktivitas publik.
Namun kondisi yang berkebalikan justru dirasakan oleh Al Cloth.
Produk celana kanvas buatannya justru mendapati lonjakan order yang signifikan lantaran pola pemasaran dieksekusi secara daring.
Habit masyarakat yang kian terbiasa berbelanja online memicu volume penjualan meroket tajam.
“Pas COVID itu penjualan online sangat bagus karena masyarakat lebih nyaman belanja secara daring karena adanya pembatasan,” katanya.
Di kala mayoritas lini usaha terpuruk akibat imbas pandemi, bisnis yang dikelola Hanafi justru mendapati momentum emasnya.
Pesanan mengalir deras dari bermacam daerah.
Aktivitas di rumah produksinya kian padat.
Para tenaga jahit lokal pun ikut kecipratan berkah dari dampak positif tersebut.
Akan tetapi, jalan operasional usaha tidak selamanya bergulir mulus.
Pada tahun 2022, Hanafi berupaya melebarkan sayap bisnis dengan menjajakan produk celana jins yang diperoleh dari pemasok lain.
Langkah spekulasi itu rupanya tidak berbuah manis sesuai ekspektasi.
Komoditas tersebut kurang diminati oleh pasar sehingga aktivitas usahanya sempat mati suri selama hampir satu tahun lamanya.
Dirinya juga sempat mencicipi pengalaman yang kurang mengenakkan kala menjalin kemitraan bisnis dengan pihak luar.
Komitmen yang mulanya diproyeksikan bisa berjalan harmonis ternyata berujung di luar kesepakatan awal.
“Kesepakatan kerja sama pada awal dengan ending-nya berbeda. Itu sempat membuat saya trauma,” katanya.
Flop bisnis tersebut sempat membikin dirinya jatuh.
Namun Hanafi memantapkan hati untuk bangkit kembali.
Dirinya memfokuskan ulang energi pada jenis produk yang paling dikuasainya, yaitu celana kanvas.
Tindakan taktis selanjutnya ialah memperkokoh lini pemasaran via platform e-commerce, khususnya Shopee.
Menurut pandangan Hanafi, keberadaan marketplace menyumbang andil besar bagi eskalasi penjualannya.
Satu di antara aspek krusial ialah tersedianya opsi transaksi bayar di tempat atau Cash on Delivery (COD) yang memicu level kepercayaan konsumen kian menebal dalam berbelanja online.
“Di platform seperti Shopee lebih signifikan karena orang lebih percaya dengan sistem COD,” katanya.
Walau mengakui regulasi di dalam marketplace tergolong ketat, Hanafi justru menilai pola tersebut efektif dalam memelihara mutu pelayanan terhadap pembeli.
“Shopee memang memiliki banyak aturan, tapi sangat membantu pemasaran,” ujarnya.
Sekarang, Al Cloth terus mengepakkan sayap bisnisnya.
Di samping mempekerjakan enam orang staf tetap, Hanafi merangkul sekira 25 tenaga jahit mitra lokal demi memenuhi volume permintaan pasar.
Seluruh komponen bahan baku yang diaplikasikan juga didatangkan dari area sekitar lingkungan tempat tinggalnya sehingga roda perputaran ekonomi lokal ikut bergulir aktif.
Tembus Pasar Asia Tenggara Komoditas celana kanvas karya Al Cloth sekarang tidak hanya didistribusikan ke pelbagai wilayah di Indonesia seperti Jakarta, Sumatera, Kalimantan, hingga Papua.
Jangkauan pasarnya bahkan sudah mulai merambah ke kawasan Asia Tenggara, utamanya negara Malaysia dan Singapura.
“Konsumen sekarang sudah sampai Malaysia dan Singapura. Mungkin mereka orang Indonesia yang bermukim di sana,” katanya sambil tersenyum.
Pada situasi perputaran normal, angka penjualan harian Al Cloth sanggup menembus omzet sekira Rp200 ribu per hari.
Sementara pada momen bulan suci Ramadan, volume pesanan bisa melonjak sangat tajam sampai menyentuh angka kisaran 400 resi pengiriman setiap harinya.
Kendati grafik penjualan lazimnya melandai pasca-Lebaran lantaran masyarakat mengalihkan fokus pengeluaran untuk keperluan tahun ajaran baru sekolah, Hanafi senantiasa memelihara rasa optimistis terhadap masa depan dunia bisnis digital.
Dirinya menaruh harapan agar pelbagai program pelatihan serta inkubasi dari pihak platform e-commerce mampu menyokong Al Cloth agar kian populer secara luas, baik di kancah pasar domestik maupun mancanegara.
Bagi sosok Hanafi, pencapaian gemilang bisnis bukan semata-mata diukur dari nominal laba pribadi yang dikantongi.
Ada esensi yang menurut pandangannya bernilai jauh lebih krusial, yaitu bagaimana bisnis yang dirintisnya mampu menyediakan lapangan kerja baru sekaligus menstimulasi roda ekonomi publik sekitar.
Di tempat pembuatan yang bersahaja itu, deru peranti jahit yang tiada henti berbunyi bukan cuma menjadi indikator jalannya roda pembuatan barang.
Hal tersebut juga menjadi bukti nyata bahwa bisnis skala kecil yang dirintis dengan ketekunan mampu mendatangkan nafkah bagi khalayak luas.
Tekad kokoh untuk memajukan sektor UMKM ini turut memperoleh sokongan penuh dari pihak otoritas daerah.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Batang, Anis Rosidi, mengutarakan bahwa sektor UMKM merupakan satu di antara urat nadi bagi kesehatan ekonomi di daerah.
Pihak pemerintah daerah, sebut dia, berkomitmen penuh memberikan stimulan bagi pelaku UMKM agar terus tumbuh melalui optimalisasi implementasi teknologi digital.
“Usaha mikro kecil dan menengah merupakan salah satu urat nadi roda perekonomian daerah. Selain itu, UMKM juga sebagai sarana menekan laju inflasi daerah,” katanya.
Pihak eksekutif menaruh harapan besar agar ke depan bakal kian banyak pelaku UMKM tangguh seperti Hanafi yang sanggup menciptakan lapangan pekerjaan, memangkas angka pengangguran, sekaligus menggerakkan geliat ekonomi masyarakat di tingkat daerah.